PT Garam (Persero) menggaet PT Pertamina (Persero) untuk mengolah limbah yang dihasilkan oleh Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan untuk dijadikan garam industri. Proyek ini menelan modal Rp 7 triliun.
RDMP Balikpapan dibangun oleh anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional yaitu PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, mengatakan KPB Balikpapan mengambil air laut untuk kebutuhan operasional kilang terbesar di Indonesia tersebut.
“Selama ini air garamnya itu dibuang untuk dinetralisir, dimasukkan lagi ke air laut. Kita ambil air buangan tersebut untuk nantinya kita proses menggunakan teknologi MVR untuk kita jadikan garam industri kembali,” kata Indra dalam gelaran Bincang Bahari: Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Indra menjelaskan, pabrik ini bermodalkan Rp 7 triliun, termasuk investasi Danantara 30 persen. Pabrik direncanakan berkapasitas 1 juta ton.
Proyek bersama Pertamina ini menjadi proyek yang paling banyak menelan investasi dari total 7 proyek produksi garam yang digarap PT Garam tahun ini. Secara keseluruhan, 7 proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp 10 triliun.
Sebanyak 7 pabrik garam tersebut adalah fasilitas pengolahan garam kapasitas 109.842 ton per tahun, pembangunan pabrik pengolahan garam teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) berkapasitas 100.000 Mtpy di Gresik.
Lalu MVR Acwa Power pembangunan pabrik pengolahan garam teknologi MVR Kapasitas 400.000 ton per tahun di Gresik, pabrik Ca-mg: proyek pembangunan pabrik calcium-magnesium berbasis pemanfaatan bittern di Sampang.
Kemudian, rencana pembangunan pabrik garam industri kapasitas 80.000-160.000 ton per tahun di Sumenep dan Balikpapan dan Pabrik Garam Industri (Utilisasi Brine SWRO Kilang Pertamina Balikpapan).
“Dan kita sudah bersepakat, kita akan membutuhkan entitas baru untuk mengolah garam yang di Balikpapan itu. Bentuk PT baru nanti. Danantara sudah menargetkan agar yang dengan Pertamina ini bisa dilakukan groundbreaking (hilirisasi) di fase 2 di bulan April,” jelasnya.
Indra juga mengungkapkan ada pengusaha asal Madura yang berminat untuk berinvestasi membangun pabrik garam di Sumenep, Madura, sebesar Rp 300 miliar. Pabrik tersebut nantinya akan berkapasitas 160 ribu ton.
“Ada pengusaha asal Madura yang mau investasi. (Investasinya) Rp 300 miliar, dia selaku pengusaha tembakau awalnya, sekarang dia mau bermain di Garam. Yang Sumenep, kapasitas 160 juta,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, pabrik di Sumenep akan menggunakan teknologi MVR, yaitu pengambilan air dari tengah laut sejauh 3-4 km dari bibir pantai. Dia memastikan bahan baku garam tidak diambil dari pantai, sehingga kualitas akan terjamin.
Selain itu, operasional pabrik di Sumenep ini akan memanfaatkan hasil produksi garam dari petani garam rakyat yang dikoordinasikan melalui koperasi.
“Kampung Nelayan Merah Putih kan banyak sekali para petani-petani garam, yang nantinya petani-petani itu harapannya mereka itu membentuk koperasi. Yang sedang kita jajakin dengan Kementerian Koperasi,” jelasnya.





