Pekerja Kantoran Ramai-Ramai Tinggalkan Karier Bergengsi Gara-gara AI

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi sebagai alat bantu kerja, tetapi sudah menjadi faktor yang mengubah arah hidup banyak pekerja profesional. Di berbagai negara, pekerja kantoran mulai meninggalkan bidang lama mereka. 

Mereka lalu beralih ke pekerjaan manual atau vokasional yang dianggap lebih sulit digantikan teknologi, meski harus menerima gaji lebih rendah, jarak kerja lebih jauh, dan pekerjaan yang jauh lebih melelahkan secara fisik.

Baca Juga :
Disrupsi Digital Bagian dari Rantai Peradaban
Meutya Hafid: 229 Juta Pengguna Internet Bukan Sekadar Pasar, Platform Wajib Patuh Hukum RI

Fenomena ini mulai terjadi di Amerika. Salah satunya contohnya, Jacqueline Bowman. Ia adalah penulis lepas asal California yang sejak kecil bercita-cita menjadi penulis. Ia magang di koran lokal sejak usia 14 tahun dan mengambil jurusan jurnalistik di universitas. 

Setelah lulus, ia memang belum bisa hidup sepenuhnya dari menulis fiksi, tetapi tetap mendapat banyak pekerjaan menulis, terutama content marketing dan jurnalisme, hingga akhirnya menjadi freelancer penuh waktu di usia 26 tahun.

Namun situasi berubah drastis di 2024. Gelombang PHK dan penutupan media membuat pekerjaannya seperti mengering. Klien mulai membicarakan AI, bahkan ada yang menyebut jika sudah tidak membutuhkan penulis lagi. 

Ia kemudian ditawari pekerjaan sebagai editor konten buatan AI. Tarifnya dipotong sekitar setengah. Jika sebelumnya ia menerima misalnya US$2.000 atau setara Rp33.600.000, kini ia hanya mendapat sekitar US$1.000 atau setara Rp16.800.000. Masalahnya, waktu kerja justru berlipat.

“Sekarang saya harus memeriksa fakta setiap hal secara sangat teliti di dalam artikel. Dan setidaknya 60 persen isinya benar-benar dibuat-buat,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis, 12 Februari 2026. “Saya akhirnya menulis ulang sebagian besar artikel. Jadi sesuatu yang dulu butuh dua jam saat saya menulis sendiri sekarang butuh empat jam, dengan bayaran setengahnya,” katanya. 

Ia juga kerap dituduh menggunakan AI oleh klien, padahal ia menolak memakainya untuk menulis. Pada Januari 2025, ia bahkan tak lagi mampu membayar asuransi kesehatan sendiri. 

“Menulis tidak akan berhasil lagi untuk saya,” ujarnya. Ia pun memutuskan kembali kuliah untuk menjadi terapis pernikahan dan keluarga. Meski mengakui profesi itu tidak kebal AI, ia percaya masih banyak orang ingin ditangani manusia. 

Baca Juga :
IMF Peringatkan Gelombang 'Tsunami AI', Fresh Graduate Bisa Makin Sulit Dapat Kerja
Bursa Asia Ngegas Usai Kekhawatiran AI Mereda, Investor Tunggu Data Inflasi Tiongkok
Tetapkan WFA saat Lebaran, Pemerintah Imbau Perusahaan Tak Potong Jatah Cuti Tahunan Pegawai

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jakarta Teken MoU dengan BPKP, Pramono: Kami Persilakan Audit Tanpa Batasan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Saling Lapor Soal Bising Drum di Cengkareng: Pemilik Drum Mengaku Ada Ancaman
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Lestarikan Budaya Indonesia, Sendratari Sang Kala Nyimas Gandasari Siap Digelar di TIM
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
HYROX Training Club Indoor Pertama di Indonesia Resmi Diluncurkan di Sportfest Vol.2
• 21 jam lalugrid.id
thumb
KPK Periksa Plt Gubernur Riau, Cecar soal Aliran Duit Korupsi Abdul Wahid
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.