Penulis: Intan Kw
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri baja nasional menunjukkan kinerja yang semakin kuat dan berperan strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah dinamika perdagangan global dan tantangan kelebihan pasokan baja dunia, Pemerintah menegaskan komitmen untuk memperkuat daya saing industri dalam negeri melalui hilirisasi, perlindungan pasar domestik, serta percepatan transformasi menuju industri baja rendah karbon.
“Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen di atas rata-rata manufaktur dan PDB nasional,” kata Airlangga, dikutip dari siaran persnya, Kamis, 12 Februari 2026.
Kinerja positif tersebut, lanjut Airlangga, ditopang oleh konsumsi baja domestik yang meningkat dari 18,6 juta ton pada 2024 menjadi 19,3 juta ton pada 2025. Permintaan berasal dari sektor konstruksi yang terus berkembang, termasuk melalui Program Pembangunan 3 Juta Rumah, sektor manufaktur, serta sektor otomotif.
Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 16–17 juta ton per tahun dan tingkat utilisasi yang masih di bawah 60–70 persen, industri baja nasional memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan produksi dan memperkuat substitusi impor.
Selain itu, hilirisasi yang dijalankan secara konsisten turut mendorong peningkatan nilai ekspor. Komoditas fero-nikel menjadi salah satu unggulan dengan nilai ekspor mencapai USD14,94 miliar pada periode Januari–November 2025.
Pasar ekspor juga semakin terdiversifikasi, dengan Australia menjadi tujuan utama untuk produk barang dari besi dan baja senilai USD1,6 miliar, disusul Singapura dan Inggris, sementara RRT tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor lebih dari USD16 miliar.
“Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar, dan baja Indonesia telah memiliki kualitas dengan standar global,” tegas Airlangga.
Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan peningkatan signifikan. Investasi asing meningkat dua kali lipat dari USD8,05 miliar pada 2021 menjadi USD16,37 miliar pada 2025, dengan kontribusi terbesar berasal dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok. Namun demikian, tantangan global tetap perlu diantisipasi, termasuk potensi kelebihan pasokan baja dunia yang diperkirakan mencapai 2,5 miliar metrik ton pada 2025 serta meningkatnya tren proteksionisme.
Memasuki tahun 2026, isu dekarbonisasi dan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mendorong transformasi menuju Green Steel melalui adopsi teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF) yang mampu mereduksi emisi hingga 85 persen, guna memastikan daya saing baja Indonesia di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Dalam menghadapi praktik perdagangan yang tidak adil, Pemerintah memperkuat instrumen perlindungan industri melalui Bea Masuk Anti-Dumping pada sejumlah produk baja, pengetatan Lartas dan pengawasan impor melalui kewajiban Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor untuk 440 pos tarif besi baja, serta pemberlakuan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib guna menjaga kualitas produk yang beredar di pasar domestik.
Ke depan, Pemerintah akan terus mengoptimalkan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar belanja Pemerintah menyerap baja lokal, mendorong keberlanjutan insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk menjaga daya saing biaya produksi, serta membangun klaster industri baja yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan merapatkan barisan kerja sama dalam bentuk Indonesia Incorporated. Kita jadikan Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai basis produksi baja terkuat di Asia Tenggara,” tutur Airlangga.
Editor: Redaktur TVRINews





