FAJAR, MAKASSAR — Bagi sebagian masyarakat, mata juling atau strabismus kerap dipandang sebatas persoalan estetika.
Padahal, kondisi ini menyimpan dampak yang jauh lebih kompleks. Mulai dari gangguan penglihatan hingga tekanan psikologis yang memengaruhi rasa percaya diri penderitanya dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Menyadari hal tersebut, RS Mata JEC Orbita @Makassar menghadirkan program perdana Bakti Sosial Operasi Mata Juling gratis, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 JEC Orbita.
Program ini menjadi langkah awal JEC Orbita dalam memperluas akses layanan kesehatan mata yang bersifat korektif dan rehabilitatif, khususnya bagi pasien strabismus.
Dalam pelaksanaannya, JEC Orbita menargetkan lima pasien mata juling untuk mendapatkan tindakan operasi korektif tanpa biaya pada tahun 2026. Lalu 25 orang untuk pasien katarak selama 9-12 Februari.
Dokter Subspesialis Strabismus JEC Orbita @Makassar, dr. Vita Rahayu, Sp.M menjelaskan jika program ini diharapkan dapat membantu pasien tidak hanya memperbaiki fungsi penglihatan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri yang selama ini tergerus akibat stigma sosial.
“Strabismus bukan hanya berdampak pada penglihatan, tetapi juga pada aspek psikologis pasien. Banyak yang merasa minder karena sulit mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi. Padahal, kondisi ini dapat ditangani secara medis dan operasinya relatif aman,” ujar dr Vita.
Secara medis, kata dia, strabismus terjadi akibat gangguan koordinasi antara otak, otot, dan saraf penggerak bola mata sehingga kedua mata tidak sejajar.
Kondisi ini bisa bersifat menetap atau muncul pada waktu tertentu, dengan derajat penyimpangan yang bervariasi, bahkan bisa mencapai lebih dari 50 hingga 85 derajat pada kasus tertentu.
Melalui operasi korektif, otot mata akan disesuaikan kembali layaknya “mengukur baju” agar pas dengan kondisi masing-masing pasien. Prosedur ini bertujuan memperbaiki keseimbangan otot mata sehingga kedua mata dapat bergerak lebih selaras.
Selain operasi mata juling, JEC Orbita juga melanjutkan program bakti sosial operasi katarak yang telah menjadi agenda berkelanjutan selama bertahun-tahun.
dr. Vita Rahayu, Sp.M, menegaskan bahwa baik katarak maupun strabismus bukanlah kondisi yang harus diterima tanpa harapan. “Ini bukan semata penyakit bawaan yang tidak bisa diperbaiki. Dengan penanganan yang tepat, hasilnya bisa sangat signifikan,” ujarnya.
Tidak hanya berhenti pada tindakan operasi, seluruh pasien juga akan mendapatkan pendampingan pascaoperasi hingga masa pemulihan tanpa biaya tambahan. Pendampingan ini menjadi bagian penting untuk memastikan hasil operasi optimal dan berkelanjutan.
Ketua Panitia HUT ke-25 JEC Orbita, dr. Sultan Hasanuddin, Sp.M, menjelaskan bahwa skrining dilakukan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan tajam penglihatan, refraksi, serta kondisi kesehatan mata secara umum.
Pasien katarak yang dipilih merupakan mereka yang penglihatannya tidak lagi terbantu dengan kacamata dan telah mengalami gangguan signifikan.
“Dalam istilah awam, penglihatan pasien sudah tersisa sekitar 20 persen dan tidak dapat diperbaiki dengan alat bantu. Pada kondisi seperti inilah operasi katarak menjadi solusi terbaik,” jelasnya.
Katarak sendiri masih menjadi penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia, terutama pada kelompok usia di atas 50-60 tahun. Kendati dapat disembuhkan melalui operasi, tidak semua pasien memiliki akses terhadap layanan kesehatan mata yang memadai.
Tercatat, lebih dari 1.000 pasien telah terbantu melalui program operasi katarak gratis sebagai bentuk tanggung jawab sosial JEC Orbita kepada masyarakat.
“Pada tahun 2026, JEC Orbita menargetkan total 30 penerima manfaat, yang terdiri dari 25 pasien katarak dan 5 pasien strabismus,” ucapnya.
Seluruh pasien telah melalui proses skrining ketat yang dilaksanakan sejak 20 Januari 2026 untuk memastikan kelayakan medis sebelum tindakan operasi dilakukan.
Direktur Utama JEC Orbita @Makassar, Prof. Dr. dr. Habibah S. Muhiddin, Sp.M(K), menyampaikan bahwa peringatan 25 tahun JEC Orbita menjadi momentum untuk mempertegas komitmen dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kesehatan mata.
“Melalui bakti sosial ini, kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar layanan medis. Kami ingin memberi kesempatan kedua bagi pasien untuk kembali melihat dunia dengan lebih jelas, beraktivitas secara mandiri, dan menjalani masa depan dengan optimisme serta kepercayaan diri,” pungkasnya. (wis)





