Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya mengevakuasi Kartini, nenek berusia hampir 90 tahun yang selama puluhan tahun hidup sebatang kara di gubuk semi permanen di Jalan Mendut, Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Kini, Kartini telah ditempatkan di Griya Werdha milik Dinsos Surabaya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinsos Surabaya, Imam Mahmudi, mengatakan pihaknya mendatangi lokasi tempat tinggal Kartini pada Kamis (12/2) dan memastikan bahwa lansia tersebut memang tinggal seorang diri.
“Kami langsung datang ke lokasi, karena memang tinggal sendiri di situ, akhirnya kami bawa ke Griya Werdha,” ujar Imam.
Ia menjelaskan, Griya Werdha merupakan fasilitas gratis bagi warga terlantar dan tidak mampu yang tidak memiliki keluarga.
Awalnya, Kartini sempat menolak untuk dipindahkan karena merasa nyaman dengan tempat tinggalnya. Namun setelah dibujuk dan dijelaskan bahwa ia akan mendapat perawatan serta lingkungan yang lebih layak, Kartini akhirnya bersedia.
“Awalnya beliau kurang berkenan, mungkin sudah merasa nyaman di situ. Tapi setelah kami sampaikan bahwa di sana ada teman, lebih nyaman dan lebih layak, akhirnya alhamdulillah beliau mau,” kata Imam.
Pemindahan tersebut juga telah mendapat persetujuan dari keponakan Kartini. Menurut Imam, Kartini sudah tidak memiliki saudara kandung, suaminya telah meninggal dunia, dan ia tidak memiliki anak.
Sementara itu, keberadaan bilik sekaligus lapak jualan Kartini masih dikoordinasikan dengan pihak kecamatan.
“Tempat jualannya sedang kami koordinasikan dengan camat setempat, itu milik siapa dan bagaimana tindak lanjutnya,” ujarnya.
Di tempat barunya, Kartini mengaku merasa lebih nyaman.
“Kita sudah enak, nak. Dikasih makan, dikasih minum, dikasih kasur. Terima kasih ya,” ucapnya.
Hidup 30 Tahun di Gubuk 2x1 MeterSebelumnya, Kartini tinggal di bilik berukuran sekitar 2x1 meter yang terbuat dari kayu dan seng. Ruangan itu juga menjadi tempat ia berjualan air mineral dan minuman sachet untuk menyambung hidup.
Tanpa listrik, ia hanya mengandalkan lampu minyak dan senter kecil sebagai penerangan. Kehidupan itu dijalani selama kurang lebih 30 tahun sejak merantau dari Lamongan ke Surabaya pada 1990.
“Tidur juga di sini saja. Sudah 30 tahunan lebih,” kata Kartini saat ditemui sebelumnya.
Awalnya ia bekerja membantu orang lain, hingga kemudian diberi rombong untuk berjualan rokok di kawasan Pacar Keling. Setelah beberapa kali digusur, ia akhirnya menetap di Jalan Mendut hingga akhirnya dievakuasi oleh Dinsos.




