Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih meminta pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait untuk memasifkan promosi mengenai cagar budaya di Banyuwangi, Jawa Timur agar mampu mendunia.
Menurut Fikri, cagar budaya Banyuwangi memiliki potensi luar biasa untuk bersaing di kancah nasional maupun internasional, namun keberhasilannya bergantung pada strategi promosi yang masif serta pengelolaan yang menyinergikan kekuatan riset, bisnis, dan kebijakan pemerintah.
"Jika dikelola secara serius dan kolaboratif, cagar budaya Banyuwangi yang memiliki nilai ilmiah, ekonomi, dan kebangsaan ini akan segera mendapatkan pengakuan yang layak di panggung dunia," ujar Fikri di sela kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi, dikutip di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Pemkab Banyuwangi dan UGM kolaborasi ekskavasi Situs Macan Putih
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena era digital saat ini yang menuntut segala sesuatu untuk tampil ke permukaan agar mendapatkan perhatian dan dukungan kebijakan yang layak.
Menurutnya, narasi sejarah yang kuat tanpa dukungan publikasi yang luas akan sulit berkembang dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat luas.
Fikri menekankan pentingnya memviralkan potensi daerah sebagai strategi utama dalam menarik perhatian publik dan pengambil kebijakan. Ia berpandangan jika potensi besar Banyuwangi tidak dipublikasikan secara masif, dukungan keadilan anggaran dan program akan sulit didapatkan.
Dia mengatakan bahwa semua orang harus tahu bahwa Banyuwangi adalah pusat cagar budaya yang luar biasa.
"Banyuwangi menyimpan serangkaian situs vital yang menjadi kepingan penting dari narasi sejarah Nusantara, mulai dari jejak Kerajaan Blambangan hingga situs Kampung Inggris yang memiliki nilai strategis," kata Fikri.
Fikri menyayangkan bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang belum mengenal secara mendalam kekayaan sejarah tersebut. Ia menegaskan bahwa situs-situs yang membentang dari masa prasejarah hingga era kerajaan itu bukan sekadar warisan lokal semata, melainkan juga bagian tak terpisahkan dari identitas nasional yang harus dijaga bersama.
Fikri menyoroti perlunya keterlibatan aktif dunia usaha dalam menyulap cagar budaya menjadi destinasi wisata berbasis riset dan edukasi.
Baca juga: Komisi X DPR RI awasi kebijakan pelestarian cagar budaya di Banyuwangi
Baca juga: Menko AHY puji potensi wisata dan kekayaan budaya Banyuwangi
Ia mengambil contoh keberhasilan negara lain seperti Turki. Pengusaha dan pemerintah Turki berjalan berdampingan dalam mengembangkan situs sejarah, sehingga mampu mendatangkan devisa sekaligus merawat memori kolektif bangsa.
Fikri mengingatkan bahwa tanpa sentuhan bisnis, situs sejarah sulit berkembang, namun tanpa landasan riset dan regulasi yang kuat, pengembangannya tidak akan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Fikri mendorong terbentuknya sinergi sistematis yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media atau yang kerap disebut pentahelix.
Menurut Fikri, cagar budaya Banyuwangi memiliki potensi luar biasa untuk bersaing di kancah nasional maupun internasional, namun keberhasilannya bergantung pada strategi promosi yang masif serta pengelolaan yang menyinergikan kekuatan riset, bisnis, dan kebijakan pemerintah.
"Jika dikelola secara serius dan kolaboratif, cagar budaya Banyuwangi yang memiliki nilai ilmiah, ekonomi, dan kebangsaan ini akan segera mendapatkan pengakuan yang layak di panggung dunia," ujar Fikri di sela kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi, dikutip di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Pemkab Banyuwangi dan UGM kolaborasi ekskavasi Situs Macan Putih
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena era digital saat ini yang menuntut segala sesuatu untuk tampil ke permukaan agar mendapatkan perhatian dan dukungan kebijakan yang layak.
Menurutnya, narasi sejarah yang kuat tanpa dukungan publikasi yang luas akan sulit berkembang dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat luas.
Fikri menekankan pentingnya memviralkan potensi daerah sebagai strategi utama dalam menarik perhatian publik dan pengambil kebijakan. Ia berpandangan jika potensi besar Banyuwangi tidak dipublikasikan secara masif, dukungan keadilan anggaran dan program akan sulit didapatkan.
Dia mengatakan bahwa semua orang harus tahu bahwa Banyuwangi adalah pusat cagar budaya yang luar biasa.
"Banyuwangi menyimpan serangkaian situs vital yang menjadi kepingan penting dari narasi sejarah Nusantara, mulai dari jejak Kerajaan Blambangan hingga situs Kampung Inggris yang memiliki nilai strategis," kata Fikri.
Fikri menyayangkan bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang belum mengenal secara mendalam kekayaan sejarah tersebut. Ia menegaskan bahwa situs-situs yang membentang dari masa prasejarah hingga era kerajaan itu bukan sekadar warisan lokal semata, melainkan juga bagian tak terpisahkan dari identitas nasional yang harus dijaga bersama.
Fikri menyoroti perlunya keterlibatan aktif dunia usaha dalam menyulap cagar budaya menjadi destinasi wisata berbasis riset dan edukasi.
Baca juga: Komisi X DPR RI awasi kebijakan pelestarian cagar budaya di Banyuwangi
Baca juga: Menko AHY puji potensi wisata dan kekayaan budaya Banyuwangi
Ia mengambil contoh keberhasilan negara lain seperti Turki. Pengusaha dan pemerintah Turki berjalan berdampingan dalam mengembangkan situs sejarah, sehingga mampu mendatangkan devisa sekaligus merawat memori kolektif bangsa.
Fikri mengingatkan bahwa tanpa sentuhan bisnis, situs sejarah sulit berkembang, namun tanpa landasan riset dan regulasi yang kuat, pengembangannya tidak akan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Fikri mendorong terbentuknya sinergi sistematis yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media atau yang kerap disebut pentahelix.





