jpnn.com, JAKARTA - Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menyelenggarakan Talkshow & Roadshow Bedah Buku bertajuk "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan" di Hotel Remcy, Makassar, Selasa (10/2).
Acara terselenggara hasil kerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan
BACA JUGA: Roadshow Buku Ahmadiyah dan Indonesia di Makassar, Serukan Solidaritas Kemanusiaan
Acara yang menandai kiprah Ahmadiyah selama 100 tahun di Nusantara dihadiri oleh 100 orang terdiri dari tokoh agama, akademisi, aktivis kemanusiaan, dan perwakilan pemerintah.
Buku antologi yang dibedah merupakan karya yang merekam testimoni dari 100 tokoh nasional mengenai kiprah Ahmadiyah.
BACA JUGA: Peluncuran Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan
Amir Daerah JAI Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah, Ashraf Ahmad Muhiddin, menjelaskan kegiatan bertujuan untuk mempertegas komitmen JAI dalam merawat kebhinekaan melalui moto yang konsisten digaungkan: Love for All, Hatred for None.
Dia juga menjelaskan kehadiran Ahmadiyah di Indonesia Timur bukan sekadar eksistensi keagamaan, melainkan bagian dari denyut nadi masyarakat melalui berbagai bakti kemanusiaan inklusif, seperti donor mata rutin dan bantuan bencana.
BACA JUGA: Peringati Hari Lingkungan Hidup, Ahmadiyah Indonesia Tanam 10.500 Pohon di Bogor
“Meskipun sering menghadapi persekusi, Jemaat Ahmadiyah secara konsisten memilih jalan damai dan tidak pernah membalas dengan kekerasan, meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ujar Ashraf dikutip jpnn.com, Kamis (12/2).
Sementara itu, Akademisi terkemuka, Prof. Dr. KH. Afifuddin Harissa, Lc., M.Ag., menyoroti bahwa toleransi di Indonesia sering kali masih berhenti pada taraf slogan.
Dia menekankan perlunya dekonstruksi prasangka dan pembukaan ruang dialog akademik yang lebih sehat.
“Agama bagi pribadi mungkin sudah selesai, tapi keberagamaan, bagaimana agama bersentuhan dengan kepentingan manusia lain belum selesai. Kita perlu menyempurnakan sikap toleransi sebagai esensi dari ajaran Islam itu sendiri,” tegas Prof. Afifuddin.
Senada, tokoh pluralisme Prof. Dr. Qasim Mathar memberikan catatan kritis mengenai peran lembaga keagamaan dalam menjaga harmoni.
Dia menyerukan agar lembaga seperti MUI berani mereformasi diri dan mencabut sekat-sekat dogmatis yang menghambat persaudaraan kebangsaan.
Sementara itu, Christina J. Hutubessy, S.Th., M.Si. (Direktur Oase Intim) memaparkan pentingnya teologi kemanusiaan sebagai titik temu lintas iman.
“Semua agama memiliki potensi besar untuk menghargai martabat manusia. Tugas kita adalah memperbanyak aktor strategis dan narasi positif untuk melawan intoleransi,” ungkapnya.
Kegiatan itu juga menghasilkan risalah rekomendasi bagi perdamaian nasional yang lahir dari Makassar untuk Indonesia.
Melalui bedah buku ini, JAI berharap keberadaannya di satu abad kedua tetap menjadi katalisator bagi solidaritas dan harmoni di akar rumput, sekaligus mempertegas bahwa perbedaan tafsir adalah kekayaan intelektual bangsa, bukan alasan untuk diskriminasi. (mcr8/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Ahmadiyah Tekankan Nasionalisme & Kebersamaan Bangsa, Syafiq Hasyim Bilang Begini
Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Kenny Kurnia Putra




