Oleh Adi Arwan Alimin
Akademisi IHS Sulbar
Menyelam sambil minum air peribahasa yang dimaknai selama ini sebagai cara melakukan pekerjaan dalam satu waktu. Ungkapan ini sepertinya dapat menjadi jembatan kultural untuk membantu menjelaskan deep learning melalui bahasa yang lebih membumi. Dalam pengertian sehari-hari hal ini selalu dipahami sebagai strategi praktis, bahwa kita dapat melakukan satu tindakan yang dapat menuai dua hasil sekaligus.
Apakah ini selaras dengan esensi belajar mendalam? Yang ingin memandu pada pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai prioritas.
Menyelam sambil minum air memang sebuah simbol kedalaman dalam metafora kognitif. Kata menyelam dalam peribahasa ini mengandung makna masuk ke kedalaman, bukan hanya bermain di permukaan. Menyelam tentu menuntut keberanian, kesiapan dan keterampilan, amat berbeda bagi seseorang yang sekadar berenang di permukaan air. Dalam pendekatan pedagogi, ini paralel dengan perbedaan antara surface learning dan deep learning.
Nah, bagi guru, tentu tidak semua guru pandai berenang apalagi menyelam. Penulis ingin mengatakan belajar di permukaan ibarat berenang di permukaan kolam, kita mungkin bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh dasar kolam. Sementara belajar mendalam yakni menyelam, berani menghadapi tekanan, menjelajah struktur, mengurai bentang arus, dan menemukan sesuatu yang tersembunyi di dasar lalu membawanya menyentuh udara.
Bagaimana dengan minum air? Ini dapat dimaknai sebagai proses menerima asupan, menelan nutrisi bagi tubuh, atau menyegarkan otak. Dalam konteks pendidikan minum air berarti proses guru dalam menginternalisasi makna. Jadi menyelam sambil minum air, dapat ditafsir ulang sebagai; bila ia seorang guru, ketika ia berdiri di depan anak didiknya pun sesungguhnya sedang belajar menyerap esensi. Sebab sebelum mengajar anak-anak berenang, gurulah yang mesti lebih awal pandai menyelam.
Menurut penulis deep learning menekankan hubungan antar-konsep dan pembelajaran kontekstual. Saat siswa mengerjakan proyek lingkungan misalnya, mereka pada dasarnya sedang belajar sains (ekologi), matematika, bahasa, dan etika sosial. Dalam satu konteks yang nyata, saat menyelam mereka sedang meminum banyak disiplin ilmu sekaligus. Sejatinya pendidikan mendalam tidak memisah-misahkan pengetahuan secara kaku melainkan mengintegrasikannya.
Menyelam sambil minum air dapat menjadi metafora dari kearifan lokal untuk dapat menjelaskan bahwa proses belajar yang mendalam secara alami menghasilkan banyak capaian sekaligus, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendekatan atau strategi belajar pembelajaran ini untuk meningkatkan kualitas, literasi, dan numerasi siswa. Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyebut deep learning bukanlah kurikulum pendidikan tetapi pendekatan belajar (Kompas, 2024).
Namun dalam pemaknaan populer peribahasa ini kadang diartikan amat pragmatis untuk tidak menyebutnya oportunistik. Yakni cara mencari keuntungan ganda dalam satu tindakan, jika tanpa penajaman makna hal ini bisa disalahpahami sebagai multitasking yang dangkal dan bertentangan dengan deep learning. Jadi kita memerlukan redefinisi filosofi. Untuk menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar melakukan dua-tiga hal secara bersamaan, tetapi bagaimana cara mengintegrasikan proses, merebut makna juga meraih dampak.
Dalam deep learning, seseorang diharapkan tidak terpecah fokusnya, tetapi justru mendalami satu konteks secara utuh sehingga menghasilkan banyak lapis pembelajaran. Jadi ini bukan multitasking yang dangkal melainkan sebuah integrasi yang mendalam. Peribahasa ini jika dibaca secara reflektif amat menawarkan metafora kultural yang kaya.
Indonesia memang perlu merumuskan model yang lebih kontekstual yang memadukan kedalaman konseptual dengan realitas sosial budayanya sendiri.
Transformasi di tahun 2026 tidak hanya cukup mengganti istilah atau dokumen kurikulum, yang membutuhkan paradigma evaluasi, penguatan kapasitas guru, serta budaya sekolah yang makin mendorong rasa ingin tahu siswa. Terlebih keberanian berpikir kritis mereka.
Secara global mulai tampak jelas bahwa pembelajaran mendalam telah menjadi arah bersama sistem pendidikan yang relevan dengan masa depan. Negara-negara dengan performa pendidikan tinggi bergerak menjauh dari dominasi guru, dan menuju integrasi konsep, refleksi kritis, serta pemecahan masalah nyata. Perbedaanya hanya terletak pada strategi implementasi dan kesiapan sistem pendukung.
Deep learning merupakan peluang untuk membangun sistem pendidikan yang mampu membuat siswa benar-benar menyelami makna dan kaya atas pemahaman pada fenomena di sekitarnya. Sekaligus menghirup beragam kompetensi yang mereka butuhkan untuk masa depan mereka.
Pendekatan ini sejalan prioritas Mendikdasmen Abdul Mu’ti yang ingin mencetak generasi muda unggul di bidang sains dan teknologi, bermoral kuat, dan memiliki keterampilan relevan dengan perkembangan zaman. Utamanya keterampilan abad ke-21 atau 21st Century Skills yang telah dijelaskan di atas (Kenya Swawikanti, ruangguru.com,2024).
Lebih jauh, di Finlandia yang sering menjadi rujukan dan bahan diskusi di Indonesia, dikenal pembelajaran berbasis fenomena atau PhenoBL (Chris Drew, teachermagazine, 2020). Negeri itu mendukung PhenoBL sebagai pendekatan progresif terhadap kurikulum dan pedagogi yang sesuai untuk peserta didik abad ke-21. Pendekatan ini mendobrak pengotak-kotakan pengetahuan berdasarkan mata pelajaran yang mewakili transisi cara berpikir lintas kurikulum relevan tentang pengorganisasi pembelajaran di sekolah.
Strategi belajar memang memerlukan lebih banyak dimensi yang berbasis pendekatan fenomena dalam pendidikan atau di sekitar kehidupan faktual bagi peserta didik.
Gabungan dimensi itu akan menggabungkan perihal yang holistik, autentik, kontekstual, realitas sosial, dan pembelajaran kompleks yang terbuka. Dari sini guru atau pendidik dapat merancang modul atau rencana pembelajarannya yang inklusif.
Masyarakat Indonesia telah lama memahami nilai integrasi dan kedalaman makna. Tantangannya terletak pada bagaimana mentransformasi nilai tersebut ke dalam desain kurikulum, sistem evaluasi dan pelatihan guru yang konsisten. Deep learning harus dibumikan, bukan sekadar diterangkan.
Tak hanya cukup membaca teks tetapi mulailah intim pada konteks sekitar halaman sekolah. Analoginya, tidak hanya untuk menghilangkan dahaga, manfaat minum air putih untuk kesehatan sangatlah banyak (alodokter.com). Pun berfungsi memenuhi kebutuhan cairan tubuh sehingga setiap sel, jaringan, dan organ bisa berfungsi dengan baik. (*)





