FAJAR, JAKARTA – Kuba dilaporkan di ambang kelumpuhan. Ini akibat krisis pangan akut dan pemadaman listrik massal. Hanya menyala 30 menit per hari.
Situasi ini merupakan dampak langsung dari kelangkaan bahan bakar. Diperparah oleh blokade minyak serta sanksi ekonomi ketat dari Amerika Serikat atas perintah sang presiden, Donald Trump.
Kondisi kemanusiaan di Kuba kian mengkhawatirkan. Negara kepulauan di Karibia ini dilaporkan berada di titik nadir akibat kelangkaan bahan bakar ekstrem yang memicu krisis pangan akut serta pemadaman listrik massal.
Krisis ini bukan sekadar angka statistik, melainkan beban berat bagi warga sipil. Isben Peralta, seorang pemilik pizzeria kecil di Ciego De Avila, menggambarkan situasi di wilayahnya sebagai sesuatu yang “tidak manusiawi”.
Meski ia tinggal di dekat area distribusi bahan bakar, akses listrik yang ia terima sangat terbatas—paling lama hanya tiga jam dalam sehari.
Di wilayah lain dalam provinsi yang sama, kondisinya jauh lebih tragis. Warga harus bertahan tanpa daya selama 10 hingga 11 jam, dan hanya merasakan aliran listrik selama 30 menit per hari.
“Beberapa pengusaha kecil mungkin masih bisa makan, tetapi sangat banyak orang yang kini tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kondisinya sangat buruk,” ujar Peralta sebagaimana dikutip dari CBC News.
Sektor Penerbangan Lumpuh, Wisatawan Dipulangkan
Efek domino dari krisis energi ini merambah hingga ke gerbang internasional Kuba.
Bandara Internasional Jose Marti di Havana telah mengeluarkan peringatan resmi melalui Notice to Air Missions (NOTAM) bahwa stok bahan bakar jet hampir habis.
Kondisi ini memaksa sejumlah maskapai, termasuk maskapai asal Kanada, untuk menghentikan layanan penerbangan dan segera memulangkan wisatawan.
Dampaknya tidak hanya memukul sektor pariwisata, tetapi juga memutus harapan warga diaspora yang ingin mengirimkan bantuan.
Luis Escalona, seorang warga yang menetap di Winnipeg, Kanada, mengungkapkan kekecewaannya setelah penerbangannya ke Holguin dibatalkan.
Padahal, ia telah menyiapkan berbagai kebutuhan pokok dan rencana medis untuk ibunya di Kuba. “Listrik tidak ada, bensin hilang, dan sekarang penerbangan pun ditiadakan,” keluhnya.
Krisis energi Kuba diperparah oleh dinamika politik di Venezuela, pemasok minyak utama bagi Havana. Sejak pertengahan Desember, pasokan minyak mentah terhenti total menyusul tindakan keras AS terhadap pemerintahan Nicolas Maduro di Venezuela.
Mantan Duta Besar Kanada untuk Kuba, Mark Entwistle, menyoroti perlunya campur tangan internasional, khususnya dari Kanada untuk menangani aspek kemanusiaan.
Menurutnya, meskipun tekanan politik terus meningkat, bantuan kemanusiaan seperti pangan dan obat-obatan untuk anak-anak tidak seharusnya menjadi korban dari blokade tersebut. (*)





