Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan pasokan pangan berada dalam kondisi aman dan surplus menjelang Ramadan 2026. Importir diminta untuk tidak memainkan harga di tengah kondisi ini.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia saat ini telah swasembada untuk sembilan komoditas, mulai dari beras, jagung, cabai, hingga telur ayam.
“Kita sekarang sudah swasembada sembilan komoditas. Beras, jagung, jagung pakan tidak impor. Kemudian bawang merah, kemudian cabai, telur, ayam, kita sudah swasembada,” kata Amran dalam Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di YouTube Badan Pangan Nasional, Jumat (13/2/2026).
Berdasarkan neraca pangan nasional per 3 Februari 2026, Bapanas mencatat sebagian besar komoditas pangan strategis berada dalam kondisi surplus. Adapun, beras, gula konsumsi, cabai, hingga jagung berstatus swasembada.
Secara terperinci, ketersediaan beras mencapai 27,55 juta ton dengan kebutuhan 10,31 juta ton hingga April 2026, sehingga terdapat surplus 17,24 juta ton. Kemudian, gula konsumsi memiliki ketersediaan 1,54 juta ton dengan kebutuhan 944.000 ton, sehingga menyisakan surplus 595.000 ton.
Untuk cabai besar, ketersediaan tercatat 382.000 ton dengan kebutuhan 308.000 ton atau surplus 74.000 ton, sementara cabai rawit tersedia 409.000 ton dengan kebutuhan 304.000 ton sehingga surplus mencapai 105.000 ton.
Baca Juga
- Jelang Ramadan, Mentan Ancam Cabut Izin Perusahaan yang Jual Beras Cs di Atas HET
- Harga Pangan Hari Ini 12 Februari: Beras, Cabai hingga Telur Turun
- Selain Beras, Kemenhaj Dorong Ekspor Ikan untuk Jemaah Haji RI
Selain itu, komoditas jagung mencatat ketersediaan 10,75 juta ton dan kebutuhan 5,90 juta ton, sehingga terdapat surplus sebesar 4,85 juta ton. Disusul, minyak goreng memiliki ketersediaan 4,47 juta ton dengan kebutuhan 914.000 ton sehingga surplus 3,56 juta ton dan berstatus ekspor.
Data juga menunjukkan, daging ayam tersedia 2,07 juta ton dengan kebutuhan 1,34 juta ton atau surplus 728.000 ton, sedangkan telur ayam memiliki ketersediaan 2,55 juta ton dan kebutuhan 2,20 juta ton sehingga surplus 349.000 ton, keduanya juga berstatus ekspor.
Berikutnya, bawang merah tercatat tersedia 479.000 ton dengan kebutuhan 422.000 ton atau surplus 57.000 ton dan masuk kategori ekspor.
Ke depan, Amran menuturkan pemerintah akan mengejar sejumlah komoditas strategis yang saat ini masih bergantung pada impor, terutama kedelai dan bawang putih.
“Tinggal yang kita kejar berikutnya lagi yaitu kedelai, bawang putih. Ini yang kita kejar ke depan, termasuk sapi, peternakan sapi,” ujarnya.
Sejumlah komoditas yang masih berstatus impor meliputi bawang putih dengan ketersediaan 238.000 ton dan kebutuhan 170.000 ton hingga April 2026 atau surplus 68.000 ton. Lalu, kedelai dengan ketersediaan 1,21 juta ton dan kebutuhan 906.000 ton sehingga surplus 301.000 ton.
Selanjutnya, daging sapi/kerbau yang tersedia 410.000 ton dengan kebutuhan 235.000 ton atau surplus 175.000 ton. Gula industri juga masih berstatus impor dengan ketersediaan 1,81 juta ton dan kebutuhan 908.000 ton, sehingga surplus mencapai 904.000 ton.
Peringatan AmranAmran menyampaikan dengan kondisi pasokan yang melimpah, tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga pada momentum bulan suci Ramadan.
“Tolong yang impor, tolong jangan permainkan keadaan. Tolong sekali lagi, kalau aku dapatkan, Bapak berakhir menjadi importir. Kalau aku dapatkan, itu adalah terakhir Anda menjadi importir,” ucapnya.
Menurut Amran, pendekatan persuasif tidak lagi efektif. Untuk itu, pemerintah memilih langkah tegas melalui pencabutan izin hingga proses pidana bagi pelaku usaha yang melanggar.
“Tahun ini tidak ada kompromi lagi, mengimbau, izinnya kami cabut. Seluruh kewenangan kami, kami cabut. Pidananya kami serahkan ke Satgas,” tandasnya.





