Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas bangkit dari tekanan tajam pada sesi sebelumnya seiring aksi beli saat harga turun (buy on dip) menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinanti pelaku pasar.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (13/2/2026), harga emas di pasar spot naik 1,2% ke level US$4.981,36 per ounce. Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga emas sempat anjlok 3,2%, atau penurunan harian terbesar dalam sepekan.
Koreksi tersebut terjadi di tengah gejolak di Wall Street, ketika harga berbagai kelas aset tertekan akibat kekhawatiran dampak perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap kinerja laba perusahaan. Pelemahan emas juga diduga diperparah oleh aksi margin call dan perdagangan algoritmik.
Analis Zijin Tianfeng Futures Co., Liu Shiyao, mengatakan aksi jual saham di AS merembet ke pasar logam mulia karena sebagian investor dengan portofolio luas terpaksa melepas komoditas untuk menutup margin call.
“Dalam banyak kasus, investor memegang aset-aset ini secara bersamaan. Ketika satu sisi tertekan, sisi lainnya ikut menghadapi tekanan penebusan,” ujarnya.
Meski demikian, dia menilai dampaknya tidak akan terlalu signifikan karena emas masih berada dalam fase konsolidasi.
Baca Juga
- Harga Emas Antam Anjlok Lagi Hari Ini, Jumat 13 Februari 2026
- Harga Emas Dunia Hari Ini 13 Februari 2026 Stabil usai Sempat Drop 3,2%
- Harga Emas Antam Anjlok Rp43.000 Hari Ini (13/2), Dibanderol Rp2.904.000 per Gram
Strategis makro Bloomberg, Michael Ball, menambahkan bahwa tekanan kemungkinan diperburuk oleh aksi jual dari penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisers/CTA) yang menggunakan model komputer untuk berspekulasi terhadap pergerakan harga.
Sebagian pelemahan emas dan perak, yang sempat merosot hampir 11% pada Kamis, juga diperkirakan berasal dari aksi ambil untung (profit taking). Logam mulia sebelumnya sempat pulih dari aksi jual besar pada pergantian bulan dan sejak itu diperdagangkan dengan volatilitas tinggi. Meski bergerak fluktuatif, emas diperkirakan menutup pekan ini relatif datar.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan terbit Jumat waktu setempat, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap langkah suku bunga Federal Reserve (The Fed) berikutnya. Data ketenagakerjaan Januari yang solid pada pekan ini mengurangi urgensi bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga pada pertengahan tahun.
Suku bunga yang lebih rendah umumnya menjadi sentimen positif bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dalam wawancara dengan CNBC, manajer hedge fund David Einhorn menyatakan bahwa dia memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga jauh lebih besar dibandingkan proyeksi pasar saat ini. Dia juga menilai Kevin Warsh, yang dipilih Donald Trump untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell, berpotensi menghadirkan biaya pinjaman yang lebih rendah sesuai keinginan presiden.
Emas sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.595 per ounce pada 29 Januari, menandai puncak reli multi-tahun yang memanas setelah pembelian spekulatif meningkat sepanjang bulan lalu. Dalam dua sesi setelahnya, harga emas terkoreksi sekitar 13%.
Sejumlah bank masih memperkirakan tren kenaikan emas akan berlanjut tahun ini, dengan alasan faktor pendorong sebelumnya tetap bertahan, seperti ketegangan geopolitik, kekhawatiran atas independensi The Fed, serta pergeseran investasi dari aset tradisional seperti mata uang dan obligasi pemerintah.
BNP Paribas SA memproyeksikan emas mencapai US$6.000 per ounce pada akhir tahun, sementara Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. juga mempertahankan prospek bullish.
Adapun harga perak naik 1,9% menjadi US$76,70 per ounce. Platinum menguat 1,4% dan paladium bertambah 2,2%. Sementara itu, indeks dolar Bloomberg yang mengukur kinerja mata uang AS naik tipis 0,1%.





