Pulse Day 2026: Deteksi Dini Fibrilasi Atrial untuk Cegah Stroke

tvrinews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Jakarta

Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) bersama Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menggelar konferensi pers Pulse Day 2026 di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. Kampanye global ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung, khususnya fibrilasi atrium (Atrial Fibrillation/AF), yang menjadi salah satu penyebab utama stroke yang sebenarnya dapat dicegah.

Head of Pulse Day Task Force APHRS, Dicky Armein Hanafy, menjelaskan bahwa fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung paling sering ditemukan, namun kerap tidak terdiagnosis karena sering tanpa gejala.

“Risiko stroke pada pasien AF meningkat hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. Masalahnya, hampir 50 persen kasus tidak terdeteksi karena pasien tidak merasakan keluhan berarti,”kata Dicky dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta Barat, Jumat, 13 Februari 2026.

Secara global, beban penyakit ini terus meningkat. Pada 2050, prevalensi AF diproyeksikan mencapai 6–16 juta kasus di Amerika Serikat, 14 juta kasus di Eropa, dan hingga 72 juta kasus di Asia. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan prevalensi AF tertinggi di kawasan ASEAN.

Data InaHRS menunjukkan prevalensi AF di Indonesia mencapai 3,2 persen. Setelah disesuaikan dengan struktur usia penduduk, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 7 juta orang.

Founder gerakan MENARI, Prof. Yoga Yuniadi, menjelaskan bahwa AF terjadi akibat aktivitas listrik yang tidak teratur di serambi jantung, sehingga jantung tidak memompa darah secara efektif.

“Darah bisa menggumpal di serambi jantung, lalu terlepas dan menyumbat pembuluh darah otak. Karena gumpalannya besar, stroke yang terjadi biasanya berat, tingkat kecacatan dan kematiannya lebih tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, stroke akibat AF memiliki risiko kematian 30 hari pertama dua kali lipat dibandingkan stroke non-AF. Bahkan setelah satu tahun, risiko kecacatan dan kematian tetap lebih tinggi.

Yang mengkhawatirkan, hampir setengah penderita AF tidak merasakan gejala (silent AF). Sekitar 59 persen kasus tanpa gejala tersebut baru diketahui setelah terjadi stroke.

“Padahal, jika AF terdeteksi lebih dini dan diobati dengan tepat, risiko stroke bisa dicegah hingga 90 persen,” tegas Yoga.

Kampanye Global 1 Maret

Pulse Day diperingati setiap 1 Maret, merujuk pada fakta bahwa satu dari tiga orang berisiko mengalami gangguan irama jantung sepanjang hidupnya. Tahun 2026, puncak peringatan global akan digelar di Selandia Baru, bertepatan dengan APHRS Summit.

Selain APHRS, kampanye ini juga didukung organisasi internasional seperti European Heart Rhythm Association (EHRA), Heart Rhythm Society (HRS), Latin American Heart Rhythm Society (LAHRS), serta World Heart Federation.

Di Indonesia, kampanye ini diperkuat melalui gerakan MENARI (MEraba NAdi SendiRI), yakni ajakan kepada masyarakat untuk memeriksa denyut nadi secara mandiri sebagai langkah deteksi dini sederhana.

Caranya cukup dengan meletakkan dua jari di pergelangan tangan, menghitung denyut selama 15 detik (dikalikan empat) atau 30 detik (dikalikan dua), sekaligus merasakan apakah iramanya teratur atau tidak.

“Meraba nadi adalah jendela kecil untuk mengetahui kondisi jantung. Jika terasa tidak teratur, segera konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,”ungkap Dicky.

Selain metode manual, kampanye Pulse Day 2026 juga mendorong pemanfaatan wearable device seperti smartwatch yang kini banyak digunakan masyarakat. Perangkat tersebut memungkinkan pemantauan irama jantung secara real-time dan berkelanjutan di luar fasilitas kesehatan.

Namun, para dokter menegaskan bahwa temuan ketidakteraturan irama jantung dari perangkat digital tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis.

Melalui kolaborasi lintas negara dan dukungan media, APHRS dan InaHRS berharap kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini fibrilasi atrium semakin meningkat, sehingga angka stroke akibat AF dapat ditekan secara signifikan.

“AF adalah ancaman senyap, tetapi sebenarnya bisa dicegah. Kuncinya ada pada deteksi dini dan pengobatan yang tepat,” pungkas Yoga.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aksesmu Akselerasi Ekosistem Distribusi Warung, Sinergi Strategis Lewat Business Partner
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Prabowo Resmikan SPPG Polri di Palmerah Besok, Rekayasa Lalu Lintas Diberlakukan
• 19 jam laludisway.id
thumb
KSAD Jenderal Maruli Diangkat Jadi Warga Kehormatan Basarnas
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Proyek Pembangunan Infrastruktur Dukung Pengembangan SDM Nasional
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bank Jakarta Dukung Pelita Jaya Jakarta Arungi Musim Kompetisi Bola Basket 2026
• 18 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.