Stok dalam kondisi aman, sementara pengawasan harga diperketat agar gejolak tetap terkendali.
IDXChannel - Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri 2026, pemerintah memastikan masyarakat dapat beribadah dengan tenang tanpa dihantui kekhawatiran soal pangan.
Stok dalam kondisi aman, sementara pengawasan harga diperketat agar gejolak tetap terkendali.
Hal ini ditegaskan Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, saat mendampingi kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Kulon Progo, Kamis (12/2/2026). Menurutnya, dinamika harga menjelang hari besar adalah hal yang lazim, namun pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif sejak dini.
“Secara umum ketersediaan pangan aman. Memang ada fluktuasi harga pada beberapa komoditas seperti cabai rawit merah. Namun kondisi ini masih dalam kendali dan kami pastikan akan bergerak turun mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP),” ujar Ketut dikutip Jumat (13/2/2026).
Bapanas juga turun langsung ke sentra produksi, termasuk Sleman, untuk melihat langsung kondisi riil di tingkat petani. “Kami sudah berkoordinasi dengan petani. Kenaikan ini perlu diwajarkan, sehingga keseimbangan hulu hilir terjaga, jadi petani masih tetap mendapat keuntungan, pada saat yang sama konsumen juga memperolah bahan pangan dengan harga yang wajar,” katanya.
Untuk komoditas lain, Ketut memastikan relatif terkendali. Pemerintah telah membentuk Satgas Saber Pelanggaran Pangan yang bekerja bersama dinas pangan, perdagangan, pertanian, serta aparat penegak hukum guna mencegah penimbunan dan praktik yang merugikan masyarakat.
“Kami bergerak bersama di lapangan, memastikan distribusi lancar dan harga tetap dalam batas kewajaran,” ujarnya.
Adapun berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Februari 2026, stok pangan pokok strategis diperkirakan aman hingga akhir Maret 2026, atau setelah Ramadan dan Idulfitri.
Beras diproyeksikan surplus hingga 14,83 juta ton. Stok cabai besar mencapai 73,38 ribu ton dan cabai rawit 152,7 ribu ton. Daging sapi/kerbau tersedia 176,78 ribu ton, sementara daging ayam dan telur ayam ras surplus masing-masing 586,2 ribu ton dan 267,25 ribu ton. Gula konsumsi tercatat 768,77 ribu ton dan minyak goreng sekitar 3,56 juta ton.
Ketut menambahkan, dalam waktu dekat produksi cabai diperkirakan meningkat seiring masuknya masa panen di sejumlah daerah. Tambahan pasokan ini diharapkan mendorong harga turun bertahap. “Sedulur petani menyampaikan produksi mulai masuk menjelang Ramadan. Mudah-mudahan ini menjadi kabar baik dan harga semakin stabil,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menyampaikan apresiasi atas capaian pemerintah dalam menjaga cadangan pangan nasional. Ia menilai keberhasilan pemerintah menghadirkan stok tertinggi di awal tahun patut diapresiasi. “Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah karena mampu di awal tahun stok tertinggi dalam sejarah yaitu mencapai 3,32 juta ton. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Firman juga meyakini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menjaga ketersediaan dan distribusi pangan dengan baik. Menurutnya, potensi pertanian di wilayah seperti Gunungkidul, Kulon Progo, Bantul, dan Sleman merupakan basis produksi yang kuat dan beragam.
Meski demikian, ia mengingatkan agar semua pihak tidak lengah dalam menjaga stabilitas tersebut.
Ia menambahkan, tantangan ke depan perlu diantisipasi, terutama potensi anomali cuaca yang dapat memengaruhi produksi dan distribusi, termasuk risiko banjir dan kerusakan infrastruktur. Karena itu, kesiapan distribusi harus disiapkan dengan skenario tanggap darurat. “Perlu ada plan A dan plan B. Gudang kita rata-rata berada di perkotaan, sehingga distribusi ke desa dan kecamatan harus benar-benar diantisipasi agar tidak mengalami hambatan,” katanya.
(kunthi fahmar sandy)





