EtIndonesia. Pada tahun 2025, pemerintah Polandia secara resmi mengumumkan rencana ambisius untuk memperkuat kemampuan mobilisasi nasionalnya. Target yang dicanangkan adalah membangun kekuatan siaga hingga 500.000 personel, yang terdiri dari tentara aktif dan pasukan cadangan dalam status kesiapsiagaan tinggi.
Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap memburuknya situasi keamanan di Eropa Timur, khususnya sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Selain memperbesar kekuatan militer reguler, Polandia juga menargetkan hingga 400.000 warga sipil akan menerima pelatihan dasar pertahanan sebelum akhir 2026. Program ini mencakup:
- Prosedur evakuasi darurat
- Pertolongan pertama dalam situasi konflik
- Keterampilan bertahan hidup dalam kondisi perang
- Dukungan logistik dan pertahanan sipil
Kebijakan ini menandai transformasi pertahanan Polandia dari model profesional terbatas menjadi konsep “pertahanan total” yang melibatkan elemen masyarakat luas.
Keluar dari Konvensi Ottawa, Polandia dan Finlandia Ubah Doktrin Ranjau Darat
Pada 2025, Polandia secara resmi menandatangani dokumen untuk menarik diri dari Konvensi Ottawa, perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, dan penyimpanan ranjau darat anti-personel.
Pemberitahuan resmi telah disampaikan kepada PBB. Sesuai ketentuan internasional, penarikan diri tersebut akan berlaku efektif pada 2026. Artinya, mulai saat itu Polandia kembali memiliki hak hukum untuk memproduksi dan menyimpan ranjau darat anti-personel.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak, karena Konvensi Ottawa selama dua dekade dianggap sebagai salah satu pilar hukum humaniter internasional.
Sementara itu, Finlandia juga menyatakan niat serupa untuk mempertimbangkan keluar dari perjanjian tersebut, seiring dengan rencana peningkatan belanja pertahanan hingga sekitar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bagi Finlandia—yang berbatasan langsung dengan Rusia—kebijakan ini mencerminkan kekhawatiran serius terhadap potensi ancaman konvensional di perbatasan timur.
Sabuk Pertahanan Baltik Menghadap Rusia
Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lithuania—mempercepat pembangunan infrastruktur pertahanan perbatasan.
Dari Finlandia di utara, melintasi Estonia, Latvia, hingga Polandia di selatan, kini terbentuk jalur pertahanan militer yang semakin terintegrasi. Fokus utama meliputi:
- Penguatan sistem pertahanan udara
- Penempatan sistem anti-tank dan artileri jarak jauh
- Peningkatan latihan gabungan NATO
- Modernisasi sistem pengawasan perbatasan
Di kawasan Arktik, Inggris memperluas kehadiran militernya di Norwegia. Inggris berpartisipasi dalam misi NATO bertajuk NATO Arctic Sentinel, yang berfokus pada:
- Keamanan jalur laut Arktik
- Pemantauan aktivitas militer Rusia
- Perlindungan kepentingan energi dan pelayaran
Arktik kini dipandang sebagai front strategis baru dalam rivalitas NATO–Rusia.
Uni Eropa Setujui Paket 90 Miliar Euro untuk Ukraina
Pada 11 Februari 2026, Uni Eropa secara resmi menyetujui paket bantuan sebesar 90 miliar euro untuk Ukraina.
Rinciannya adalah:
- 60 miliar euro untuk kebutuhan pertahanan
- 30 miliar euro untuk dukungan fiskal makro
Secara formal, bantuan ini berbentuk pinjaman. Namun terdapat klausul penting: pelunasan hanya akan diwajibkan jika Ukraina menerima reparasi perang dari Rusia. Dalam praktiknya, skema ini mendekati bantuan tanpa syarat.
Keputusan tersebut memperlihatkan komitmen jangka panjang Eropa untuk menjaga stabilitas Ukraina, baik dari sisi militer maupun keberlangsungan sistem ekonominya.
Rencana Pemilu dan Referendum Perdamaian Ukraina
Pada hari yang sama, laporan Financial Times mengungkap bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, berencana mengumumkan:
- Pemilihan presiden
- Referendum perdamaian
Pengumuman tersebut dijadwalkan pada 24 Februari 2026, bertepatan dengan empat tahun invasi Rusia.
Targetnya, proses pemilu dan referendum selesai sebelum 15 Mei 2026, sejalan dengan dorongan dari Amerika Serikat agar kesepakatan gencatan senjata dapat dicapai sebelum Juni 2026.
Jika terlaksana, langkah ini dapat menjadi titik balik politik domestik Ukraina sekaligus instrumen legitimasi publik terhadap kemungkinan kesepakatan damai.
Eskalasi Serangan Ukraina ke Infrastruktur Energi Rusia
Di medan perang, intensitas serangan Ukraina terhadap infrastruktur Rusia meningkat tajam.
Pada malam 11 Februari 2026, serangan drone besar diluncurkan ke wilayah Volgograd, menargetkan fasilitas kilang minyak. Ledakan dan kebakaran besar dilaporkan terjadi.
Pihak Ukraina menyatakan bahwa serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia telah menurunkan kapasitas pengolahan minyak Rusia hingga sekitar 19%. Strategi ini bertujuan melemahkan pendapatan energi yang menjadi tulang punggung pembiayaan perang Moskow.
Selain itu:
- Sistem pertahanan udara Rusia jenis Tor dan Osa dilaporkan dihancurkan di wilayah Donetsk dan Kherson.
- Pesawat tempur MiG-29MU1 Ukraina menggunakan bom berpemandu ASM Hammer buatan Prancis untuk menghantam basis militer Rusia di Zaporizhzhia.
Serangan presisi ini menunjukkan peningkatan integrasi senjata Barat dalam strategi militer Ukraina.
Gangguan Komunikasi Rusia dan Isu Starlink
Di sisi Rusia, ribuan terminal Starlink yang digunakan secara tidak resmi dilaporkan diblokir. Gangguan ini menyebabkan terputusnya sebagian jaringan komunikasi di garis depan.
Selain itu, aplikasi Telegram dilaporkan mengalami pembatasan akses, memicu kepanikan di sejumlah unit tempur yang mengandalkan platform tersebut untuk koordinasi.
Gangguan komunikasi di medan perang modern dapat berdampak signifikan terhadap komando dan kontrol pasukan.
Amerika Serikat Masuk ke Kaukasus Selatan
Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan aktivitas diplomatiknya di Kaukasus Selatan.
Wakil Presiden AS melakukan kunjungan resmi ke Armenia dan membahas potensi kerja sama energi, termasuk kemungkinan kerja sama nuklir sipil berdasarkan “Perjanjian 123” — kerangka hukum kerja sama nuklir sipil AS dengan negara mitra.
Jika terealisasi, kerja sama ini berpotensi:
- Mengurangi ketergantungan Armenia pada Rusia
- Menggeser keseimbangan geopolitik di Kaukasus
- Memperluas pengaruh energi dan teknologi Barat di kawasan
Eropa Memasuki Fase Baru Keamanan Kolektif
Rangkaian langkah dari Polandia, Finlandia, negara-negara Baltik, Inggris, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat menunjukkan bahwa Eropa kini memasuki fase konsolidasi pertahanan jangka panjang.
Sabuk pertahanan dari Arktik hingga Eropa Timur semakin terintegrasi. Bantuan finansial untuk Ukraina diperluas. Infrastruktur energi Rusia menjadi target sistematis. Dan di saat bersamaan, diplomasi energi AS merambah Kaukasus.
Perang Rusia–Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional. Ia telah menjadi katalis pembentukan ulang arsitektur keamanan Eropa abad ke-21. (***)





