EtIndonesia. Seorang anak laki-laki bertanya kepada ibunya: “Ibu, nanti kalau sudah tua, Ibu ingin menjadi nenek Taiwan atau nenek asing?”
Sang ibu menjawab : “Kalau sudah tua tentu saja aku menjadi nenek Taiwan. Memangnya seperti apa nenek asing itu?”
Anak itu berkata : “Nenek asing, ketika masih muda, adalah seorang gadis cantik. Setelah lulus kuliah, dia mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Kemudian dia mengajukan pinjaman ke bank untuk membeli vila dan mobil, serta membeli berbagai perlengkapan hidup yang berkualitas tinggi.
Setiap bulan dia mencicil pinjaman, hidupnya terasa sibuk, penuh tekanan, tetapi juga penuh kepuasan dan kebahagiaan.
Karena memiliki tempat tinggal yang nyaman, mobil sebagai sarana transportasi, dan menikmati hampir semua kesenangan hidup, ketika dia berusia delapan puluh tahun dan mendekati ajal, kebetulan seluruh pinjaman banknya telah lunas. Dia pun menutup mata dengan tenang.”
“Sedangkan nenek Taiwan, ketika masih muda, juga seorang gadis cantik. Bedanya, setelah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap, dia mulai menabung tanpa henti.
Sepanjang tahun dia bekerja keras, hidup sangat hemat, tidak tega makan enak atau menikmati hidup. Akhirnya, pada usia delapan puluh tahun, dia meninggal dunia dalam keadaan sakit-sakitan.
Anak-anaknya menerima warisan berupa simpanan bank yang sangat besar— cukup untuk membeli rumah besar, mobil mewah, dan berbagai barang hidup yang mahal.
Anak-anak yang berbakti menggunakan sebagian tabungan itu untuk menyelenggarakan pemakaman yang megah dan terhormat. Namun selama hidupnya, nenek Taiwan hampir tidak pernah benar-benar menikmati apa pun.”
“Ibu, Ibu ingin menjadi nenek Taiwan atau nenek asing?”
Perenungan Hidup
Hidup ini singkat. Sudah seharusnya kita mengubah cara pandang terhadap kehidupan dan belajar menikmati hidup dengan bijaksana.
Adapun kemegahan upacara pemakaman setelah kita meninggal— apakah kita masih bisa merasakannya?
Wahai semua, kalau diganti menjadi “ayah” pun sama saja. Jangan terlalu bodoh. Hiduplah sedikit lebih banyak untuk diri sendiri.
Renungan
Pandangan hidup orang Barat dan masyarakat Tionghoa memang berbeda di beberapa hal mendasar.
Masyarakat Tionghoa cenderung mempersiapkan masa depan anak-anaknya, sementara orang Barat lebih menekankan kemandirian anak untuk memperjuangkan masa depannya sendiri.
Menurutku, baik model hidup “nenek Taiwan” maupun “nenek asing” sebenarnya sama-sama kurang ideal.
Yang satu terlalu hemat hingga hidup terasa pahit dan tanpa kenikmatan. Yang lain terlalu bebas dan santai, hingga jika suatu hari diterpa krisis ekonomi, hidup bisa langsung terjerumus ke dalam penderitaan berat.
Ketika pekerjaan hilang, utang menumpuk, dan sumber penghasilan terputus, rumah dan mobil pun terancam disita oleh hukum. Saat itu, hidup justru menjadi jauh lebih menyakitkan.
Apalagi dalam sepuluh tahun terakhir saja, kita telah mengalami gelembung internet, kejatuhan pasar saham, dan krisis keuangan global— tiga bencana ekonomi besar.
Sementara usia manusia rata-rata hanya sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun.
Karena itu, hidup hemat tetap penting, namun harus disertai keseimbangan dan kebijaksanaan.
Tidak terlalu mengekang diri, dan tidak pula hidup tanpa perhitungan.(jhn/yn)





