FAJAR, MAKASSAR-Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin kembali menghadirkan ruang diskusi intelektual melalui kegiatan bedah buku Senja di Tepian Waktu yang berlangsung di Aula LPPM Universitas Hasanuddin, Jumat (13/02).
Buku karya Meta Mahendradatta tersebut dibedah bersama sejumlah pembahas, di antaranya Yundini Husni Djamaluddin, Prof Muhlis Hadrawi, serta A Olle Mashurah. Diskusi berlangsung dinamis dengan sudut pandang yang menempatkan karya ini sebagai refleksi sosial sekaligus karya sastra yang peka terhadap dimensi kemanusiaan.
Dalam tanggapannya, Yundini menilai buku ini berhasil membangun narasi tentang lansia melalui pendekatan emosional yang halus. Relasi antar tokoh digambarkan tidak sekadar sebagai cerita personal, tetapi sebagai simbol perjalanan manusia yang terus bertumbuh hingga usia senja.
Menurutnya, pembaca diajak untuk melihat lansia secara lebih komprehensif. “Kita sering kali memandang lansia hanya dari kondisi fisiknya saat ini, padahal ada perjalanan panjang yang membentuk siapa dirinya,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan pembacaan buku tersebut dengan pengalaman hidupnya saat menempuh pendidikan di luar negeri. Baginya, kedalaman refleksi dalam buku ini memperlihatkan bahwa usia bukanlah akhir, melainkan kelanjutan dari proses menjadi manusia seutuhnya.
Sementara itu, Prof. Meta Mahendradatta membagikan kisah di balik proses kreatif penulisan bukunya. Ia mengaku telah memiliki kedekatan emosional dengan dunia tulis-menulis sejak usia dini. Sebagai pribadi yang cenderung pendiam, menulis menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana kontemplasi.
Ia mengenang masa kecilnya ketika proses menulis masih dilakukan secara sederhana di atas kertas. Kebiasaan tersebut terus berkembang hingga akhirnya melahirkan sejumlah karya. Buku pertamanya terbit pada 2009, disusul karya kedua pada 2017, dan kini buku ketiganya hadir pada 2025.
Menariknya, ia menyebut bahwa jeda antar karya tersebut tidak dirancang secara khusus, melainkan tumbuh mengikuti dinamika kehidupan. “Saya menulis ketika memang ada sesuatu yang ingin saya renungkan dan bagikan,” ungkapnya.
Selain novel, Prof. Meta juga pernah menulis kumpulan cerpen bersama anaknya pada 2003. Meski tidak seluruh anggota keluarga menekuni dunia literasi, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kreatifnya sebagai penulis.
Melalui kegiatan ini, FTP Unhas tidak hanya menghadirkan forum akademik, tetapi juga ruang dialog antargenerasi. Diskusi buku Senja di Tepian Waktu menjadi pengingat bahwa usia senja bukan sekadar fase penutup, melainkan bab yang tetap memiliki cerita, emosi, dan nilai yang layak dihargai. (*)
Athaya Najibah Alatas, Magang Fajar





