Penulis: Fityan
TVRINews-Jakarta
Presiden perintahkan KSP dokumentasikan prediksi kegagalan Makan Bergizi Gratis demi pembuktian target 82,9 juta penerima.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menginstruksikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, untuk mengumpulkan dokumentasi digital terkait kritik dan prediksi negatif terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi ini diambil di tengah upaya pemerintah memperluas jangkauan program pemenuhan gizi nasional yang ditargetkan menyasar puluhan juta jiwa.
Dalam peresmian 1.700 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026 Presiden menegaskan pentingnya memiliki catatan rekam jejak digital sebagai bahan evaluasi dan pembuktian di masa depan.
"Pak Qodari, tolong dikumpulkan video klip yang meramalkan kita pasti gagal. Ini harus ada rekam digitalnya. Insyaallah kita mencapai target 80 sekian juta.
Saya ingin melihatnya secara berkala," ujar Presiden Prabowo.
Menepis Tudingan Negatif
Dalam pidatonya, Presiden juga merespons narasi yang menyebut program ini sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat bangsa.
Dengan nada emosional namun terukur, mantan perwira tinggi militer tersebut menegaskan bahwa komitmennya terhadap rakyat telah teruji sejak masa dinas militernya.
Ia menyatakan bahwa pengabdiannya di sisa usia ini sepenuhnya didedikasikan untuk keselamatan rakyat, bukan untuk merendahkan mereka.
"Sisa hidup saya hanya untuk menyelamatkan rakyat. Ini kehormatan bagi seorang prajurit. Kita buktikan bersama melalui hasil kerja nyata," tambahnya.
Ekspansi Agresif Target Gizi
Sejak diluncurkan secara resmi pada 6 Januari 2025, program MBG menunjukkan akselerasi yang signifikan.
Data terbaru pemerintah mencatat:
Penerima Manfaat:
- Mencapai 60,2 juta jiwa (anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui).
- Target Akhir 2026: Diproyeksikan menyentuh angka 82,9 juta penerima.
- Infrastruktur: 23.000 SPPG telah beroperasi, termasuk yang dikelola oleh Polri sebagai dapur utama.
Presiden memberikan perbandingan skala bahwa jumlah penerima saat ini setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan setiap hari, atau sepuluh kali lipat dari populasi Singapura.
Langkah pendokumentasian kritik ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan diri pemerintah dalam mengeksekusi kebijakan strategis nasional, sekaligus menjadi instrumen transparansi publik terhadap janji-janji politik yang sedang direalisasikan.
Editor: Redaktur TVRINews




