Mari “Menari” untuk Cegah Stroke

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Istilah menari atau meraba nadi sendiri dapat dilakukan sebagai upaya skrining awal dari masalah gangguan irama jantung. Dengan melakukan cara ini diharapkan dapat mencegah 60 persen kasus stroke di masyarakat.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga anggota Perhimpunan Ahli Aritmia Indonesia (Peritmi) Yoga Yuniadi, dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat (13/2/2026), menuturkan, menari atau meraba nadi sendiri merupakan cara sederhana namun efektif untuk mengenali tanda dari gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi.

Hal ini penting dilakukan karena hampir 50 persen kasus gangguan irama jantung tak bergejala. “Hampir 50 persen atau 15-46 persen kasus AF (atrial fibrasi) tak bergejala atau tidak merasakan apa-apa. Di antara yang silent (AF tanpa gejala) ini hampir 60 persen mengalami stroke sebagai gejala pertama. Jadi baru tahu ada AF saat stroke,” tuturnya.

Baca JugaMenjaga Irama Jantung lewat Sentuhan Ponsel
Baca JugaKelainan Jantung, Pembunuh Karier Pesepak Bola

Hasil studi studi tahun 2023 terhadap sekitar 10.000 orang di 25 wilayah menunjukkan 3,2 persen di antaranya mengalami gangguan irama jantung. Dengan persentase itu, berarti ada sekitar tujuh juta kasus gangguan irama jantung di Indonesia. Angka gangguan irama jantung di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara, setelah Brunei Darussalam.

Gangguan irama jantung merupakan kondisi ketika terjadi banyak aktivitas listik pada serambi jantung, khususnya serambi kiri jantung. Kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya penggumpalan darah di pembuluh darah yang kemudian dapat memicu stroke.

Hampir 50 persen atau 15-46 persen kasus AF (atrial fibrasi) tak bergejala atau tidak merasakan apa-apa. Di antara yang silent (AF tanpa gejala) ini hampir 60 persen mengalami stroke sebagai gejala pertama. Jadi baru tahu ada AF saat stroke.

Yoga menyebutkan, kondisi gangguan irama jantung dapat meningkatkan risiko stroke sampai lima kali lipat. Selain itu, risiko kematian stroke pada pasien yang mengalami gangguan irama jantung meningkat dua kali lipat dibandingkan pasien stroke tanpa AF. Risiko kecacatan juga meningkat tiga kali lipat pada pasien stroke akibat AF.

Karena itu, deteksi dini gangguan irama jantung menjadi sangat penting untuk mencegah risiko stroke. Hal ini terutama karena faktor risiko dari gangguan irama jantung meningkat di masyarakat.

Faktor risiko

Adapun faktor risiko tersebut meliputi antara lain hipertensi, diabetes, kurang aktivitas fisik, usia di atas 65 tahun, dan perempuan. Pada orang dengan faktor risiko itu, kesadaran untuk melakukan skrining, termasuk dengan meraba nadi sendiri bisa dilakukan secara rutin.

Meraba nadi sendiri dapat dilakukan dengan menghitung denyut nadi dalam jangka waktu tersebut. Proses menghitung denyut nadi dapat dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dari jari tengah di pergelangan tangan atau leher.

Kemudian hitung denyut nadi selama 30 detik. Jumlah denyut yang terhitung dapat dikalikan dua untuk mendapatkan angka denyut nadi per menit. Denyut nadi normal 60-100 kali per menit. Jika denyut nadi kurang atau lebih dari itu, risiko gangguan irama jantung perlu diwaspadai.

Selain jumlah denyut nadi yang terlalu lambat ataupun terlalu cepat, denyut yang tidak teratur juga perlu diwaspadai. Jika tanda tersebut dirasakan, seseorang sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan dengan rekam elektrokardiogram (EKG).

Baca JugaStroke Berulang Bisa Terjadi pada Pasien dengan Hipertensi
Baca JugaStroke Mengancam Usia Muda
Baca JugaStroke Jadi Ancaman Kematian Utama, Fasilitas Kesehatan Perlu Ditingkatkan

“Meski bukan untuk menegakkan diagnosis, menari atau meraba nadi sendiri merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung yang tidak teratur. Dengan deteksi dini, atrial fibrilasi bisa diatasi sehingga risiko stroke bisa dicegah,” kata Yoga.

Untuk itu, warga berusia lebih muda dianjurkan meraba nadi sendiri. Penelitian di negara Barat menunjukkan, risiko AF paling tinggi terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Namun di Indonesia, kasus AF lebih banyak ditemukan pada usia produktif antara 40-60 tahun.

Head of Pulse Day Task Force yang juga Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) Dicky Armein Hanafy menuturkan, kesadaran warga untuk meraba nadi sendiri perlu terus ditingkatkan. Masih banyak orang belum memahami manfaat dari meraba nadi sendiri.

“Padahal mengenali irama jantung sendiri lewat gerakan menari secara rutin bisa menjadi cara sederhana untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung. Dengan mendeteksi sejak awal adanya gangguan irama jantung, penanganan medis bisa diberikan tepat waktu bahkan lebih cepat sehingga risiko stroke juga bisa dicegah,” ungkapnya.

Arloji pintar

Sekretaris Peritmi yang juga dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia elektrofisiologi RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Ardian Rizal menyampaikan, cara lain mendeteksi gangguan irama jantung yakni memanfaatkan perangkat pintar yang dipasang ditubuh atau wearable device seperti arloji pintar.

Baca JugaMerekam Kondisi Kesehatan Badan, dari Aplikasi hingga Jam Tangan Pintar

Pada beberapa arloji pintar telah disematkan sensor fotopletismograf (PPG) dan elektrokardiogram (EKG). Dua sensor itu bisa memungkinkan pemantauan irama jantung secara berkelanjutan. Sejumlah alat bahkan sudah bisa mengakumulasi irama jantung selama jangka waktu panjang.

Hal tersebut dapat membantu mendeteksi adanya gangguan irama jantung bersifat hilang timbul (paroxysmal) yang sulit terdeteksi lewat pemeriksaan konvensional. Meski begitu, teknologi tetap harus dipahami sebagai alat bantu yang memiliki keterbatasan.

“Perangkat ini (arloji pintar) berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penegakan diagnosis. Oleh karena itu, setiap notifikasi ketidakteraturan irama jantung dari wearable device harus disikapi secara bijak dan dikonfirmasi lewat pemeriksaan klinis oleh dokter jantung agar diagnosis bisa akurat,” ucap Ardian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AFC Champions League Two: Ratchaburi FC di Atas Angin, Persib Punya PR Besar untuk Comeback
• 23 jam lalubola.com
thumb
Jawaban Purbaya soal Rumor Misbakhun & Suahasil Masuk ke Bursa Calon Bos OJK
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
11 Cara Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan Agar Tidak Boros
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ramalan Zodiak 14 Februari 2026: Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, hingga Virgo
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Lowongan Kerja Terbaru Indofood Februari 2026, Buka Banyak Posisi
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.