Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Di kota kecil Zamora, Meksiko, dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa, mimpi besar terdengar seperti lelucon. Alfonso Garcia Robles pernah membuktikan bahwa anak daerah bisa meraih Nobel Perdamaian pada 1982.
Namun ketika seorang bocah kurus bernama Rafa Marquez meminta izin sekolah untuk absen 15 hari demi mengikuti turnamen regional, respons kepala sekolahnya dingin: lupakan sepak bola, itu tidak akan membawamu ke mana-mana.
Keputusan itulah yang menjadi titik awal salah satu karier bek terbaik dalam sejarah sepak bola Meksiko. Bertahun-tahun kemudian, Marquez mengenang momen itu dengan senyum sinis. Ia ingin berterima kasih atas nasihat yang tak bernilai itu, karena sepak bola justru memberinya segalanya.
Dari turnamen tersebut, Marquez direkrut akademi , klub yang kelak menjadi tempat awal dan akhir karier profesionalnya.
Debut pada usia 17 tahun, ia dibimbing Ricardo La Volpe, yang kemudian juga menanganinya di tim nasional. Empat bulan setelah debut profesionalnya, awal 1997, ia sudah dipanggil ke tim senior Meksiko.
Kariernya melesat. Empat musim di membawanya ke panggung Eropa sebelum tujuh tahun penuh trofi bersama mengukuhkan statusnya sebagai bek kelas dunia. Tenang, agresif, umpan presisi, serta tegas dalam duel satu lawan satu, ia adalah paket komplet.
Namun, kisah legenda Marquez benar-benar ditempa bersama Timnas Meksiko, El Tri.
Di Meksiko, istilah “laga kelima” punya makna emosional. Dalam tujuh edisi beruntun Piala Dunia dari 1994 hingga 2018, Meksiko selalu lolos fase grup, tetapi tersingkir di babak 16 besar. Selama 21 tahun karier internasional Marquez, timnya tak pernah mencapai pertandingan kelima itu.
Bulgaria, Jerman, Amerika Serikat, Argentina, Belanda, hingga Brasil silih berganti menjadi penghalang. Ironisnya, dalam periode tersebut hanya Brasil yang lebih sering lolos dari fase grup dibanding Meksiko. Konsistensi ada, terobosan tidak.
Marquez mencatat sejarah unik. Ia menjadi satu-satunya pemain yang menjadi kapten negaranya di lima Piala Dunia, yakni 2002, 2006, 2010, 2014, dan 2018.
Ketika tampil pertama kali pada 2002 di Korea dan Jepang, usianya baru 23 tahun. Pelatih Javier Aguirre menilai ia memiliki keseimbangan emosional, kualitas yang membuatnya didengar tanpa perlu berteriak.
Kariernya di Piala Dunia tidak pernah sepi drama. Kartu merah melawan Amerika Serikat pada 2002. Gol cepat ke gawang Argentina pada 2006 sebelum disamakan dan akhirnya kalah.
Gol penyeimbang saat menghadapi tuan rumah Afrika Selatan pada 2010. Kontroversi penalti melawan Belanda pada 2014. Hingga kekalahan 2-0 dari Brasil pada 2018 yang menjadi laga terakhirnya.
Pada 2018, di usia 39 tahun, ia turun dari bangku cadangan melawan Jerman. Ban kapten diserahkan oleh Andres Guardado, rekan lamanya sejak akademi Atlas. Momen itu mengunci namanya dalam buku sejarah sepak bola dunia.
Kini Marquez kembali ke Barcelona, menangani tim muda Barca Atletic. Ia mungkin tidak pernah membawa Meksiko ke “laga kelima”, tetapi ia membawa negaranya pada sesuatu yang tak kalah penting, yaitu konsistensi, identitas, dan kebanggaan.
Ada banyak tipe pemimpin. Sebagian berteriak. Sebagian lain berdiri tegak dan membiarkan kualitasnya berbicara. Marquez termasuk yang kedua. Sejarah tidak hanya mengingat mereka yang menembus batas, tetapi juga mereka yang terus mendekatinya tanpa pernah berhenti mencoba.
Sepakbola, seperti hidup, tidak selalu memberi akhir yang kita inginkan. Namun ia selalu memberi panggung bagi mereka yang cukup keras kepala untuk tetap percaya.
Editor: Redaktur TVRINews





