Kegiatan yang berlangsung pada 7 Februari 2026 ini melibatkan lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi. Untuk pertama kalinya di Indonesia, program tersebut diperluas dengan melibatkan peserta dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Perluasan ini menjadi bagian dari upaya Amazon dalam mempersiapkan talenta digital perempuan sejak usia dini, seiring percepatan transformasi digital yang semakin dipengaruhi perkembangan kecerdasan buatan.
Program ini menghadirkan sesi inspiratif dari sejumlah pemimpin perempuan di bidang teknologi, termasuk Riris Marpaung, CEO & Founder GameChanger Studio sekaligus Co-Founder Indonesia Women in Game, serta Cecilia Astrid Maharani, VP Data & AI di Mekari.
Selain itu, peserta mengikuti lokakarya bertema AI, gaming, robotika, dan coding dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek.
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, mengapresiasi kolaborasi antara Amazon dan PJI dalam menyiapkan talenta digital perempuan.
“Di Kementerian Komunikasi dan Digital, target kami pada tahun 2030 adalah membangun 9 juta talenta digital. Angka tersebut masih belum cukup, dan kami akan meningkatkan target menjadi 12 juta pada 2030,” katanya.
“Saya percaya kita perlu mendorong perempuan muda, seperti mereka yang hadir di Girls’ Tech Day, untuk menjadi bagian dari talenta digital masa depan kita. Kami ingin terus mendorong generasi muda dan yakin bahwa semakin banyak anak muda akan memahami manfaat teknologi,” tutur Menkomdigi.
“Teknologi merupakan sumber pemberdayaan yang kuat, bukan hanya bagi perempuan muda, tetapi juga bagi keluarga dan komunitas mereka, serta pada akhirnya bagi bangsa. Kami akan memperluas makna 3T menjadi Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga untuk mendukung mereka dan seluruh masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Relevansi program ini semakin terasa di tengah meningkatnya adopsi teknologi AI di Indonesia.
Berdasarkan laporan AWS dan Strand Partners, lebih dari 18 juta pelaku usaha di Indonesia atau sekitar 28 persen telah mengadopsi AI, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 47 persen pada 2025. Namun, sekitar 57 persen bisnis masih menghadapi kesenjangan keterampilan digital.
“Amazon senantiasa berkomitmen untuk membantu membimbing dan melatih talenta generasi masa depan. Indonesia tengah mempersiapkan diri dalam proses adopsi AI, dan kami mengadaptasi program tahun ini untuk meliputi AI dan teknologi serupa lainnya, sembari memperluas cakupan ke siswi SD,” ungkap Indonesia Regional Manager of Data Center Operations Amazon Web Services (AWS), Winu Adiarto.
“Tujuan kami adalah untuk memicu minat dan membangun rasa percaya diri dalam hal teknologi, sembari membangun rasa percaya diri sejak dini. Melalui Amazon Girls’ Tech Day, kami ingin memastikan bahwa anak perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memahami, menciptakan, dan memimpin di era AI,” jelasnya.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menilai program ini penting untuk mengatasi kesenjangan gender di sektor teknologi.
“Melalui kolaborasi dengan AWS di Amazon Girls’ Tech Day 2026, kami ingin menyiapkan talenta digital perempuan sejak dini. Selama ini, bidang AI, gaming, dan teknologi canggih kerap dipersepsikan sebagai ranah laki-laki,” ujarnya.
Karena itu, kami ingin mematahkan stereotip tersebut dengan memberikan pengalaman nyata dan relevan bagi siswi dari SD hingga SMA. Pendekatan komprehensif ini diharapkan dapat menumbuhkan minat, kepercayaan diri, dan aspirasi jangka panjang anak perempuan untuk berkarier di dunia teknologi,” jelas Utami.
Cecilia Astrid Maharani juga menyoroti pentingnya partisipasi perempuan di industri teknologi. Saat ini kurang dari 5% perempuan menjadikan teknologi sebagai pilihan karier utama mereka.
“Tidak ada batasan bagi perempuan untuk terlibat di dunia teknologi karena keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna, dan menjadi tanggung jawab kita untuk terus meningkatkan standar di industri ini,” ucap Cecilia.
Hal senada disampaikan Riris Marpaung yang melihat sektor gaming sebagai ruang karier yang semakin terbuka. Dia sangat mengapresiasi upaya Amazon dan Prestasi Junior Indonesia dalam mengenalkan profesi ini kepada pelajar SMA.
“Karya game buatan talenta Indonesia semakin diakui di pasar global dan bahkan meraih penghargaan internasional. Dunia gaming kini tidak hanya dipandang sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai keterampilan pribadi seperti komunikasi, empati, dan kepemimpinan,” tutur Riris.
“Diharapkan para pelajar dapat melihat sektor gaming dan teknologi sebagai ruang untuk belajar dan berkarya serta merasa percaya diri menjadikannya pilihan karier yang menjanjikan di masa depan,” tambahnya.
Melalui kolaborasi antara industri dan dunia pendidikan, AWS dan Prestasi Junior Indonesia menegaskan komitmen untuk memperluas akses pembelajaran teknologi bagi perempuan.
Secara global, Amazon menargetkan program Girls’ Tech Day dapat menjangkau lebih dari satu juta anak perempuan dan perempuan muda hingga tahun 2030.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)





