Dalam pertemanan, kesepakatan sering kali lahir bukan sebagai aturan kaku, melainkan sebagai penanda kepercayaan. Ia dibangun dari rasa saling percaya, dari keyakinan bahwa setiap orang akan menjaga komitmen bersama. Kami pernah memiliki kesepakatan seperti itu. Sebuah janji yang disepakati dengan niat baik, tanpa paksaan, tanpa curiga.
Namun pada satu titik, kami melanggarnya.
Bukan karena ingin mengkhianati, bukan pula karena meremehkan arti kesepakatan tersebut. Situasi yang kami hadapi tidak sesederhana hitam dan putih. Ada kondisi yang memaksa kami mengambil keputusan yang ternyata berseberangan dengan komitmen awal. Dan seperti kebanyakan kesalahan dalam relasi manusia, dampaknya tidak berhenti pada satu pihak saja.
Kami memilih untuk menjelaskan. Berbicara, dan mengakui kesalahan kepada salah satu teman. Tidak ada pembelaan berlebihan. Tidak ada upaya membalikkan keadaan. Kami sadar, apa pun alasannya, kesepakatan telah dilanggar.
Namun dari sana saya belajar, mengakui kesalahan tidak selalu berbanding lurus dengan pemulihan hubungan. Kata maaf, betapa pun tulusnya, tidak selalu mampu langsung memperbaiki keadaan.
Alih alih dialog lanjutan, yang muncul justru sindiran. Bukan secara langsung, melainkan lewat unggahan di media sosial. Kalimatnya tidak menyebut nama, tetapi cukup jelas arah dan nadanya. Setiap unggahan terasa seperti pengingat bahwa kesalahan kami belum selesai. Bahwa permintaan maaf belum dianggap cukup.
Perasaan yang muncul pun campur aduk. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang terus menghantui. Di sisi lain, ada kelelahan emosional karena merasa sudah berusaha jujur dan terbuka, tetapi tetap berada dalam posisi disudutkan.
Dari pengalaman ini, saya memahami satu hal penting. Luka dalam hubungan antarmanusia tidak bekerja dengan logika yang seragam. Bagi yang meminta maaf, pengakuan kesalahan adalah keberanian, bahkan kadang pengorbanan ego. Namun bagi yang merasa dilukai, kekecewaan memiliki ritme dan waktunya sendiri. Ia tidak bisa dipercepat hanya dengan satu percakapan atau satu penjelasan.
Media sosial kemudian memperumit segalanya. Ia menjadi ruang ekspresi yang terbuka, tetapi juga rawan disalahgunakan. Sindiran di ruang publik sering kali terasa lebih menyakitkan daripada teguran langsung. Bukan hanya karena ia ditonton banyak orang, tetapi karena ia menutup ruang dialog. Tidak ada kesempatan untuk menjelaskan ulang, tidak ada ruang aman untuk saling mendengar.
Saya tidak menulis ini untuk membela diri. Kesalahan tetaplah kesalahan, dan tanggung jawab tidak boleh dihindari. Namun saya percaya, kedewasaan dalam pertemanan tidak hanya diukur dari keberanian mengakui salah, tetapi juga dari cara mengekspresikan kekecewaan.
Mengungkapkan rasa sakit adalah hak. Tetapi cara mengungkapkannya menentukan apakah relasi masih punya peluang untuk sembuh, atau justru semakin menjauh. Teguran yang disampaikan secara langsung, meski pahit, sering kali lebih jujur dan menyembuhkan daripada sindiran yang digantung di ruang publik.
Dalam relasi apa pun, baik pertemanan, keluarga, maupun komunitas, konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Yang membedakan hubungan yang matang dan yang rapuh adalah cara mengelola konflik tersebut. Apakah kita memilih jalan sunyi yang penuh sindiran, atau jalan dialog yang mungkin melelahkan tetapi lebih manusiawi.
Saya juga belajar untuk menerima satu kemungkinan yang tidak selalu ingin kita hadapi. Bahwa tidak semua hubungan bisa kembali seperti semula. Ada kalanya kepercayaan yang retak tidak sepenuhnya pulih. Dan menerima hal itu pun bagian dari kedewasaan.
Namun setidaknya, kita masih bisa memilih satu hal. Tidak menambah luka baru di atas luka lama. Tidak memperpanjang rasa sakit dengan cara yang justru menggerus martabat satu sama lain.
Mengakui salah adalah langkah awal. Memberi waktu adalah bentuk kebijaksanaan. Dan memilih berbicara secara langsung, bukan menyindir di ruang terbuka, adalah wujud empati yang sering kita abaikan di era serba digital ini.
Pada akhirnya, pertemanan bukan soal siapa yang paling benar, melainkan tentang seberapa jauh kita masih mau saling memanusiakan, bahkan ketika kepercayaan sempat goyah. Dan mungkin, pertanyaan terpenting yang perlu kita ajukan bukanlah siapa yang salah, melainkan apakah kita masih ingin menjaga hubungan ini dengan cara yang lebih dewasa?





