Jakarta (ANTARA) - Indonesian Petroleum Association (IPA) memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik melalui program IPA Goes to Campus di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Jumat.
Kegiatan itu menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjawab tantangan transisi energi sekaligus mendukung optimalisasi sektor hulu migas untuk ketahanan energi Indonesia.
Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong dalam keterangan diterima di Jakarta mengapresiasi atas dukungan dan partisipasi universitas dalam berbagai program Youth@IPAConvex selama beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kolaborasi akademisi dan industri menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia energi yang kompeten dan siap menghadapi dinamika global.
"Kami berterima kasih atas partisipasi UGM. Kehadiran kami melalui program IPA Goes to Campus merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri energi," ujar Marjolijn.
Baca juga: IPA siap perkuat kolaborasi dengan pemerintah dukung ketahanan energi
Kegiatan itu juga dilakukan dalam rangka penyelenggaraan IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 mendatang yang akan dilaksanakan pada 20-22 Mei di ICE BSD, Tangerang, menandai penyelenggaraan ke-50 dengan tema 50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth.
Program Youth@IPAConvex juga kembali dihadirkan melalui berbagai agenda seperti student showcase, student visit hingga forum interaksi mahasiswa dengan pelaku industri energi global.
Dalam sesi berbagi pengetahuan, Wakil Ketua Komite Gas & LNG Diwya Satwika Paramartha menyoroti peran strategis gas bumi sebagai jembatan dalam transisi energi.
Berdasarkan proyeksi global, kebutuhan gas bumi diperkirakan terus meningkat pada dekade mendatang karena memiliki intensitas emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan batubara dan minyak bumi.
"Indonesia masih memiliki potensi gas bumi yang sangat besar, dan sejumlah temuan lapangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah gas bumi. Pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin dan keterlibatan generasi muda," jelas Diwya.
Baca juga: Presiden yakin Indonesia mampu menjadi pemasok energi dunia
Selain UGM, IPA juga mengunjungi UPN Veteran Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, anggota Komite Eksplorasi IPA Feriyanto menjelaskan eksplorasi minyak dan gas saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena karakteristik lapangan yang lebih dalam, bertekanan tinggi, dan membutuhkan teknologi yang semakin canggih.
Kondisi tersebut menuntut peningkatan inovasi serta kesiapan sumber daya manusia agar pengembangan energi tetap efisien dan berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Prof. Ali Awaludin menyambut positif kolaborasi tersebut.
Menurutnya, industri energi berada dalam fase transformasi yang membutuhkan talenta adaptif dan berpandangan global.
"Kami menjadikan isu transisi energi dan keberlanjutan sebagai fokus pengembangan riset. Sinergi dengan IPA memberi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami tantangan industri," ujarnya.
Ia mengharapkan kegiatan itu akan memperkuat jembatan antara akademisi dan pelaku industri serta sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor energi nasional yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Pesta migas dan rayuan Indonesia timur
Kegiatan itu menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjawab tantangan transisi energi sekaligus mendukung optimalisasi sektor hulu migas untuk ketahanan energi Indonesia.
Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong dalam keterangan diterima di Jakarta mengapresiasi atas dukungan dan partisipasi universitas dalam berbagai program Youth@IPAConvex selama beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kolaborasi akademisi dan industri menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia energi yang kompeten dan siap menghadapi dinamika global.
"Kami berterima kasih atas partisipasi UGM. Kehadiran kami melalui program IPA Goes to Campus merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri energi," ujar Marjolijn.
Baca juga: IPA siap perkuat kolaborasi dengan pemerintah dukung ketahanan energi
Kegiatan itu juga dilakukan dalam rangka penyelenggaraan IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 mendatang yang akan dilaksanakan pada 20-22 Mei di ICE BSD, Tangerang, menandai penyelenggaraan ke-50 dengan tema 50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth.
Program Youth@IPAConvex juga kembali dihadirkan melalui berbagai agenda seperti student showcase, student visit hingga forum interaksi mahasiswa dengan pelaku industri energi global.
Dalam sesi berbagi pengetahuan, Wakil Ketua Komite Gas & LNG Diwya Satwika Paramartha menyoroti peran strategis gas bumi sebagai jembatan dalam transisi energi.
Berdasarkan proyeksi global, kebutuhan gas bumi diperkirakan terus meningkat pada dekade mendatang karena memiliki intensitas emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan batubara dan minyak bumi.
"Indonesia masih memiliki potensi gas bumi yang sangat besar, dan sejumlah temuan lapangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah gas bumi. Pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin dan keterlibatan generasi muda," jelas Diwya.
Baca juga: Presiden yakin Indonesia mampu menjadi pemasok energi dunia
Selain UGM, IPA juga mengunjungi UPN Veteran Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, anggota Komite Eksplorasi IPA Feriyanto menjelaskan eksplorasi minyak dan gas saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena karakteristik lapangan yang lebih dalam, bertekanan tinggi, dan membutuhkan teknologi yang semakin canggih.
Kondisi tersebut menuntut peningkatan inovasi serta kesiapan sumber daya manusia agar pengembangan energi tetap efisien dan berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Prof. Ali Awaludin menyambut positif kolaborasi tersebut.
Menurutnya, industri energi berada dalam fase transformasi yang membutuhkan talenta adaptif dan berpandangan global.
"Kami menjadikan isu transisi energi dan keberlanjutan sebagai fokus pengembangan riset. Sinergi dengan IPA memberi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami tantangan industri," ujarnya.
Ia mengharapkan kegiatan itu akan memperkuat jembatan antara akademisi dan pelaku industri serta sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor energi nasional yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Pesta migas dan rayuan Indonesia timur





