Washington (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) memerintahkan kapal induk kedua untuk berlayar dari Laut Karibia menuju Timur Tengah, menurut laporan media setempat pada Kamis (12/2).
Langkah tersebut diambil saat Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran terkait program nuklirnya atau tidak.
Trump pada Selasa (10/2) mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirim gugus tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah guna mengantisipasi kemungkinan tindakan militer terhadap Iran jika negosiasi gagal.
Kapal induk USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali, yang sebelumnya telah tiba di Timur Tengah.
Washington dan Teheran menggelar perundingan tak langsung pada Jumat (6/2) lalu di ibu kota Oman, Muscat, di tengah ketegangan yang terus memanas antara kedua belah pihak setelah peningkatan kekuatan militer Washington di dekat Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam acara peringatan 47 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran pada Rabu (11/2) mengatakan bahwa "tembok kesangsian" yang diciptakan Barat menghambat perundingan nuklir dengan AS, seraya menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah pada tuntutan berlebihan dan agresi.
Langkah tersebut diambil saat Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran terkait program nuklirnya atau tidak.
Trump pada Selasa (10/2) mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirim gugus tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah guna mengantisipasi kemungkinan tindakan militer terhadap Iran jika negosiasi gagal.
Kapal induk USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali, yang sebelumnya telah tiba di Timur Tengah.
Washington dan Teheran menggelar perundingan tak langsung pada Jumat (6/2) lalu di ibu kota Oman, Muscat, di tengah ketegangan yang terus memanas antara kedua belah pihak setelah peningkatan kekuatan militer Washington di dekat Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam acara peringatan 47 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran pada Rabu (11/2) mengatakan bahwa "tembok kesangsian" yang diciptakan Barat menghambat perundingan nuklir dengan AS, seraya menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah pada tuntutan berlebihan dan agresi.




