Bisnis.com, SURABAYA – Industri perhotelan di Jawa Timur memproyeksikan kinerja pada kuartal I/2026 lebih positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun awal tahun biasanya identik dengan musim sepi (low-season).
Momentum bulan suci Ramadan, Tahun Baru Imlek, dan Lebaran yang berdekatan diprediksi dapat menjadi kontributor utama dalam peningkatan okupansi maupun pendapatan sektor makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B).
Cluster General Manager Gunawangsa Merr Surabaya Agus Marsudi menjelaskan biasanya periode awal tahun dikategorikan sebagai low-season sehingga sejumlah hotel biasanya menawarkan lebih banyak promo serta diskon untuk menarik minat dari para calon pelanggan.
Namun, tutur dia, situasi berbeda terjadi pada awal tahun 2026. Pada kuartal pertama ada sejumlah peristiwa penting serta hari libur nasional yang rentang waktunya cukup berdekatan. Salah satu strategi yang akan diterapkan adalah memperkuat sektor F&B untuk memaksimalkan momentum bulan suci Ramadan.
"Ketika kita beranjak ke 2026 ini di Q1 ya, kita agak sedikit bernafas lega karena bulan Februari ini kita sudah memasuki bulan Ramadan yang di mana kita akan switching strategi untuk memperkuat F&B kita. Sehingga dengan mengadakan buka puasa, revenue akan maksimal di F&B ya," tutur Agus Marsudi kepada Bisnis, Jumat (13/2/2026).
Lebih lanjut, Agus juga menjelaskan pihaknya juga berharap situasi di industri perhotelan tetap mendukung setelah berbagai perayaan hari besar yang terjadi hingga bulan Maret mendatang.
Baca Juga
- Ada 1,48 Juta Peserta PBI Jatim Dinonaktifkan, Dinsos: Mulai Reaktivasi Bertahap
- Bulan K3 Nasional 2026, TPK Perawang Perkuat Keselamatan Kerja
- Realisasi Belanja Negara Wilayah KPPN Malang Capai Rp1,33 Triliun
Menurutnya, industri perhotelan di Jawa Timur secara keseluruhan juga akan berusaha untuk memaksimalkan pendapatan mereka hingga akhir tahun 2026.
"Nah, tentu saja Januari, Februari, Maret. Setelah Maret itu tadi yang disampaikan ini akan naik ya. Revenue-nya akan kita genjot sampai akhir tahun. Nah, itu harapan kami," ungkapnya.
Sementara itu, General Manager Artotel Cabin Bromo Sugiono Tur Wibowo mengungkapkan hal senada. Berbagai macam promosi jelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan disebutnya akan digencarkan pihaknya guna memaksimalkan pendapatan sektor perhotelan pada awal tahun.
"Saat ini, hotel-hotel biasanya sudah mulai melakukan promosi terhadap Iftar. Kemudian Chinese New Year Dinner," bebernya.
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Jawa Timur ini juga menyebut selain berusaha menggenjot pendapatan dari sektor F&B, hotel-hotel juga tengah menjalankan strategi bisnis terhadap wisatawan domestik guna mengerek angka okupansi kamar. Khususnya pada masa perayaan Lebaran yang akan datang.
"Lebaran ini biasanya orang-orang pada berkumpul, datang dari luar kota, dan mereka transit di Surabaya. Itu lumayan membantu revenue di tempat kami di Surabaya," ungkapnya.
Meski demikian, pelaku usaha tetap harus mewaspadai sejumlah faktor eksternal yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Seperti kondisi daya beli masyarakat dan kebijakan pemerintah yang berpotensi memengaruhi sektor hospitality.
"Kita hanya berdoa supaya kebijakan pemerintah tidak ada yang nyeleneh-nyeleneh. Jadi, Insya Allah untuk ke depannya ini revenue-nya akan jauh lebih bagus," pungkasnya.




