Lubang Raksasa Muncul di Shanghai, Jalanan Amblas Seketika — Warga Berlarian, Otoritas Klaim Hanya “Kebocoran Lokal”

erabaru.net
14 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek, pada 12 Februari, sebuah proyek pembangunan metro yang masih dalam tahap konstruksi di Shanghai mengalami ambruk besar-besaran. Permukaan jalan tiba-tiba ambles dan membentuk lubang raksasa, membuat orang-orang di lokasi panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Meski insiden terlihat serius dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas konstruksi, pihak berwenang hanya menyebutnya sebagai “fenomena kebocoran lokal”, pernyataan yang kemudian memicu kritik luas dari publik.

Jalan Amblas Puluhan Meter, Air Memancar dari Bawah Tanah

Sejumlah video yang diunggah warganet menunjukkan bahwa ruas jalan di lokasi proyek tiba-tiba runtuh dan membentuk lubang besar sepanjang puluhan meter. Dua bangunan sementara di lokasi proyek, lampu lalu lintas di persimpangan, serta pagar pembatas proyek ikut terseret masuk ke dalam lubang.

Para pekerja terlihat berhamburan menjauh dari titik runtuhan. Setelah tanah amblas, terlihat pipa bawah tanah menyemburkan air dalam jumlah besar hingga membentuk kolam air di dasar lubang.

Pada malam 11 Februari, Shanghai Shentie Investment Co., Ltd. mengeluarkan pemberitahuan resmi yang menyatakan bahwa sekitar pukul 10.30 pagi, saat proyek pembangunan jalur kanan di antara Stasiun Qixin Road dan Stasiun Xinjian Road (Jalur Jiamin) sedang berlangsung, terjadi “fenomena kebocoran lokal”. Pihak perusahaan menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Namun, laporan media Caixin menyebutkan bahwa setelah upaya penanganan darurat semalaman, pada pagi 12 Februari lokasi tersebut justru mengalami amblesan lebih lanjut.

Sebagian ruas Jalan Qixin dan Jalan Lian di sekitar lokasi ditutup total untuk kendaraan bermotor, sepeda, maupun pejalan kaki. Gedung perkantoran, apartemen, dan rumah sakit di sekitar lokasi juga dievakuasi sementara.

Seorang staf dari Moore Dental Hospital cabang Minhang—yang berjarak kurang dari 100 meter dari lokasi—mengatakan bahwa rumah sakit menghentikan layanan sejak pagi 12 Februari dan menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas terkait.

Menurut peta dari Biro Perencanaan dan Sumber Daya Alam Shanghai, lokasi insiden merupakan bagian dari fasilitas pendukung Stasiun Qixin Road pada proyek Jalur Jiamin—tepatnya area ventilasi nomor 3.

Dugaan Masalah Teknis dan Konstruksi

Seorang pakar teknik terowongan yang dikutip media menyebutkan bahwa berdasarkan analisis video, kemungkinan terjadi kebocoran atau keretakan pada pipa utama di sekitar lokasi saat proses penggalian terowongan berlangsung. Hal tersebut memicu fenomena “piping” (aliran pasir dan air dari bawah tanah), yang kemudian menyebabkan tanah amblas.

Seorang profesional yang pernah bekerja di proyek metro Shanghai, menggunakan nama samaran Yang Sheng, mengatakan bahwa mesin bor terowongan (TBM) diduga mengalami kebocoran pada sambungan segmen beton pelapis terowongan.

Ia menjelaskan bahwa saat mesin menggali terowongan, segmen beton dipasang untuk membentuk struktur dinding. Jika celah antar-segmen bocor dan sistem penyegelan gagal, air tanah dapat masuk dan melemahkan struktur, hingga akhirnya menyebabkan keruntuhan.

Menurutnya, yang paling dikhawatirkan adalah masuknya air dalam jumlah besar sepanjang terowongan, yang berpotensi memengaruhi keseluruhan struktur. Ia memperkirakan kemungkinan lapisan kedap air tidak dikerjakan dengan baik—bisa karena masalah material atau karena proyek dikebut untuk mengejar tenggat waktu sebelum struktur benar-benar mengeras sempurna.

Yang juga menyatakan bahwa proyek-proyek semacam ini biasanya ditangani oleh perusahaan milik negara, dan jika tidak ada korban jiwa, sering kali kasus dianggap sebagai “masalah kecil” dan diselesaikan tanpa penjelasan mendalam.

Kritik Warganet: “Ini Bukan Sekadar Kebocoran”

Pernyataan resmi yang menyebut insiden tersebut hanya sebagai “kebocoran lokal” menuai kritik tajam dari warganet Tiongkok.

Beberapa komentar menyebut bahwa amblesan sebesar itu tidak mungkin hanya disebabkan kebocoran biasa. Ada yang menduga praktik penghematan biaya dengan mengurangi prosedur konstruksi, seperti tidak melakukan pengisian kembali lumpur setelah pemompaan air tanah, yang bisa menyebabkan tanah menjadi longgar dan berisiko runtuh.

Komentar lain menyinggung kemungkinan tekanan injeksi semen yang tidak memadai sehingga pasir bawah tanah hanyut dan membentuk rongga. Seiring waktu, tekanan dari atas membuat tanah akhirnya amblas.

Sebagian warganet juga mengkritik praktik subkontrak berlapis yang berujung pada penurunan kualitas proyek. Ada yang menyebut fenomena ini sebagai “proyek tahu tempe” (istilah populer untuk konstruksi berkualitas rendah).

Beberapa komentar lain menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur bawah tanah yang masif di kota besar seperti Shanghai berpotensi meningkatkan risiko jangka panjang jika pengawasan kualitas tidak ketat.

Insiden ini kembali memicu perdebatan mengenai standar keselamatan dan transparansi dalam proyek infrastruktur besar di Tiongkok, khususnya menjelang musim mudik dan perayaan Tahun Baru, ketika aktivitas masyarakat meningkat. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kuasa Hukum Ressa Rossano Sebut Denada Tidak Menyesal saat Minta Maaf
• 17 jam lalugenpi.co
thumb
Physiofix Tennis Cup 2026 edukasi cegah cedera di lapangan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Huawei berikan bocoran peluncuran global FreeBuds Pro 5
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Israr Megantara berhasrat bermain di luar negeri
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Aktor Sinetron Rezky Adhitya Rambah Bisnis Padel, Langsung Buka 5 Lokasi
• 6 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.