EtIndonesia. Para aktivis hak asasi manusia pada Kamis (12 Februari) merilis data terbaru yang menyebutkan bahwa setidaknya 7.002 orang telah tewas akibat penindasan aparat dalam gelombang protes nasional yang melanda Iran bulan lalu. Mereka juga memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
Karena komunikasi di dalam negeri Iran masih mengalami banyak kendala, proses verifikasi informasi berjalan lambat. Akibatnya, jumlah korban yang dilaporkan terus bertambah, memperparah ketegangan yang tengah dihadapi Iran baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.
Menurut laporan Associated Press, lembaga yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), mengandalkan jaringan aktivis di berbagai wilayah Iran untuk memverifikasi setiap kasus kematian. Organisasi ini sebelumnya dikenal memiliki rekam jejak yang cukup akurat dalam mendokumentasikan korban pada berbagai gelombang kerusuhan di Iran.
Sementara itu, pemerintah Iran hanya sekali mengumumkan angka resmi korban, yakni pada 21 Januari, dengan klaim sebanyak 3.117 orang meninggal dunia.
Negosiasi Nuklir dan Tekanan Internasional
Di tengah situasi domestik yang memanas, Iran juga tengah berupaya membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Namun hingga kini, kelanjutan putaran kedua perundingan antara Washington dan Teheran masih belum jelas.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang merupakan salah satu rival utama Iran di kawasan, secara langsung menyampaikan sikapnya kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Netanyahu mendesak agar Amerika Serikat mengambil sikap lebih tegas dalam setiap pembicaraan dengan Iran.
Trump kemudian menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa ketika Iran sebelumnya memilih untuk tidak mencapai kesepakatan, negara tersebut “menghadapi konsekuensi berupa serangan”. Ia menambahkan harapannya agar kali ini Iran akan bertindak lebih rasional dan bertanggung jawab.
Sebelum kembali ke Israel, Netanyahu menegaskan kepada wartawan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran tidak boleh hanya terbatas pada program nuklir semata. Ia menyatakan bahwa isu program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata proksi di kawasan juga harus menjadi bagian dari perundingan.
Tekanan Internal Semakin Meningkat
Di dalam negeri, pemerintah Iran juga menghadapi kemarahan publik yang terus menguat akibat tindakan keras terhadap para demonstran dan pembangkang.
Seiring keluarga korban mulai menggelar tradisi peringatan 40 hari kematian—yang dalam budaya Iran sering menjadi momentum penting untuk berkumpul dan menyuarakan duka serta protes—ketegangan diperkirakan berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Situasi ini menempatkan Iran dalam tekanan ganda: ketidakstabilan domestik yang memanas dan tekanan diplomatik yang semakin intens di panggung internasional. (jhon)
Sumber : NTDTV.com





