Beberapa orang tua mungkin beranggapan bahwa pembelajaran bahasa asing sebaiknya dimulai ketika anak sudah cukup dewasa agar lebih mudah berkonsentrasi. Namun, temuan ilmiah dari Harvard University mengungkap bahwa menunda pembelajaran bahasa asing hingga usia sekolah dasar dapat membuat anak kehilangan momentum pertumbuhan otak yang paling krusial.
Riset yang dirilis oleh Center on the Developing Child menunjukkan, usia prasekolah (3–6 tahun) merupakan fase paling optimal bagi anak untuk mengenal bahasa kedua, termasuk bahasa Inggris. Pada fase ini, jutaan koneksi saraf baru terbentuk setiap detik, membuat anak lebih mudah menyerap bahasa secara alami.
Studi yang sama juga menyebut bahwa melewatkan fase emas atau golden age ini dapat membuat proses belajar bahasa pada anak menjadi lebih berat di kemudian hari.
Mengapa Usia 3–6 Tahun Begitu Spesial?Secara biologis, otak anak usia prasekolah memiliki tingkat plastisitas yang sangat tinggi. Anak tidak mempelajari bahasa dengan menghafal aturan tata bahasa (grammar), melainkan melalui proses akuisisi alami. Hal ini serupa dengan cara mereka mempelajari bahasa ibu sejak lahir.
Di Indonesia, isu ini menjadi semakin relevan seiring kebijakan pemerintah tahun 2026 yang menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang sekolah dasar. Orang tua ditantang untuk mempersiapkan mental dan kemampuan dasar anak sebelum mereka memasuki kurikulum formal yang lebih padat.
Seorang pakar pendidikan anak menyebut, anak yang sudah terpapar bahasa kedua sejak usia dini memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Selain unggul dalam berbahasa, mereka juga memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah.
Tantangan “Passive English” di Era DigitalPaparan bahasa Inggris melalui gawai, seperti video atau gim, sering kali dianggap cukup untuk mengenalkan bahasa asing pada anak. Namun, riset menunjukkan bahwa pembelajaran satu arah tanpa interaksi aktif berisiko memunculkan fenomena “Passive English”. Artinya, anak mampu memahami apa yang didengar, tetapi kesulitan saat harus merespons atau berbicara.
Tanpa lingkungan yang mendukung untuk praktik langsung, potensi besar yang dimiliki anak di usia emas ini bisa terbuang sia-sia. Inilah yang menjadi kekhawatiran banyak orang tua: ingin anak jago bahasa Inggris, tapi tidak ingin mereka merasa tertekan oleh beban les yang membosankan.
Memaksimalkan Masa Emas Anak dengan Kursus bahasa InggrisUntuk membantu orang tua memanfaatkan masa emas anak, sejumlah lembaga pendidikan mulai mengembangkan program kursus bahasa Inggris sejak usia dini. Seperti program Dasher dari English Academy by Ruangguru, yang menyasar anak usia 3–6 tahun dengan metode pembelajaran berbasis aktivitas.
Program ini menitikberatkan pada penguasaan bahasa tanpa tekanan melalui beberapa metode khusus:
Metode Play-Based Learning: Mengadopsi prinsip bahwa dunia anak adalah bermain. Proses belajar bahasa Inggris dikemas lewat aktivitas fisik, lagu, dan cerita interaktif yang memicu rasa ingin tahu alami anak.
Interaksi Langsung dengan Master Teacher: Tidak hanya menonton layar, anak dilatih berinteraksi langsung dengan tutor (lokal dan native) yang ahli dalam membangun kepercayaan diri anak untuk berbicara sejak hari pertama.
Kurikulum Internasional yang Menyenangkan: Menggunakan standar kurikulum Cambridge yang disederhanakan, sehingga anak memiliki fondasi kuat untuk menghadapi pelajaran bahasa Inggris saat masuk SD nanti.
Lingkungan Sosial yang Positif: Anak belajar bersama teman sebaya, yang secara otomatis melatih kemampuan sosialisasi dan komunikasi mereka dalam bahasa Inggris secara organik.
Memberikan stimulasi bahasa sebelum usia 7 tahun bukan semata tentang mengejar prestasi akademik, melainkan untuk membangun fondasi komunikasi jangka panjang. Persiapan yang tepat akan membantu anak untuk unggul di sekolah dan membuka kesempatan bagi mereka di masa yang akan datang.




