Danantara Kelola Investasi Rp 202,4 Triliun untuk Empat Proyek Strategis

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara telah menyiapkan empat proyek investasi strategis dengan total nilai Rp 202,4 triliun pada 2026. Rencana tersebut menjadi bagian dari penguatan peran lembaga itu dalam mendorong hilirisasi industri dan memperbesar dampak ekonomi di dalam negeri.

Keempat proyek itu mencakup sektor energi berbasis pengolahan sampah, industri kimia dasar, agrikultur, dan infrastruktur digital. Manajemen menilai kombinasi sektor tersebut dapat menopang pertumbuhan sekaligus membuka ruang penciptaan lapangan kerja baru.

Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan, proyek pertama adalah pengembangan fasilitas waste to energy di 33 kota. Nilai investasi yang disiapkan untuk proyek ini mencapai Rp 84 triliun.

Baca Juga2026 Tahun Krusial SWF Indonesia

Menurut Rosan, program pengolahan sampah menjadi energi tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi listrik. Manfaat terhadap kesehatan masyarakat dan perbaikan kualitas lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan proyek.

“Tahap awal proyek telah dimulai pada November 2024. Selanjutnya, tahap kedua direncanakan berlangsung pada Maret 2026 yang ditandai dengan peletakan batu pertama di tujuh kota,” papar Rosan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, dikutip dari Kanal Youtube Perekonomian RI, Sabtu (14/2/2026).

Proyek kedua adalah pembangunan fasilitas caustic soda dengan nilai investasi Rp 13,4 triliun. Fasilitas ini diharapkan memperkuat pasokan bahan baku industri kimia di dalam negeri.

Rosan menyebut kebutuhan caustic soda nasional masih cukup besar dan sebagian dipenuhi dari impor. Melalui pembangunan fasilitas baru, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri diharapkan dapat dikurangi secara bertahap.

Adapun proyek ketiga, yakni Proyek Johor, merupakan investasi di bidang agrikultur senilai Rp 84 triliun. Investasi tersebut dipandang strategis untuk memperluas kapasitas produksi dan memperkuat rantai pasok komoditas pertanian. Ia menambahkan, proyek ini diharapkan memberi kontribusi jangka panjang terhadap portofolio investasi Danantara.

Proyek keempat adalah pengembangan platform pusat data atau data center bersama operator global dengan nilai Rp 21 triliun. Infrastruktur digital dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi dan layanan digital.

Hilirisasi lintas sektor

Selain empat proyek strategis tersebut, Danantara juga mengelola 20 proyek hilirisasi lintas sektor. Total nilai investasi keseluruhan proyek dalam antrean itu mencapai sekitar 26 miliar dollar AS atau setara Rp 437,65 triliun.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari jumlah tersebut, enam proyek telah memasuki tahap peletakan batu pertama pada 6 Februari 2026. Nilai investasi keenam proyek itu diperkirakan sekitar 7 miliar dollar AS. Sebanyak 14 proyek lainnya direncanakan menyusul sepanjang tahun ini. Nilai investasi yang disiapkan untuk tahap lanjutan itu mencapai sekitar 19 miliar dollar AS.

Rosan memperkirakan, seluruh proyek hilirisasi tersebut dapat menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja baru. Penciptaan kerja itu tersebar di berbagai wilayah seiring lokasi proyek yang tidak terpusat di satu daerah saja.

Baca JugaDanantara Mulai Fase Pertama Enam Proyek Senilai Rp 110 Triliun

Sejumlah proyek yang telah berjalan, antara lain, yaitu pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina dan aluminium di Kalimantan Barat. Proyek ini menjadi bagian dari penguatan rantai industri mineral di dalam negeri.

Danantara juga mengembangkan proyek bioavtur di Cilacap serta bioetanol di Banyuwangi. Kedua proyek tersebut diarahkan untuk mendukung transisi energi dan diversifikasi sumber bahan bakar.

Di sektor pangan, terdapat bisnis ayam terintegrasi serta pengolahan garam industri di Gresik. Keduanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan ketersediaan bahan baku industri.

Ke depan, hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) menjadi salah satu agenda prioritas. Proyek tersebut diharapkan dapat menjadi substitusi bagi impor elpiji.

Manufaktur modul surya terintegrasi dari bauksit dan silika turut direncanakan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan.

Selain itu, Danantara merencanakan produksi batang dan pipa tembaga, yang banyak digunakan untuk kabel listrik dan instalasi perpipaan industri. Perusahaan juga menyiapkan pengolahan aspal alam dari Pulau Buton agar bisa dipakai langsung untuk konstruksi jalan.

Di sektor logam, Danantara akan memproduksi baja dari pasir besi dan stainless steel berbasis nikel, yang menjadi bahan baku penting untuk konstruksi, otomotif, dan peralatan industri.

Manufaktur modul surya terintegrasi dari bauksit dan silika turut direncanakan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan. Di samping itu, pengolahan manganese sulfate juga disiapkan guna menunjang industri baterai.

Pengembangan kilang minyak domestik dan peningkatan kapasitas penyimpanan minyak bumi menjadi bagian dari agenda sektor energi. Langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional.

Di sektor kelautan dan perkebunan, Danantara menyiapkan proyek pengolahan rumput laut menjadi carrageenan, yakni bahan baku yang banyak digunakan dalam industri makanan dan farmasi. Selain itu, pengembangan produk turunan minyak kelapa sawit juga masuk dalam rencana investasi.

Pengolahan pala menjadi oleoresin, yakni ekstrak bernilai tambah untuk industri pangan dan kosmetik, turut disiapkan. Di bidang perikanan, Danantara juga merancang pengembangan ekosistem produksi ikan tilapia secara terintegrasi, dari hulu hingga hilir.

Rosan menegaskan, hilirisasi merupakan strategi untuk menangkap nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap keputusan investasi.

Target ROA

Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan tingkat pengembalian aset atau return on asset (ROA) sebesar 7 persen. Target tersebut diminta dapat dicapai dalam waktu relatif dekat.

Menurut Pandu, target itu menjadi standar baru dalam seleksi proyek investasi. Manajemen akan memperketat kriteria dan meningkatkan ambang batas kelayakan proyek.

Sekitar 50 persen portofolio Danantara saat ini ditempatkan pada obligasi dan ekuitas publik. Investasi di pasar modal dilakukan dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi yang wajar, serta tingkat likuiditas.

Baca JugaParadoks Profil Eksekutif Danantara

Dalam forum yang sama, Presiden Prabowo menegaskan target ROA 7 persen harus menjadi acuan kinerja lembaga tersebut. Ia menyebut laporan sementara menunjukkan hasil efisiensi dan reformasi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, Presiden menilai capaian itu belum menjadi titik akhir. Ia meminta manajemen terus meningkatkan performa agar pengelolaan aset negara memberikan hasil optimal.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan total aset yang dikelola Danantara mencapai sekitar 900 miliar dollar AS atau setara Rp15.152 triliun. Aset tersebut merupakan hasil konsolidasi sejumlah badan usaha milik negara.

Dengan target ROA 7 persen, tingkat pengembalian aset yang diharapkan mencapai sekitar Rp106 triliun. Target tersebut menjadi tolok ukur baru dalam pengelolaan investasi negara.

“Mutasi” ke Danantara 

Kementerian Keuangan mengumumkan pengalihan tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK), Masyita Crystallin, ke Danantara. Penugasan itu efektif berlaku sejak 11 Februari 2026.

Masyita akan menjabat sebagai Head of Economic & ESG Strategic Positioning di PT Danantara Investment Management (Persero), unit usaha investasi dari BPI Danantara. Penempatan tersebut disebut sebagai bagian dari penguatan sinergi kebijakan dan investasi.

Dalam keterangan tertulis, Kementerian Keuangan menyatakan langkah itu bertujuan mempercepat agenda pendalaman sektor keuangan nasional. Pemerintah berharap integrasi kebijakan ekonomi dan strategi investasi dapat berjalan lebih erat.

Baca JugaDanantara: Kejar Pertumbuhan Tinggi, Peran Dunia Usaha Diperkuat dan Pemerintah Lebih Proaktif

Selama menjabat sebagai Dirjen SPSK, Masyita terlibat dalam penguatan kerangka stabilitas sistem keuangan dan pendalaman pasar keuangan domestik. Ia juga berperan dalam harmonisasi kebijakan dalam kerangka Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Alih tugas tersebut mencerminkan upaya menjaga kesinambungan kepemimpinan dan tata kelola sektor keuangan. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk mendukung transformasi dan stabilitas sistem keuangan nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sukabumi Geger! Lansia Tewas Penuh Luka dengan Kaki dan Tangan Terikat di Sawah
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Samsung Posisikan Audio sebagai Gaya Hidup via Galaxy Buds Series
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Andai Presiden Datang Tiap Hari, Palmerah Selalu Rapi dan Bebas Macet
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Ketua Panpel PSM Amankan Pelaku Transaksi Narkoba di Kawasan Stadion BJ Habibie
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Ditetapkan Tersangka Narkoba, Ini Kronologi Penangkapan AKBP Didik
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.