EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (12 Februari) menyatakan bahwa Amerika Serikat “harus mencapai kesepakatan dengan Iran”. Ia memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan, konsekuensinya akan sangat berat bagi Teheran.
Trump juga menegaskan bahwa meskipun sebelumnya ia mengadakan pembicaraan panjang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, keputusan akhir mengenai kelanjutan negosiasi tetap berada di tangannya.
Trump: Jika Tak Ada Kesepakatan yang Adil, Iran Akan Hadapi Masa Sulit
Dalam sesi tanya jawab dengan media di Gedung Putih pada Kamis, Trump ditanya apakah setelah pertemuannya dengan Netanyahu ia mengubah sikap atau jadwal terkait perundingan dengan Iran.
Trump menjawab tegas bahwa Washington tetap harus mendorong tercapainya kesepakatan. Ia memperingatkan bahwa jika Iran menolak mencapai perjanjian, situasi akan menjadi sangat tidak menguntungkan bagi negara tersebut.
Trump mengatakan bahwa jika kesepakatan yang dicapai bukanlah kesepakatan yang sangat adil dan sangat baik, maka Iran akan menghadapi periode yang sangat sulit.
Ia juga memberikan kerangka waktu yang relatif jelas.
Menurut Trump, dalam waktu sekitar satu bulan ke depan Iran seharusnya sudah menyetujui kesepakatan tersebut, dan proses itu harus berjalan dengan sangat cepat.
Opsi “Tahap Kedua” Jika Negosiasi Gagal
Trump menegaskan bahwa dalam pertemuan dengan Netanyahu tidak pernah dibahas penghentian dialog. Ia menyatakan bahwa selama ia menilai langkah tersebut tepat, Amerika Serikat akan terus menjalin kontak dengan Iran.
Namun, jika negosiasi tidak membuahkan hasil, Washington akan memasuki “tahap kedua”.
Trump menyatakan bahwa tahap kedua akan sangat berat bagi Iran, meskipun ia berharap situasi tersebut tidak perlu terjadi.
Selain isu nuklir, Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus menyoroti program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.
Sambil Tekan Iran, Trump Longgarkan Regulasi di Dalam Negeri
Di tengah sikap tegas terhadap Iran dan situasi Timur Tengah, pemerintahan Trump juga mengumumkan langkah besar dalam kebijakan domestik.
Trump menyatakan pemerintahannya tengah meluncurkan apa yang ia sebut sebagai aksi deregulasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Menurutnya, pencabutan sejumlah regulasi akan menghemat triliunan dolar bagi konsumen Amerika dan menurunkan harga rata-rata mobil baru hampir 3.000 dolar AS per unit.
Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan deregulasi berskala terbesar dalam sejarah negara itu.
Pernyataan Trump ini memperjelas bahwa Washington tengah menggabungkan tekanan diplomatik terhadap Iran dengan agenda ekonomi domestik, sembari membuka kemungkinan langkah lanjutan jika negosiasi tidak berjalan sesuai harapan. (Jhon)





