Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), melepas ekspor 250.000 unit obat pereda nyeri merek Tylenol senilai Rp2,4 miliar ke Korea Selatan. Pelepasan ekspor ini berlangsung di PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) di Jakarta.
Direktur Jenderal PEN, Fajarini Puntodewi, mengapresiasi PT IHI atas kontribusinya dalam mendukung kinerja ekspor produk farmasi nasional.
Ia menilai ekspor produk obat Indonesia, khususnya ke Korea Selatan, menunjukkan semakin kokohnya daya saing industri farmasi dalam negeri.
“250.000 unit obat pereda nyeri dilepas ekspornya ke Korea Selatan. Ekspor produk farmasi seperti ini menjadi bukti nyata kemampuan produksi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Puntodewi dalam keterangan resmi, Sabtu, 14 Februari 2026.
Puntodewi berharap PT IHI terus memperkuat kapasitas produksi di Indonesia, serta meningkatkan transfer pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat daya saing industri farmasi Indonesia.
“Selain peningkatan volume produksi, penguatan transfer pengetahuan dan teknologi kepada pelaku industri domestik penting agar industri farmasi nasional semakin kompetitif,” kata Puntodewi.
PT IHI, bagian dari PT Johnson & Johnson yang beroperasi di bawah grup Kenvue Inc., juga menerima fasilitas kawasan berikat dari Ditjen Bea Cukai pada Desember 2025. Fasilitas ini memberikan kemudahan fiskal dan mendukung efisiensi biaya produksi serta ekspor.
Dalam kesempatan itu, Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai V, Derry Arifin menegaskan bahwa fasilitas kawasan berikat memberikan kemudahan kepabeanan dan restitusi pajak yang dapat mendukung daya saing perusahaan di pasar ekspor.
“Setelah memperoleh fasilitas ini, perusahaan berhak atas kemudahan kepabeanan dan perpajakan, termasuk restitusi pajak. Restitusi tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk pembelian bahan baku maupun mendukung kebutuhan operasional lainnya, sehingga meningkatkan daya saing perusahaan di pasar ekspor,” kata Derry.
Sementara itu, Direktur PT IHI, Teerasak Luewirat, mengapresiasi sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mendukung industri manufaktur dan ekspor. Ia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
"Semoga sinergi ini terus berkembang sehingga kita dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem perdagangan global,” tutur Teerasak.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor farmasi Indonesia mengalami pertumbuhan positif 7,63% dalam lima tahun terakhir (2021-2025). Pada 2025, Korea Selatan menjadi salah satu tujuan ekspor farmasi Indonesia terbesar, dengan kontribusi 10,24% terhadap total ekspor produk farmasi Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews




