Bisnis.com, JAKARTA — Mitsubishi Power Indonesia membidik peluang proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) besar di Jawa seiring dengan terbitnya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034.
Mitsubishi Power Indonesia merupakan perusahaan asal Jepang yang berfokus pada penyediaan solusi pembangkit listrik, ramah lingkungan, dan teknologi dekarbonisasi. Perusahaan ini mendesain, memproduksi, dan merawat infrastruktur energi terkemuka, seperti turbin gas (GTCC).
Presiden Direktur Mitsubishi Power Indonesia Nobuhiro Kawai menuturkan, dalam dokumen perencanaan tersebut terdapat sekitar tiga hingga empat proyek pembangkit besar di Pulau Jawa yang dinilai potensial untuk digarap.
“Kami ingin fokus pada pembangkitan, terutama PLTU besar di Jawa. Menurut RUPTL terbaru, ada tiga atau empat proyek di Jawa,” tutur Kawai dalam wawancara khusus dengan Bisnis dikutip Jumat (13/2/2026).
Adapun dalam RUPTL teranyar, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit dan storage sebesar 69,5 gigawatt (GW). Berdasarkan regional, penambahan pembangkit itu bakal dilakukan di sejumlah wilayah. Daerah dengan tambahan pembangkit paling tinggi adalah Jawa, Madura, Bali, yakni 33,5 GW dengan porsi energi baru terbarukan (EBT) 19,6 GW.
Kawai mengatakan, proyek terakhir yang digarap Mitsubishi Power di Indonesia adalah Muara Karang Blok 3 pada 2016. Sejak saat itu, belum ada tambahan proyek besar baru yang diperoleh perseroan di dalam negeri.
Meski demikian, Kawai menegaskan perusahaan tetap aktif memperkuat kesiapan teknologi dan kolaborasi riset selama hampir satu dekade terakhir. Langkah tersebut mencakup studi kelayakan, pengembangan solusi pembangkit rendah emisi, serta peningkatan kapabilitas rantai pasok.
“Selama 10 tahun terakhir banyak kemajuan dalam riset serta pengembangan pasokan peralatan pembangkit yang kami lakukan di Indonesia,” katanya.
Di tengah dorongan transisi energi dan peningkatan bauran EBT, Mitsubishi Power melihat pembangkit konvensional berkapasitas besar masih memiliki peran dalam menjaga keandalan sistem, khususnya di Jawa sebagai pusat beban nasional.
Saat ini, perusahaan mengklaim telah memasok sekitar 19 GW kapasitas pembangkit di Indonesia atau setara 25% dari total kapasitas terpasang nasional. Portofolio tersebut terdiri atas 65% turbin uap batu bara, 35% turbin gas, dan 5% turbin panas bumi.
Khusus turbin gas, Mitsubishi Power menguasai sekitar 40% pangsa pasar nasional, menjadikannya salah satu pemain utama dalam sistem kelistrikan Tanah Air.
"Konsumen kami yang utama adalah local company, PLN. Mengenai pangsa pasar, Mitsubishi Power memiliki pangsa pasar nomor satu," imbuh Kawai.
Lebih lanjut, Kawai menilai bahwa perencanaan proyek baru dalam RUPTL perlu didukung kepastian timeline, termasuk aspek perizinan, pembiayaan, serta kesiapan pasokan peralatan. Tanpa koordinasi yang matang, proyek pembangkit berisiko mengalami keterlambatan.
“Timeline itu sangat penting. Diperlukan koordinasi lanjutan yang matang untuk memulai proyek baru,” ujarnya.
Meski membidik proyek PLTU, Mitsubishi Power menyatakan tetap berkomitmen terhadap agenda dekarbonisasi nasional menuju target net zero emission 2060. Perusahaan tengah mengembangkan berbagai solusi teknologi, termasuk peningkatan efisiensi pembangkit dan opsi cofiring bahan bakar rendah karbon seperti amonia dan hidrogen.
Dengan pengalaman lebih dari lima dekade di Indonesia, Mitsubishi Power optimistis dapat kembali memperluas portofolio proyeknya, khususnya di Jawa. Hal seiring kebutuhan menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan percepatan transisi menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih.
Baca Juga
- Jaga Pasokan PLTU, ESDM Andalkan PKP2B & BUMN Penuhi DMO Batu Bara 75 Juta Ton
- PLN Belum Kantongi Kandidat PLTU Pengganti Cirebon-1 untuk Disuntik Mati
- ESDM Identifikasi 15 PLTU yang Berpotensi Dipensiunkan Dini

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F11%2F24%2Ff0d6845d-7bfe-496a-8574-dc8443848398.jpg)



