jpnn.com, SEMARANG - Kota Semarang dinilai telah mencapai level kematangan sosial ketika keberagaman menjadi nadi kehidupan yang memastikan seluruh warga dapat tumbuh dan sejahtera bersama.
Penegasan itu disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat menghadiri Gelar Tuk Panjang Pasar Imlek Semawis 2577 di Gang Gambiran, Jumat (13/2).
BACA JUGA: Wali Kota Agustina Lantik 42 Duta Pancasila Kota Semarang, Berharap Jadi Benteng Ideologi
Bagi Agustina, harmoni yang terjalin di Ibu Kota Jawa Tengah ibarat bunga yang terus menebar keharuman tanpa perlu haus akan validasi atau pujian dari luar.
Dia melihat bersisiannya Pasar Semawis dengan persiapan Pasar Dugderan sebagai bukti nyata akulturasi sudah menjadi sistem operasi harian dalam kehidupan masyarakat.
BACA JUGA: Imlek Semawis 2026 Tampilkan Harmoni Budaya dan Toleransi Warga Kota Semarang
Agustina berharap Kota Semarang tanpa harus dipuji, tanpa harus ditonton, keberagaman itu sudah menjadi perilaku sehari-hari.
"Di sini, ada kaum Tionghoa, Jawa, Melayu, hingga kelompok Arab Muslim di Kauman, mereka bersatu padu tinggal bersama untuk satu urusan: kesejahteraan. Keberagaman ini hadir dalam sapaan tetangga dan gotong royong warga di ruang publik,” ujar Agustina dalam keterangan resminya, Sabtu (14/2).
BACA JUGA: Gerak Cepat, Pemkot Semarang Siapkan Relokasi 15 Rumah Terdampak Tanah Gerak di Jangli
Wali Kota Agustina menarik benang merah antara stabilitas keamanan dengan produktivitas ekonomi melalui filosofi Warak Ngendok.
Menurutnya, simbol telur (ngendok) adalah pesan kuat bahwa kesejahteraan hanya bisa lahir dari situasi kota yang damai dan tanpa konflik.
“Kalau congkrah (bertengkar) tidak bakal bisa kerja. Kalau gelutan (berkelahi), ora iso metu ndoke (tidak bisa keluar telurnya). Maka, Semarang damai itu tujuannya supaya setiap orang dapat beraktivitas dengan tenang; yang jualan tenang, yang sekolah tenang, sehingga ekonomi bisa tumbuh. Toleransi terjaga berarti Semarang sejahtera,” tegas Agustina.
Kematangan sosial yang organik ini pun mulai menarik perhatian dunia internasional.
Agustina mengungkapkan langkah penataan kawasan cagar budaya, seperti Pecinan, Kampung Melayu, hingga Bustaman telah mendapat respon positif dari Duta Besar Prancis yang berencana mengarahkan wisatawan mancanegara untuk menjadikan kampung-kampung tematik di Kota Semarang sebagai destinasi utama.
“Kawasan Pecinan ini sudah siap menjadi destinasi wisata global. Kita ingin event seperti ini terus hidup dan tumbuh makin berkualitas. Ketika kita merawat budaya, ekonomi kita bergerak, kawasan cagar budaya makin hidup, dan generasi muda akan memiliki kebanggaan terhadap kotanya sendiri,” katanya.
Momentum bulan ini pun terasa kental dengan nuansa spiritualitas yang unik.
Bertemunya perayaan Imlek 2577 dengan persiapan Ramadan 1447 Hijriah serta masa Prapaskah umat Kristiani menciptakan sebuah simfoni religi yang langka.
Fenomena warga dari berbagai keyakinan yang menjalankan ibadah puasa dalam waktu yang bersamaan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial di Kota Semarang.
“Inilah Semarang, kita mendapatkan momentumnya. Ada tiga agama yang menjalani persiapan hari besar bersama-sama dalam sebuah simfoni spiritual yang asri. Doa kita bersama, semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun yang tinggal dan datang ke kota ini. Kuda datang, sukses menjelang,” pungkasnya. (mrk/jpnn)
Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi



