Cahyo Harjo Temukan Anak Stunting di Pusat Kota Surabaya

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Anggota DPRD Jawa Timur dari Komisi E Cahyo Harjo Prakoso menyoroti temuan kasus stunting saat reses di wilayah RW 7 Pacar Keling atau kawasan Gubeng Masjid, Surabaya, Sabtu (14/2).

Cahyo mengungkapkan dari aspirasi yang diterimanya, terdapat sedikitnya tiga anak yang masuk kategori stunting dan sekitar delapan anak dalam kondisi pra-stunting di kawasan tersebut.

BACA JUGA: Reses di Gubeng, Cahyo Harjo Minta Warga Aktif Laporkan Keluhan Layanan Publik

“Ini menjadi keprihatinan kami, bahkan ada ibu hamil yang berpotensi mengalami ancaman kesehatan,” kata Cahyo.

Menurutnya, temuan ini cukup ironis karena lokasi tersebut berada di pusat Kota Surabaya, bukan di wilayah pinggiran.

BACA JUGA: Pemkot Surabaya Petakan Kesehatan Warga Tingkat RW Tekan Stunting-Penyakit Degeneratif

“Ternyata untuk mencari permasalahan kesehatan, kita tidak harus ke pelosok. Di tengah kota pun masih ditemukan stunting,” ujarnya.

Cahyo meminta Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk meningkatkan monitoring dan evaluasi secara lebih konkret di lapangan.

BACA JUGA: 2 Inovasi UM Surabaya Tembus SIGMA Asia 2025, Angkat Isu Stunting & Kesehatan Mental

“Harus betul-betul mengawal kader kesehatan, meningkatkan koordinasi dengan ketua RW, RT, kelurahan, hingga puskesmas untuk memonitor kondisi masyarakat secara detail,” tuturnya.

Dia menilai penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi perlu kolaborasi semua pihak.

“Kolaborasi pentahelix harus ditingkatkan. Pemerintah, tokoh masyarakat, media, semua harus gotong royong agar stunting benar-benar bisa dihilangkan dari Surabaya,” katanya.

Cahyo juga menyoroti perbedaan data yang menyebut stunting di Surabaya hampir nol persen, namun di lapangan masih ditemukan kasus.

“Ini perlu disinkronkan kembali datanya. Jangan sampai ada klaim nol persen, tetapi faktanya masih ada anak stunting,” ujarnya.

Dia menegaskan dengan kemampuan fiskal dan potensi ekonomi Surabaya, seharusnya kota ini bisa menjadi contoh dalam penghapusan stunting.

“Surabaya tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Secara fiskal jauh lebih kuat, program bantuan juga banyak. Harusnya indeks kualitas hidup dan prevalensi stunting sudah jauh lebih baik,” tutur Cahyo.

Selain stunting, dia juga menyinggung pentingnya akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat.

“Tidak boleh lagi ada anak yang tidak bisa sekolah atau tidak mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Ini menjadi PR kita bersama,” pungkasnya. (mcr12/jpnn) 


Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga tambah 7,8 juta LPG 3 kg hadapi Imlek-Ramadhan
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
PSSI Pastikan FIFA Series Digelar di Stadion Gelora Bung Karno
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Rico Waas: Pemuda Harus Kritis dan Hadirkan Solusi Pembangunan
• 13 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Atta Halilintar Pastikan AI Bukan Ancaman Bagi Konten Kreator
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri berharap konflik Bupati-Wabup Jember selesai secara elegan
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.