Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - Mexico City, Meksiko
Di akhir laga, fans gembira menyerbu lapangan, merobek jersei dan celana. Pele salah satunya, dibawa di atas kursi tanpa baju.
Piala Dunia 1970 Meksiko adalah ledakan warna, dan tidak ada tim yang memiliki palet seindah Brasil. Ajang prestisius tersebut untuk pertama kalinya disiarkan langsung televisi secara penuh dengan teknologi warna ke seluruh dunia.
Gerakan balet dan keterampilan luar biasa para pemain Brasil yang mengenakan seragam kuning cerah dan biru kobalt ini menjadi lompatan besar yang berani ke dunia sepak bola baru yang gemilang. Di bawah arahan Mario Zagallo, penerus Joao Saldanha dan mantan rekan setim Pele pada Piala Dunia 1958 dan 1962, tim ini diberdayakan untuk memanfaatkan kecerdasan dan kreativitas mereka, serta kemampuan teknis yang memukau.
Berlimpahnya pemain nomor 10 berkualitas, Zagallo menemukan cara untuk menempatkan semuanya. Jairzinho dan Rivellino bermain di posisi sayap yang fleksibel, Tostao sebagai false nine, dan Gerson turun lebih dalam di lini tengah.
Di pusat semua itu adalah Pele, magnet bagi bola di lapangan dan bagi mata penonton di luar lapangan. Setiap sentuhannya sarat makna, setiap lari ke depan penuh niat dan kemungkinan.
Permainan Pele selalu bertumpu pada kontrol, kecepatan, kekuatan, dan visi, dan di Piala Dunia 1970 semua aspek itu berpadu sempurna dengan kematangannya sebagai pemain. Jika pada 1958 ia masih mentah, 1962 cedera, dan 1966 terbebani, di 1970 Pele matang, fit, bebas, dan fokus. Ini Pele versi murni, tanpa cela, dan memukau seperti belum pernah sebelumnya.
Laga pembuka menjadi jawaban keras bagi semua yang meragukannya, termasuk pelatih Cekoslovakia Jozef Marko, yang timnya sempat unggul lebih dulu. Namun kemudian menyesal menyebut Pele kekuatan yang habis.
Rivellino lantas menyakan skor. Kemudian, pada menit ke-60, Pele meloncat di kotak penalti untuk menahan dengan sempurna umpan Gerson sejauh 50 yard, mengarahkan bola ke tanah sebelum menembak ke gawang membawa Brasil gantian unggul. Dua gol akhir Jairzinho menutup kemenangan 4-1.
Hanya saja yang paling diingat dari laga itu bukan gol Pele, melainkan satu gol yang gagal dengan lob luar biasa dari setengah lapangan sendiri yang mengecoh kiper Cekoslovakia Ivo Viktor, yang melayang tipis di samping gawang. Pele kemudian mengaku itu memang sudah direncanakan, setelah mengamati bahwa kiper Eropa cenderung meninggalkan garis gawang.
Inggris menjadi tolok ukur di Piala Dunia 1970, dengan status juara bertahan yang banyak diyakini semakin kuat dibanding edisi sebelumnya. Bagi Brasil, ini adalah final kepagian. Sedangkan buat Pele, pertarungan ini menjadi tantangan emosional yang harus dilewati.
Musim panas 1966 Inggris merayakan gelar mereka, sementara Pele duduk di rumah, merawat tubuh dan harga diri yang terluka. Secara simbolik, laga ini memberi Pele kesempatan menutup frustrasi empat tahun silam.
Pele tidak mengecewakan, dalam pertandingan yang sangat berkualitas juga sengit, sering disederhanakan sebagai kontras antara gaya menyerang Brasil dan kekokohan bertahan Inggris. Namun, Inggris juga bisa bermain, dan Pele mampu bersaing setara.
Alan Mullery, yang ditugaskan menjaga Pele, kemudian mengaku melakukan kontak keras untuk mengganggunya, tapi Pele secara fisik dan mental mampu menanggulanginya. Nobby Stiles, yang menyaksikan dari bangku cadangan, sangat tidak percaya melihat betapa mudahnya Pele melewati penjaganya. Mullery berulang kali mencoba merebut bola darinya. Berulang kali, gagal.
Hanya dua kali Pele benar-benar lolos dari perhatian Mullery, yang pertama menghasilkan salah satu penyelamatan terbaik sepanjang masa, yang kedua menentukan jalannya laga. Penyelamatan Gordon Banks dengan loncatan luar biasa untuk menepis bola dari gawang.
Di ujung lain, kiper Brasil, Felix hanya bisa bertepuk tangan. Pele sendiri menyebutnya sebagai penyelamatan terbaik turnamen itu dan hampir semua turnamen yang pernah dimainkannya. Jairzinho mencetak gol kemenangan Brasil, namun itu tercipta dari kemampuan Tostao yang melewati tiga pemain Inggris sebelum mengirim umpan.
Kapten Inggris, Bobby Moore, yang empat tahun sebelumnya mengangkat trofi Jules Rimet, memberi penghormatan tertinggi menukar jersei dengan Pele dan melakukan pelukan ikonik tanpa baju.
Kemenangan 3-2 atas Rumania dengan dua gol Pele, satu dari tendangan bebas keras dan satu penyelesaian tenang yang rapi membawa Brasil memuncaki grup dan bertemu Peru di babak gugur. Perempat final menjadi laga legendaris, bentrokan rival Amerika Selatan. Peru memiliki Didi, mantan rekan Pele, di bangku pelatih, tapi Brasil punya kekuatan lebih yang berakhir kemenangan 4-2 untuk Selecao.
Awal laga semifinal tidak mudah, Uruguai unggul 20 menit pertama. Tapi Brasil bangkit, Clodoaldo menyamakan skor menjelang jeda. Pele relatif tenang, tapi pengaruhnya meningkat. Jairzinho memberi Brasil keunggulan 15 menit jelang akhir, dan Pele menyiapkan gol ketiga untuk Rivellino. Saat waktu tambahan, Pele nyaris mencetak gol lagi, tapi tembakannya melebar.
Beberapa hari kemudian, fotografer mengabadikan tim Brasil dan Italia di Stadion Azteca untuk memainkan laga final Sekitar 100 ribu lebih suporter berteriak untuk mengasih dukungan ke jagoannya masing-masing.
Italia menjaga gawang ketat dengan catenaccio. Namun pada menit ke-18, peluang datang, umpan silang Rivellino sempurna, dan Pele menyundul bola masuk gawang. Ia meloncat lagi ke pelukan Jairzinho, tinju ke udara penuh sukacita.
Menjelang jeda, Brasil kebobolan lewat Roberto Boninsegna. Tidak ada panik. Brasil lebih bugar, punya taktik dan kemampuan memanfaatkan situasi.
Gol Gerson menit ke-66 membuka jalan. Beberapa menit kemudian, umpan Gerson disundul Pele untuk Jairzinho, menutup pencapaian mencetak gol di setiap pertandingan turnamen. Italia hancur dalam enam menit babak kedua.
15 menit terakhir berlangsung seperti mimpi, kaos kuning menari di sekeliling lawan yang lelah. Tostao, Piazza, Clodoaldo, Rivellino, Jairzinho, Pele, dan Carlos Alberto bekerja sama menghasilkan gol indah yang mengakhiri duel final dengan skor telak 4-1.
Sekali lagi Pele hadir, asis sederhana namun tepat, menunjukkan kepedulian dan kerendahan hati. Di akhir laga, fans gembira menyerbu lapangan, merobek jersei dan celana. Pele salah satunya, dibawa di atas kursi tanpa baju.
Editor: Muhammad Ridwan





