Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, yang akrab disapa Cak Yebe, melakukan sosialisasi program DTSEN kepada warga Tambak Osowilangun. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan penyerahan bantuan untuk UMKM dan fasilitas publik di kawasan perbatasan Surabaya dengan Gresik.
Ratusan warga hadir dan antusias mengikuti jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir. Cak Yebe menekankan pentingnya pemerataan pelayanan publik di wilayah perbatasan.
“Wilayah perbatasan seperti ini harus kita pastikan tidak tertinggal, baik pelayanan publik maupun akses program pemerintah,” ujarnya, Sabtu 14 Februari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada validitas data melalui DTSEN sebagai dasar penyaluran bantuan sosial. Menurut Cak Yebe, akurasi data menentukan apakah bantuan benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan.
“Data itu penting supaya bantuan tepat sasaran. Kalau datanya tidak akurat, yang seharusnya menerima bisa terlewat, dan yang tidak berhak justru masuk,” tuturnya.
Ia juga mengimbau warga untuk terbuka saat proses pendataan berlangsung dan menerima petugas atau surveyor DTSEN yang datang melakukan verifikasi lapangan.
“Kalau ada petugas survei datang, mohon diterima dengan baik dan berikan informasi sesuai kondisi sebenarnya. Ini demi kepentingan panjenengan semua agar datanya valid,” kata pemegang Dan II Jiu-Jitsu ini.
Cak Yebe menekankan partisipasi aktif warga sebagai kunci agar kebijakan sosial berbasis kondisi riil di lapangan. Dengan data yang diperbarui secara berkala, pemerintah dapat menyusun program yang lebih tepat dan terukur.
“Kami ingin warga ikut mengawal. Pastikan datanya sesuai kenyataan, karena dari situlah kebijakan bantuan disusun,” lanjutnya.
Selain sosialisasi, Cak Yebe menyerahkan bantuan berupa terop, kursi, dan meja untuk mendukung kegiatan sosial warga. Bantuan ini ditujukan agar fasilitas dapat dimanfaatkan untuk pertemuan RT, kegiatan keagamaan, hingga aktivitas kepemudaan.
“Ini mungkin terlihat sederhana, tapi semoga bisa menunjang kegiatan warga sehari-hari,” ujarnya.
Tidak hanya itu, ia juga menyerahkan mesin pemotong rumput untuk menunjang kebersihan lingkungan dan memperkuat budaya gotong royong di kawasan perbatasan.
Untuk pemberdayaan ekonomi, Cak Yebe memberikan bantuan senilai Rp5 juta untuk membeli mesin jahit kepada pelaku UMKM jahit RT setempat. Bantuan ini diharapkan meningkatkan produktivitas usaha dan pendapatan keluarga.
“UMKM harus kita dorong terus. Dengan alat yang memadai, usaha ibu-ibu penjahit bisa berkembang dan memberi manfaat lebih besar bagi keluarga,” katanya.
Salah satu penerima bantuan, Lailatul Rahimah, menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan. Ia menjelaskan kelompok UMKM jahit di lingkungannya selama ini masih kekurangan fasilitas.
“Makasih saya sampaikan pada Pak Yona atas bantuan mesin jahitnya. Kami ada empat orang di kelompok UMKM, dan fasilitas sebelumnya belum mencukupi. Insya Allah nanti uang dari Pak Yona saya belikan mesin yang bisa bikin lubang kancing,” ujarnya.
Menurut Lailatul, kelompoknya sudah memiliki beberapa mesin jahit dan obras, namun belum memiliki mesin khusus pembuat lubang kancing sehingga harus keluar daerah untuk menyelesaikan pesanan.
“Kita masih punya mesin jahit hitam sama obras. Biasanya lubang kancing ke Gresik, satu kancing itu Rp1.000. Sekarang alhamdulillah bisa dikerjakan di rumah sendiri,” jelasnya.
Kelompok UMKM jahit di lingkungannya berjumlah empat orang dalam satu RT, menerima berbagai pesanan mulai dari seragam hingga permak pakaian.
“Sangat terbantu, alhamdulillah sangat. Selama ini dari pemerintah belum pernah dapat bantuan sama sekali. Jadi ini benar-benar membantu usaha kami,” tutup Cak Yebe.
Editor: Redaktur TVRINews





