Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik dan Peluang Bisnis Pengisian Daya SPKLU

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Pasar mobil listrik berbasis baterai di Indonesia terus berkembang dalam empat tahun terakhir. Data penjualan mobil listrik dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan tren pertumbuhan penjualan dari pabrik ke dealer mobil atau wholesales. Pada 2022 mobil listrik berhasil dipasarkan 10.327 unit. Penjualan tersebut terus meningkat pada 2023 menjadi 17.062 unit, kemudian 43.193 unit tahun 2024, dan menembus penjualan 103.931 unit di 2025.

Sepuluh jenama yang menguasai pasar mobil listrik di Indonesia pada 2025 ialah BYD, Wuling, Denza, Chery, Aion, Vinfast, Geely, Hyundai, Morris Garage, dan Jaecoo. Penjualan 103.931 unit pada 2025 membuat mobil listrik menguasai 12 persen pasar otomotif nasional.

Tumbuhnya pasar mobil listrik ini juga memberikan peluang bisnis stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Fasilitas SPKLU ini merupakan lokasi pengisian daya baterai kendaraan listrik baik untuk mobil maupun sepeda motor. Prospek bisnis SPKLU ini terlihat dari berkembangnya jumlah tempat pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia. Jika pada 2023 baru terdapat 1.081 SPKLU, jumlahnya meningkat menjadi 3.233 unit di 2024 dan berkembang menjadi 4.655 unit tahun 2025 yang tersebar di 3.007 lokasi.

Jakarta menjadi lokasi dengan jumlah SPKLU terbanyak. Berdasarkan data yang diambil dari peta SPKLU di laman PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 13 Februari 2026, terdapat sedikitnya 446 SPKLU di Jakarta. Lokasi terbanyak berikutnya Jawa Barat (368 unit), Jawa Timur (195 unit), Jawa Tengah (189 unit), dan Banten (108 unit).

Melihat sebaran SPKLU ini, populasi mobil listrik di Indonesia masih dominan berada di Pulau Jawa. Meski demikian, SPKLU juga mulai banyak dijumpai di luar Pulau Jawa, seperti Bali (92 unit), Sumatera Utara (71 unit), Kalimantan Timur (68 unit), Sulawesi Selatan (63 unit), dan Sumatera Barat (61 unit).

Bahkan, stasiun pengisian kendaraan listrik juga sudah menjangku wilayah Papua (15 SPKLU). Di Papua, lokasi SPKLU, antara lain, terdapat di Jayapura, Biak Numfor, Timika, Merauke, dan Wamena di wilayah Papua Pegunungan.

Sebagian besar SPKLU di Papua (sembilan unit) bertipe standar charging dengan daya keluaran 7 kilowatt (kW). Dua SPKLU lainnya berdaya 22 kW (medium) dan empat SKPLU dengn kategori fast charging dengan daya 50 kW.

Berbeda dengan Papua, secara umum SPKLU yang ada di seluruh Indonesia bertipe medium charging yang membutuhkan waktu pengisian baterai hingga 80 persen dalam rentang 2-4 jam. Pada 2025 terdapat 2.681 unit SPKLU yang memiliki daya keluaran medium charging. Selain itu, ada 859 unit SPKLU dengan tipe standar dan 482 unit dengan daya pengisian fast charging dengan waktu pengisian baterai maksimal 60 menit.

Di luar itu, terdapat 633 unit SPKLU dengan kategori ultra fast charging dengan daya keluaran di atas 150 kW. Kemampuan SPKLU super cepat ini mampu mengisi daya mobil listrik dalam waktu 30 menit.

 

 

Skema kemitraan SPKLU

Keberadaan SPKLU terutama dengan kapasitas pengisian super cepat ini menjadi daya dukung bagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Semakin banyak lokasi SPKLU dapat menumbuhkan persepsi positif tentang kemudahan menggunakan mobil listrik. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mempercepat program kendaraan listrik yang menargetkan penggunaan 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada 2030.

Percepatan ini menjadi bagian dari rencana strategis mewujudkan transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon yang secara tidak langsung diharapkan dapat mengurangi beban subsidi BBM. Percepatan ini dilakukan dengan sejumlah kebijakan dan skema insentif bagi industri dan konsumen kendaraan listrik sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 dan Perpres No 79/2023.

Langkah-langkah tersebut, antara lain, dengan memberikan insentif PPN yang ditanggung pemerintah, pembebasan pajak penjualan barang mewah, hingga insentif pajak kendaraan. Dalam hal dukungan infrastruktur, pemerintah juga membangun SPKLU yang ditargetkan mencapai minimal 31.859 unit pada 2030.

Sesuai perpres, PT PLN mendapat tugas untuk menyediakan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. Untuk mencapai target tersebut, PT PLN membangun SPKLU secara mandiri ataupun melalui skema kemitraan dan swasta. 

Kerja sama kemitraan ini, antara lain, dilakukan melalui skema pembagian peran. Ada skema mitra menyediakan lahan, sedangkan instalasi, charger set, dan pengelolaan aplikasi ditanggung oleh PLN. Skema lain ialah mitra menyediakan lahan dan charger set, sementara PLN memberikan dukungan daya listrik serta layanan aplikasi.

PLN juga membuka layanan home charging services di rumah pelanggan yang memiliki kendaraan listrik. Seiring peningkatan jumlah populasi kendaraan listrik, pelanggan layanan pengisian daya di rumah juga meningkat. Pada 2025 terdapat 70.250 pengguna layanan home charging services, meningkat dari 32.215 pelanggan di 2024.  

Peningkatan jumlah layanan pengisian daya di rumah ini tidak terlepas dari promosi yang dilakukan PLN. Salah satu daya tariknya, Perusahaan Listrik Negara ini memberikan diskon biaya pengisian di rumah sebesar 30 persen untuk pengisian daya kendaraan listrik pada larut malam. Promosi lain juga dilakukan PTN dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026. PLN memberikan potongan 50 persen untuk pemasangan baru layanan pengisian daya di rumah.

 

Tol listrik di jalur mudik 2026

Dalam pengembangannya, salah satu fokus PLN ialah membangun SPKLU Center, yakni pusat pengisian daya kendaraan listrik berkapasitas besar yang mampu mengisi daya untuk 10 hingga 20 kendaraan sekaligus. SPKLU Center ini dibangun di area dengan tingkat okupansi tinggi atau jalur strategis.

Contoh SPKLU Center ini terletak di kantor PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya, Gambir, Jakarta Pusat. Di sini tersedia fasilitas 14 konektor bertipe fast charging hingga ultrafast charging berkapasitas 200 kW.

SPKLU Center juga banyak dibangun di jalur strategis, seperti tempat peristirahatan atau rest area jalan tol. Keberadaan ”tol listrik” ini ditargetkan tersedia di setiap jarak 300 km untuk memudahkan pengguna mobil listrik mengisi daya.

Di jalur jalan tol ruas Jakarta-Cikampek, SKPLU antara lain dapat ditemukan di rest area Km 39A, Km 42 B, Km 57A, dan Km 62B. Kemudian, pada ruas Cikampek-Palimanan terdapat SKPLU di rest area Km 164B dan Km 166A.

Di tempat peristirahatan ruas tol Kanci-Pejagan terdapat SPKLU di Km 228A dan Km 229B Cirebon, Km 319B Pemalang, serta Km 275A Tegal. Setelah itu, SKPLU juga tersedia hingga ujung Jalan Tol Trans-Jawa, seperti di ruas Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Kertosono, hingga Surabaya dan Banyuwangi.

Jangkauan SPKLU di ruas Jalan Tol Trans-Jawa menjadi daya dukung bagi infrastruktur mudik Lebaran 2026 mendatang. Meski demikian, mengingat pertumbuhan penjualan kendaraan listrik setahun kemarin, antisipasi antrean pengisian daya perlu dilakukan agar tidak menimbulkan problem baru penumpukan kendaraan di area peristirahatan (rest area).

Pertumbuhan pasar kendaraan listrik, terutama mobil listrik, tak hanya memberi wajah baru bagi industri otomotif nasional, tetapi juga bagi ekosistem pendukungnya. Saat ini rest area di ruas tol mulai banyak menyediakan SPKLU untuk pengisian daya mobil listrik.

Fenomena ini membuka peluang munculnya bisnis-bisnis baru, seperti investasi SPKLU di jalur-jalur strategis. SPKLU juga mulai banyak ditemukan di pusat-pusat bisnis, perkantoran, mal, kampus, dan tempat kuliner. Durasi pengisian daya mobil listrik (30-60 menit), memiliki kemiripan dengan durasi pengisian daya bagi tubuh manusia. Tidak heran, jika mal dan pusat kuliner juga mulai menawarkan fasilitas SPKLU.

Layanan home charging services juga memberi ruang penambahan pendapatan bagi komunitas RT di perumahan atau tempat ibadah. Skema bagi hasil dengan keuntungan yang ditawarkan antara Rp 1.350 hingga Rp 1.760 per KWh menjadi nilai tambah dan daya tarik investasi.

Baca JugaMobil Listrik Makin Dilirik di IIMS 2026

Pertumbuhan bisnis SPKLU ini juga terjadi di ranah global. Lembaga data Statista mencatat, pada 2022 terdapat 1,7 juta unit pengisian daya kendaraan listrik di seluruh dunia. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 3,32 juta unit pada 2028. Pasar terbesar unit pengisian daya kendaraan listrik berada di China (65 persen).

Era mobil listrik membuka peluang bisnis baru di sekitarnya. Selain SPKLU, peluang bisnis lain yaitu asuransi kendaraan listrik, rental mobil listrik, pemasok komponen dan aksesori, hingga layanan purnjual. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Juventus Klaim Kartu Merah Kalulu Memalukan untuk Sepak Bola Italia
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Kemenkop-Kemensos-BP Taskin gelar kolaborasi pengentasan kemiskinan
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Jakarta Darurat Jalan Berlubang, Pemprov DKI Sebar Spanduk dan Pasukan Kuning
• 18 jam laluokezone.com
thumb
MUKERNAS 2026, RCI Siapkan Strategi Hadapi Dinamika Industri Transportasi
• 23 jam lalueranasional.com
thumb
BTN Pimpin Penyaluran KPR FLPP di Awal 2026 
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.