Hal-hal yang bisa dipelajari dari artikel ini:
1. Berapa target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026?
2. Mengapa pemerintah optimistis target itu bisa tercapai?
3. Apa saja sektor yang akan dijadikan penopang pertumbuhan?
4. Apa hal yang perlu dikorbankan demi mencapai target pertumbuhan yang tinggi itu?
5. Bagaimana peran Danantara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi?
6. Apakah target 5,4-5,6 persen itu memungkinkan dicapai?
Dalam forum bertajuk ”Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026” pada Jumat (13/2/2026), yang dihadiri pejabat pemerintah, pelaku industri, dan akademisi, pemerintah menyampaikan target pertumbuhan ekonomi bisa diakselerasi pada tahun ini.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, ekonomi ditargetkan tumbuh 5,4 persen. Namun, dalam forum IEO, pemerintah menyasar pertumbuhan yang sedikit lebih tinggi, di kisaran 5,4 persen hingga 5,6 persen.
”Saya percaya ekonomi kita akan sangat baik tahun ini,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya.
Menurut Prabowo, pemerintah telah bekerja keras menjalankan program-program prioritas yang berdampak nyata seiring menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran terbuka di berbagai daerah. Selain itu, konsumsi rumah tangga dilaporkan mulai meningkat pada Januari 2026.
Prabowo mengatakan, capaian itu tidak lepas dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim telah menggerakkan perekonomian dari tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan. Ia menilai ekonomi rakyat akan terus bergerak seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat MBG.
Ada pula sejumlah program ”ekonomi kerakyatan” lain yang diyakini bisa menjadi motor pertumbuhan nasional, yakni program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Swasembaga Pangan. Ekonomi Indonesia, menurut Prabowo, akan tumbuh dari lapisan paling bawah menjadi ekonomi yang dinamis.
Ada beberapa sektor yang disasar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,4-5,6 persen tahun ini. Mulai dari sektor pertanian, industri manufaktur, digital, energi, serta implementasi program prioritas seperti MBG dan KDKMP.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor-sektor itu diharapkan menjadi sumber pertumbuhan yang mampu menyerap tenaga kerja luas dan mengakselerasi produktivitas. Adapun mesin penggerak utama pendukung pembiayaan non-APBN salah satunya melalui Danantara.
Sektor keuangan juga memegang peran strategis dalam mendukung pertumbuhan, terutama pasar modal. Melalui agenda reformasi yang tengah berlangsung, kepercayaan kepada pasar modal diharapkan dapat kembali sehingga likuiditas pun meningkat.
Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ada beberapa aspek yang perlu ”dikorbankan”. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, pertumbuhan ekonomi membutuhkan kebijakan fiskal yang ekspansif disertai koordinasi fiskal-moneter serta optimalisasi peran Danantara.
Akibatnya, defisit fiskal perlu ”dikorbankan” hingga melebar dari posisi 2,5 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Ke depan, untuk 2026, ia menyebut pemerintah akan mengelola fiskal secara lebih hati-hati di bawah 3 persen dari PDB.
Pada 2026, pemerintah menargetkan belanja Rp 3.153,6 triliun, dengan alokasi Rp 1.360,2 triliun yang diklaim akan berdampak langsung kepada masyarakat.
Di sisi lain, Purbaya memperkirakan pendapatan negara pada 2026 mencapai Rp 3.842,7 triliun sehingga defisit APBN tahun ini diproyeksikan sebesar Rp 689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB, menyusut dari 2025 yang mencapai 2,92 persen.
Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara telah menyiapkan empat proyek investasi strategis dengan total nilai Rp 202,4 triliun pada 2026. Rencana tersebut menjadi bagian dari penguatan peran lembaga itu dalam mendorong hilirisasi industri dan memperbesar dampak ekonomi di dalam negeri.
Keempat proyek itu mencakup sektor energi berbasis pengolahan sampah (waste to energy), industri kimia dasar (fasilitas caustic soda), agrikultur (Proyek Johor), dan infrastruktur digital (pengembangan platform pusat data atau data center bersama operator global).
Manajemen menilai, kombinasi sektor tersebut dapat menopang pertumbuhan sekaligus membuka ruang penciptaan lapangan kerja baru.
Selain empat proyek strategis tersebut, Danantara juga mengelola 20 proyek hilirisasi lintas sektor. Total nilai investasi keseluruhan proyek dalam antrean itu mencapai 26 miliar dolar AS atau setara Rp 437,65 triliun. Rosan memperkirakan semua proyek hilirisasi tersebut dapat menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja baru.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengumbar optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6 persen pada 2026. Namun, banyak pihak menilai pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen pada 2026 terlalu berat, bahkan tidak realistis di tengah masih lesunya berbagai komponen utama pendorong ekonomi.
Misalnya, konsumsi rumah tangga yang masih menghadapi tekanan berat akibat daya beli yang melemah. Itu ditunjukkan lewat lesunya sejumlah indikator penjualan. Sektor usaha yang semestinya jadi penggerak utama ekonomi juga belum siap berekspansi di tengah daya beli masyarakat yang masih rendah itu.
Sebagai perbandingan, target 5,4-5,6 persen masih lebih moderat dan realistis ketimbang mimpi pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026. Namun, pemerintah tetap memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar untuk mengerek pertumbuhan ekonomi dari 5,11 persen pada 2025 menuju 5,4-5,6 persen pada 2026.





