"Saya berharap juga nanti setelah fasilitas ini terlengkapi juga kondisinya tetap terawat. Untuk itu perlu adanya terobosan mekanisme administrasi agar jangan sampai perawatan ini yang telah ada kerja sama dengan swasta tapi pendanaannya mandeg atau tidak bisa," kata Erick saat kunjungan ke Paralympic Training Center Indonesia, Sabtu (14/2) siang.
Paralympic Training Center berlokasi di kaki Gunung Lawu, tepatnya tidak jauh dari kawasan Bumi Perkemahan Cakra Pahlawasri di Desa Delingan, Karanganyar. Pembangunannya dilaksanakan sejak Desember 2023 dan tuntas pada Desember 2024.
Pusat pelatihan olahraga ini dibangun di atas lahan seluas 80.262 m2 dengan total luas bangunan 34.346 m2 yang terdiri dari GOR 1 seluas 17.482 m2 dan Gedung Asrama seluas 16.864 m2. Gedung Asrama terdiri 2 tower rumah susun setinggi empat lantai dengan kapasitas 188 kamar yang dapat menampung 392 atlet. Baca juga: Atlet Paralimpiade akan Dapat Pendampingan Literasi Finansial Kemenpora saat ini telah bekerja sama dengan Kemendagri terkait pemanfaatan fasilitas-fasilitas olahraga yang dibangun pemerintah pusat dan daerah, agar bisa dikerja samakan dengan pihak ketiga.
"Komersialisasi itu boleh terbuka selama dipergunakan untuk prioritas perawatan aset tersebut. Sudah banyak pemerintah membangun fasilitas olahraga tapi pas perawatan tidak lancar ini yang perlu diperhatikan, untuk itu harus ada introspeksi diri," urainya lagi.
Ia pun menekankan fleksibilitas ini harus terus didorong sehingga aset-aset yang dibangun pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang diserahkan kepada NPC dan organisasi olahraga lainnya bisa terus terawat dan terjaga sesuai payung hukum yang ada.
"Insha Allah Kemenpora akan membantu juga untuk biaya perawatan dengan sistem hibah. Semoga bisa berjalan dan aset yang terbaik dan pertama di Asia Tenggara ini bisa terus menjadi yang terbaik," pungkas Menpora.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KAH)





