Hujan rintik tidak henti-henti, namun puluhan penikmat seni rupa dengan sabar menunggu. Di salah satu ruangan Pos Bloc Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026), tempat pameran seni rupa “Life Line” pintu masih tertutup. Dengan memegang mikrofon, seniman Iggo Feryawan tampak terbata-bata membacakan sambutan sementara di depannya rekan-rekannya sibuk merekam video sambil menggoda.
Seniman yang biasa bersembunyi di balik karya-karya jalanannya tersebut akhirnya harus tampil dan berbicara di depan khalayak. Dengan susah payah, Iggo menutup sambutan dengan kalimat “Selamat Menikmati”,
Mungkin saja publik tidak terlalu familier dengan nama Iggo Feryawan, namun bisa jadi banyak yang kenal dengan bentuk-bentuk karyanya. Dengan mengadopsi bentuk origami dengan garis-garis yang tegas dan konsisten, Iggo dengan rutin mengisi ruang-ruang kosong di banyak sudut Kota Surabaya dengan karyanya. Tanpa membawa pesan apa-apa, Iggo hanya menyadarkan bahwa karya seni baik dengan teknik stensil atau menggambar langsung tidak perlu membawa pesan.
Karya-karya Iggo langsung menyambut pengunjung saat pintu ruang pameran dibuka. Dengan beragam teknik, karya-karya yang biasa terlihat sepintas lalu sambil berkendara kini bisa dinikmati lebih lama. Nuansa seni jalanan yang bebas merdeka tersebut semakin kental terasa dengan diiringi musik yang diolah oleh seorang DJ.
Bagi Iggo, pameran ini menjadi pernyataan sikap atas pilihannya belasan tahun bersenirupa. “Ya sebelum mengenal teknik garis-garis ini saya juga mencoba beragam teknik dalam grafiti maupun mural. Namun saya akhirnya memutuskan untuk konsisten dengan karya seperti saat ini,” Ujar Iggo yang dikenal oleh rekan-rekannya dipanggil dengan Nnegoo.
“Saya memang tertarik dengan bentuk-bentuk origami dan memutuskan mengolahnya dengan warna hitam putih, karena saya melihat karya seni jalanan yang berkembang dibuat dengan berwarna. Saya ingin beda saja,” kata Iggo.
Pameran ”Life Line” sendiri dikuratori oleh Alfajr Xgo Wibisana yang juga seorang seniman seni jalanan. Dalam pameran, Xgo menempatkan karya-karya Iggo seperti bagaimana karya-karya hadir di pinggaran jalanan kota. Ada yang dilukis langsung di dinding, ada yang ditempel di dinding, dan ada yang yang didisplay di lantai. Karya-karya yang dihadirkan juga banyak yang merupakan karya lama. “Pameran ini rencananya akan dilakukan beberapa tahun lalu, namun terkendala pandemi dan baru bisa dilakukan sekarang,” ujar Xgo
Seni jalanan jika di tempatkan di tempat yang representatif seperti galeri ternyata juga bisa lebih dinikmati. Puluhan pengunjung yang hadirpun bisa melihat dan menikmati proses kreatif dengan ragam medium tanpa tergesa-gesa.





