FAJAR, PAREPARE – Stadion Gelora BJ Habibie (GBH) Parepare dulu dikenal sebagai “neraka” bagi tim tamu. Kini seolah kehilangan keangkerannya. Markas kebanggaan PSM Makassar ini mengalami pergeseran status.
Sungguh ironis. Dari benteng kokoh pengantar Juku Eja juara, kini menjadi ladang empuk bagi lawan mendulang poin di Super League 2025/2026.
Padahal, memori musim 2022/2023 masih segar di ingatan para pendukung. Kala itu, GBH menjadi saksi bisu keperkasaan Pasukan Ramang dalam merengkuh gelar juara Liga 1.
Rekor kandang hampir sempurna. Saat itu, hanya Madura United (0-1) dan Persija Jakarta (1-1) yang mampu pulang membawa poin dari Parepare.
Merosot Tajam
Memasuki musim Super League 2025/2026, keangkeran GBH luntur seketika. Dari 11 laga kandang yang telah dilakoni, anak asuh Tomas Trucha tercatat hanya mampu mengemas 2 kemenangan. Sisanya berakhir dengan 5 hasil imbang dan 4 kekalahan menyakitkan.
Ada empat tim tercatat sukses mempermalukan PSM di hadapan pendukungnya sendiri. Dewa United (Kalah 0-2), Arema FC (1-2), Malut United (0-1), dan
Bali United (0-2).
Sementara itu, tim-tim seperti Persijap Jepara, Madura United, Persebaya Surabaya, PSIM Yogyakarta, hingga Semen Padang juga berhasil memaksakan hasil imbang dan membawa pulang satu poin dari Sulawesi Selatan.
Praktis, musim ini PSM baru bisa berpesta saat menumbangkan PSBS Biak (5-0) dan Persija Jakarta (2-0).
Kalah Telak dari Dewa United
Laga terbaru pada Sabtu (14/2/2026), menjadi puncak kekecewaan publik Parepare. Menjamu Dewa United di pekan ke-21, PSM dipaksa menyerah dengan skor telak 0-2.
Bek muda PSM, Daffa Salman, mengakui kesulitan yang dihadapi timnya. Menurutnya, berjuang dengan 10 pemain setelah adanya kartu merah membuat strategi tim berantakan.
“Kami sudah bekerja keras, namun bermain dengan 10 orang melawan tim sekelas Dewa United memang sangat sulit. Kami memohon maaf kepada seluruh suporter dan berjanji akan bangkit saat menghadapi Persija pada 20 Februari nanti,” ujar pemain berusia 23 tahun tersebut.
Meski PSM kebobolan dua gol, penampilan individu Daffa Salman sebenarnya cukup menonjol. Data dari I League mencatat ia melakukan enam intersep dan empat tekel bersih sepanjang 90 menit laga.
Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, tidak menutupi kekecewaannya. Arsitek asal Republik Ceko ini menilai anak asuhnya bermain sangat buruk sejak peluit babak pertama dibunyikan.
“Sangat buruk. Kami seolah hanya menonton Dewa United memainkan bola dan menunggu mereka mencetak gol. Meski ada perbaikan di babak kedua melalui pergantian pemain, kartu merah yang terjadi merusak segalanya,” ungkap Trucha dengan nada kecewa.
Dia menyayangkan momentum positif setelah kemenangan atas PSBS Biak harus terbuang sia-sia. Trucha menegaskan akan segera melakukan evaluasi total demi memperbaiki posisi PSM di klasemen. Dia pun meminta maaf kepada fans. (*)




