Potret Pejalan Kaki di Jakarta: Tetap Menyeberang Sembarangan meski Ada JPO

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO) berdiri di atas arus kendaraan yang nyaris tak pernah sepi. Namun, sebagian warga tetap memilih menyeberang langsung di badan jalan.

Pengamatan Kompas.com pada Kamis (12/2/2026) menunjukkan fenomena tersebut terjadi di sejumlah ruas jalan padat di Jakarta.

Di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, misalnya, beberapa pejalan kaki tampak menunggu celah kendaraan yang melintas sebelum berlari kecil menyeberang.

Baca juga: Rumah Berpagar Menara Listrik Tegangan Tinggi, Warga Koja Harus Menunduk Saat Masuk

Padahal, ada dua JPO berada tidak jauh dari titik tersebut dan dapat diakses dengan berjalan kaki beberapa menit.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Meski ada JPO warga di Pasar Minggu masih menyeberang sembarangan. Kamis (12/2/2026)
Kondisi serupa juga terlihat di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur. Sejumlah warga menyeberang di antara kendaraan yang melaju cukup kencang.

Sebagian terlihat ragu, tetapi tetap melanjutkan langkah ketika arus kendaraan sedikit renggang.

Perilaku yang sama juga terjadi di Matraman, Jakarta Timur. Beberapa orang bahkan menyeberang berkelompok untuk mempercepat pergerakan, meski risiko tertabrak kendaraan tetap mengintai.

Sementara itu, di Tanah Abang, Jakarta Pusat, pejalan kaki yang membawa barang belanjaan memilih jalur tercepat dengan menyeberang langsung di permukaan jalan.

Keberadaan JPO belum sepenuhnya mengubah kebiasaan warga menyeberang di tengah lalu lintas padat.

Cepat dan Praktis meski Berisiko

Rahma (31), warga Gambir, Jakarta Pusat, mengaku memilih menyeberang langsung saat ditemui di area Kramat Jati.

Baca juga: Jelang Ramadhan, TPU Menteng Pulo Dipadati Peziarah dan PKL Minggu Siang

“Iya. Soalnya kalau lewat JPO harus muter dulu dan naik tangga. Jadi lebih cepat langsung menyeberang saja,” ujar Rahma saat ditemui Kompas.com di JPO wilayah Kramat Jati.

Ia mengaku pernah menggunakan JPO, tetapi merasa lelah karena harus menaiki tangga.

“Pernah sih, tapi capek juga naiknya. Kadang juga lebih gampang langsung saja daripada naik tangga dulu,” kata dia.

Rahma menyadari risiko keselamatan saat menyeberang di jalan ramai kendaraan. Namun, kebiasaan membuatnya merasa mampu memperkirakan kondisi lalu lintas.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Sadar sih berbahaya, tapi karena sudah biasa jadi merasa bisa memperkirakan kendaraan. Memang tetap berisiko,” ucap dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhub dan BRIN Terapkan Smart Buoy Digital di Jalur Energi Cilacap
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hoffenheim vs Freiburg, Menang Telak, Die Kraichgauer Ukir Rekor Klub
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Trump Mulai Gak Sabar, AS dan Iran Bakal Duduk Bareng di Oman
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
MTQ Korpri VIII 2026 Resmi Diluncurkan di Makassar, Prof Zudan: Perkuat Persaudaraan dan Spiritualitas ASN
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kuharap Duka Ini Selamanya, Lagu Baru Sangat Personal bagi Raisa
• 9 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.