Beberapa waktu lalu saya membaca komentar di sebuah siaran langsung media sosial: “Ngapain sekolah tinggi, yang penting viral.”
saya tidak tahu apakah kalimat itu mungkin bercanda ataukah memang serius. Tetapi kadang sebuah bangsa bisa dikenali dari candaan yang dianggap normal.
Hari ini kita hidup dalam ekonomi baru: Ekonomi Perhatian (Attention Economy). Di mana bukan hanya barang dan jasa yang menghasilkan uang, melainkan kemampuan menarik mata orang lain. Media sosial memungkinkan siapa pun memperoleh penghasilan dari popularitas. Dan cara paling cepat memicu popularitas adalah stimulus visual, terutama sensualitas tubuh.
Fenomena anak muda memonetisasi keseksian melalui live gift, saweran digital, dan konten berbayar sering dianggap sekadar tren internet. Padahal, jika ditarik lebih jauh, ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar: kualitas manusia yang kelak akan mengisi Indonesia pada 2045.
Ketika Lingkungan Belajar BerubahIndonesia memiliki sekitar 143 juta pengguna media sosial aktif. Rata-rata manusia menghabiskan lebih dari 2 jam 20 menit per hari di platform sosial. Artinya, sebagian generasi muda menghabiskan waktu setara pekerjaan paruh waktu hanya untuk berada di ruang perhatian digital.
Ini penting karena media sosial bukan lagi hiburan. Ia telah menjadi lingkungan pendidikan kedua. Anak muda belajar bukan hanya dari sekolah, tetapi dari apa yang dihargai oleh lingkungannya.
Masalah muncul ketika penghargaan terbesar diberikan bukan pada kompetensi, melainkan pada sensasi.
Seorang remaja melihat kenyataan sederhana: satu video edukasi ditonton ratusan orang, sementara konten sensual bisa ditonton ratusan ribu. Sistem memberi pesan yang sangat jelas tentang apa yang bernilai. Dan manusia cenderung mengikuti insentif.
Fondasi SDM Kita Masih RapuhDi sinilah persoalannya menjadi serius. Bank Dunia mencatat 53 persen anak usia akhir sekolah dasar di Indonesia belum mampu membaca sesuai tingkat usianya. Hasil PISA 2022 juga menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara maju.
Artinya kita masih berjuang di kemampuan dasar, membaca, memahami, dan berpikir logis.
Namun pada saat yang sama, ekosistem digital memberi penghargaan sangat besar pada kemampuan visual, bukan kemampuan kognitif.
Akibatnya terjadi pergeseran orientasi. Bukan lagi aku harus bisa apa, melainkan aku harus terlihat bagaimana.
Negara maju dibangun oleh manusia yang mampu menciptakan nilai. Jika generasi mudanya lebih fokus membangun citra daripada kemampuan, pertumbuhan ekonomi akan melambat meski jumlah penduduk besar.
Bonus Demografi Bisa Berubah ArahIndonesia sedang berada pada fase bonus demografi sekitar 2020 sampai 2035, ketika jumlah usia produktif jauh lebih besar dibanding usia nonproduktif. Dalam teori pembangunan, ini adalah kesempatan emas sekali seabad.
Namun bonus demografi bukan otomatis berkah. Ia hanya menjadi keuntungan jika tenaga kerja terampil, produktif, sehat mental, dan mampu beradaptasi dengan teknologi.
Target Indonesia Emas 2045 menuntut peningkatan pendapatan per kapita berkali lipat dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang tinggi. Itu tidak mungkin dicapai hanya dengan jumlah penduduk besar. Ia hanya mungkin dicapai dengan kualitas manusia tinggi.
Masalahnya, ekonomi perhatian menciptakan karier pendek. Popularitas bisa datang cepat, tetapi juga hilang cepat. Dan karena yang dibangun adalah pengikut, bukan keterampilan, perpindahan ke profesi produktif menjadi sulit.
Followers bukan pengalaman kerja. Viralitas bukan kompetensi profesional.
Risiko Sosial dan Jejak DigitalFenomena ini juga membuka persoalan lain yang jarang dibahas. UNICEF Indonesia mencatat sekitar 56 persen kasus eksploitasi seksual anak secara online tidak pernah dilaporkan. Normalisasi tubuh sebagai komoditas di ruang digital membuat batas privat dan publik semakin kabur. Risiko grooming, pemerasan seksual digital, dan penyebaran konten tanpa izin meningkat.
Internet tidak memiliki tombol lupa. Konten yang dianggap biasa pada usia 19 tahun dapat menjadi hambatan pekerjaan, bisnis, bahkan relasi sosial pada usia 30 tahun.
Masalahnya bukan hanya pada mereka yang tampil, tetapi pada lingkungan yang menonton dan meniru.
Ketika Harga Diri Bergantung pada Algoritma
Media sosial bekerja dengan sistem penghargaan instan. Like, komentar, dan view memicu dopamin. Penelitian psikologi menemukan penggunaan media sosial berlebihan berkorelasi dengan kecemasan, depresi, dan gangguan harga diri pada remaja.
Jika penghasilan bergantung pada respons tersebut, maka penurunan penonton bukan hanya penurunan pendapatan, tetapi terasa sebagai penurunan nilai diri.
Sebuah negara tidak bisa membangun ekonomi maju dengan generasi yang stabilitas mentalnya ditentukan oleh algoritma.
Penonton Juga Menentukan ArahDi tengah semua perdebatan tentang algoritma dan platform, ada satu hal yang sering dilupakan: algoritma sebenarnya dilatih oleh perilaku kita sendiri.
Apa yang sering kita tonton akan diperbanyak. Apa yang kita abaikan akan hilang.
Setiap klik dan setiap detik waktu tonton adalah suara ekonomi. Ketika masyarakat terus menonton konten yang hanya menjual sensualitas, kita sedang memberi sinyal pasar bahwa itulah konten yang bernilai. Tanpa sadar, publik ikut membentuk ekosistem yang sama yang kemudian dikeluhkan.
Menahan diri untuk tidak menonton, tidak menyebarkan, dan tidak berinteraksi dengan konten semacam itu mungkin terlihat kecil. Namun secara sistem, itu intervensi paling efektif. Platform tidak berjalan oleh moral, tetapi oleh metrik. Saat metrik berubah, arah konten ikut berubah.
Untuk Para KreatorTulisan ini juga bukan serangan kepada kreator. Banyak dari mereka hanya merespons realitas bahwa konten sensual memang cepat mendapat view.
Namun ada hal penting yang sering tidak terlihat: view tidak otomatis berarti uang.
Dalam pemasaran modern ada yang disebut segmentasi pasar. Perusahaan tidak hanya mencari jumlah penonton, tetapi kesesuaian audiens dengan produk dan citra merek. Audiens yang datang karena sensasi sering tidak loyal, tidak membeli produk, dan tidak cocok dengan reputasi brand. Karena itu banyak perusahaan justru menghindari kerja sama dengan akun yang berisiko reputasi.
Ramai belum tentu bernilai.
Konten berbasis sensualitas bisa menaikkan popularitas, tetapi sulit menaikkan kepercayaan. Dalam ekonomi digital, yang paling mahal bukan perhatian, melainkan kepercayaan.
Selain itu terdapat risiko lain.
Kariernya pendek karena tren dan algoritma cepat berubah. Jejak digital menyulitkan peluang kerja, bisnis, atau kemitraan di masa depan. Pendapatan tidak stabil karena bergantung pada platform. Harga diri mudah ikut turun saat respons penonton menurun.
Sebaliknya, kreator yang membangun konten berbasis kemampuan, edukasi, keterampilan, pengalaman, humor cerdas, atau wawasan, mungkin tumbuh lebih lambat tetapi membangun reputasi yang jauh lebih tahan lama. Perusahaan mencari kreator yang dipercaya, bukan sekadar ditonton.
Penonton membeli karena percaya, bukan karena penasaran.
PenutupBonus demografi adalah peluang sekali dalam sejarah. Ia hanya menjadi keuntungan jika generasi mudanya produktif. Jika tidak, ia berubah menjadi beban.
Pilihan kita sebagai masyarakat sederhana: perhatian kita akan membesarkan kemampuan, atau hanya membesarkan sensasi.
Indonesia Emas tidak dibangun oleh jumlah pengguna internet atau ramainya siaran langsung. Ia dibangun oleh kualitas manusianya.
Kita bisa memiliki negara yang sangat aktif di layar. Tetapi tanpa manusia yang kompeten dan stabil, semua itu hanya menghasilkan satu hal: negara yang sibuk terlihat maju.
Perubahan pertama sebenarnya sederhana, memilih apa yang kita beri perhatian.





