Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya menyelesaikan persoalan toleransi di Jakarta tanpa perlu kemarahan.
Menurutnya, persoalan tersebut dapat diatasi dengan kegembiraan dan keterbukaan.
“Jadi dalam banyak hal menyelesaikan persoalan toleransi tanpa kemudian harus marah-marah. Menyelesaikan persoalan-persoalan dasar harus dengan kegembiraan, kenyamanan, keterbukaan,” kata Pramono saat Silaturahmi Akbar Kaum Betawi di Museum MH Thamrin, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (15/2).
Pramono menjelaskan, pendekatan tersebut telah ia terapkan dalam berbagai perayaan keagamaan dan kebudayaan di Jakarta dengan melibatkan unsur Betawi sebagai bagian dari akulturasi.
“Ketika Natalan dan Tahun Baru kemarin, ada yang namanya Christmas Carol itu yang begitu meriah diadakan di Jalan Sudirman-Thamrin. Tanpa Bapak Ibu sadari, saya meminta ada Betawinya dalam semua kegiatan,” jelas Pramono.
Ia juga mencontohkan perayaan Imlek yang turut menampilkan unsur budaya Betawi sebagai bentuk keterlibatan lintas budaya.
“Bahkan kemarin ketika membuka Imlek, tanpa orang sadar, nari dulu Betawinya,” kata dia.
Menurut Pramono, keterlibatan tersebut penting agar akulturasi budaya dapat terbangun secara alami.
“Karena apa? Enggak bakal ada akulturasi Betawi dengan Tionghoa kalau masyarakat Betawi tidak kemudian terlibat di depan,” ujarnya.
Pramono juga menyampaikan rencananya menjadikan Jakarta lebih semarak dalam menyambut Ramadan dan Idul Fitri.
“Maka itulah yang saya lakukan. Nah nanti begitu tanggal 18 Februari, Jakarta berubah menjadi menyambut Ramadan dan Idul Fitri,” ungkap Pramono.
“Enggak kalah dengan Natalan maupun Imleknya. Pokoknya saya akan membuat Jakarta jauh lebih meriah terhadap itu,” tutup dia.





