Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Singapura akan memberlakukan regulasi khusus atas penjualan produk blind box atau ”gacha” karena dianggap mirip dengan praktik perjudian.
Melansir Straits Times, Minggu (15/2/2026), Menteri Dalam Negeri K Shanmugam mengatakan menyatakan bahwa kementeriannya bersama Otoritas Regulasi Perjudian telah mengkaji persoalan produk blind box tersebut dan memutuskan untuk menetapkan persyaratan dalam mekanisme penawarannya.
Pernyataan ini merupakan jawaban atas pertanyaan anggota parlemen Dennis Tan terkait kemungkinan kewajiban pengungkapan peluang dalam produk blind box atau “gacha.”
”Aturannya sedang dirumuskan,” ungkap Shanmugam dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip Channel News Asia.
Ia mengatakan bahwa usulan Tan akan menjadi salah satu poin yang dipertimbangkan dalam perumusan regulasi.
Blind box merupakan kotak tertutup yang berisi barang koleksi acak, seperti figur, mainan, atau aksesori.
Baca Juga
- Singapura Kerek Naik Target Kapasitas PLTS Jadi 3 GW hingga 2030
- Ini Penyebab Ratusan Restoran Tutup Tiap Bulan di Singapura
- Dilirik Investor Singapura, SPRE Perkuat Pasar Lewat Kolaborasi dengan RedDoorz
Pembeli membeli blind box tanpa mengetahui barang apa yang akan mereka dapatkan, sementara peluang memperoleh item tertentu tidak selalu diungkapkan secara jelas oleh produsen.
“Usulan anggota parlemen untuk mewajibkan pengungkapan peluang dan probabilitas secara standar akan menjadi salah satu poin yang dipertimbangkan dalam penyusunan regulasi,” lanjutnya.
Berdasarkan Undang-Undang Pengendalian Perjudian, sejumlah layanan perjudian berisiko rendah, seperti undian berhadiah, dapat beroperasi di bawah skema lisensi kelas, yang tidak mewajibkan permohonan izin khusus kepada Otoritas Regulasi Perjudian.
Otoritas tersebut menyebutkan di situs resminya bahwa rincian lebih lanjut mengenai persyaratan lisensi kelas untuk mystery box akan diumumkan pada waktu mendatang.
Sementara itu, lembaga layanan sosial TOUCH Community Services sebelumnya memperingatkan bahwa aktivitas berbasis peluang seperti pembelian blind box berpotensi menimbulkan dampak negatif.
“Semakin meluasnya normalisasi permainan berbasis keberuntungan dan aktivitas seperti pembelian blind box menjadi sumber kekhawatiran yang signifikan, khususnya bagi anak-anak dan kalangan muda,” ujar Shawn Soh, konselor utama di departemen konseling dan intervensi organisasi tersebut.
Soh mengatakan praktik pembelian ini menghadirkan sensasi ketidakpastian sekaligus peluang imbalan, yang dalam waktu singkat dapat berkembang menjadi perilaku kompulsif.
“Lonjakan dopamin yang dihasilkan dari blind box mampu mengaktifkan sistem penghargaan yang sangat kuat di otak, sehingga berpotensi menimbulkan ketergantungan tinggi,” lanjutnya.
Soh menambahkan, kegagalan mendapatkan satu item langka juga dapat memicu kecemasan dan depresi pada pembeli.





