Bencana tanah bergerak yang melanda wilayah Jawa Tengah menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga. Di Kabupaten Tegal dan Kota Semarang, fenomena geologis ini memaksa warga meninggalkan tanah leluhur dan rumah mereka yang kini hancur serta tak lagi layak huni.
Salah satu kisah pilu datang dari Kakek Tariono (70), warga Desa Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal. Bersama anak dan cucunya, ia kini bertahan di pengungsian dengan trauma mendalam setelah menyaksikan rumahnya roboh akibat tanah yang tiba-tiba retak dan amblas. Desa Padasari sendiri kini masuk dalam "zona hitam" bencana, di mana lebih dari 1.500 warga mengungsi. Tercatat, dari hampir 700 rumah yang terdampak, 413 di antaranya mengalami kerusakan berat.
Baca juga:
Zona Merah Tanah Bergerak, Dua Dusun di Tegal Berubah Jadi Kota Mati
Merespons kondisi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan status tanggap darurat. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggono, yang meninjau langsung lokasi bencana, memastikan pemerintah pusat akan mempercepat proses relokasi. Lahan seluas 12 hektare di Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, telah disiapkan untuk menampung warga.
Kementerian PU menargetkan pembangunan 900 hingga 1.000 unit Hunian Sementara (Huntara) di lokasi relokasi tersebut. Dody Hanggono menjanjikan pengerjaan desain dan konstruksi akan dikebut dalam waktu tiga pekan, dengan harapan warga sudah bisa menempati hunian baru sebelum Hari Raya Lebaran.
Selain di Tegal, pergerakan tanah juga mengancam Kampung Sekip, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kerusakan infrastruktur jalan dan rumah warga terus meluas akibat kombinasi faktor geologis zona lemah, indikasi sesar aktif, serta cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang memperparah ketidakstabilan tanah.




