Pesawat Kertas Merah di Meja Belajar Itu Tinggal Kenangan...

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Sebuah pesawat kertas berwarna merah tergeletak sunyi di salah satu meja ruang kelas IV Sekolah Dasar Rutojawa, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kertas lipat itu adalah kenangan terakhir yang ditinggalkan YBS (10), sehari sebelum bocah SD tersebut memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Tak ada kata, tak ada pesan sepatah kata pun. Teman sebangku dan sekelas (tujuh orang) bahkan tak tahu jika pada Rabu (28/1/2026) itu pertemuan terakhir mereka dengan YBS. Siapa yang menyangka, Kamis (29/1/2026), YBS benar-benar pergi selamanya, meninggalkan kursi dan meja kosong di kelas.

Lipatan kertas itu tampak sederhana, tetapi ia menyimpan pesan tentang beban berat yang tak tertanggungkan dari YBS. Pesawat kertas merah yang bagian ujungnya agak sobek itu menjadi saksi bisu atas kepergian YBS. Tidak ada lagi tawa dan canda dari bocah yang juga senang bermain sepak bola itu.

Bahkan, teman-teman sekelasnya pun tidak percaya jika YBS akan mengakhiri hidupnya. Salah satu temannya mengakui kerap mendapat cerita dari YBS jika melihat hantu di belakang rumah adat yang ditinggali ibu dan kakak-kakaknya.

Namun, bagi teman-temannya itu ibarat perasaan yang biasa diceritakan anak-anak kalau menonton film horor. ”Dia cuma bilang ada lihat hantu,” ujar seorang teman sekelasnya saat bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Jumat (13/2/2026) siang.

Baik teman kelas maupun guru-guru di sekolahnya tak ada yang menyangka YBS akan memilih langkah meninggalkan dunia seperti itu, apalagi dia masih bocah berumur sepuluh tahun.

Keheningan dan duka juga terasa di rumah adat di Desa Naruwolo, Jerebuu, tempat tinggal yang diberikan kelompok adat sukunya untuk ditempati neneknya, Wilhelmina Nenu (78); bersama ibu YBS, Maria GT; dan kedua kakaknya, Ardianus (17) dan Aulita (14); serta YBS.

Namun, selama ini YBS dan neneknya kerap tinggal di pondok yang ada di kebun di desa tetangga. Biasanya YBS dan neneknya pulang ke rumah adat itu akhir pekan karena Minggu pagi ikut misa di gereja.

Baca JugaKetika Pundak Kecil Tak Sanggup (Lagi) Menanggung Beban Mental dan Kemiskinan 

Dua lilin menyala di atas sebuah meja, yang diletakkan di samping patung Bunda Maria, foto YBS, dan bunga merah di vas coklat. Sang nenek, ibu, dan dua kakaknya serta kakek (adik dari nenek) duduk tertunduk sedih, menyambut Menteri PPPA dan Bupati Ngada Raymundus Bena yang datang berkunjung.

Sang nenek saat diajak berbincang oleh Menteri PPPA mengaku tidak mengerti mengapa YBS mengakhiri hidup, karena sebenarnya permintaan YBS soal buku dan pena sudah dipenuhi neneknya. Sebelum YBS meninggal, neneknya telah membeli buku dari menjual sayur selada.

Kepedihan bahkan masih tergambar jelas di wajah sang nenek, yang mengenang YBS anak yang suka bercanda dengannya. ”YBS suka (gaya) lucu-lucu dan makan ubi,” kata neneknya pelan.

Anak merasa sendiri

Menteri PPPA yang akrab disapa Arifah pun menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian YBS dan memberikan dukungan kepada keluarga untuk melanjutkan kehidupan. Sang ibu mendapat bantuan dari Badan Zakat Daerah Ngada untuk buka usaha kecil-kecilan, sedangkan kedua kakaknya yang putus sekolah juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Ngada untuk melanjutkan sekolah.

Kematian YBS yang sampai viral sampai tingkat nasional membuat Desa Naruwolo jadi perhatian. Kepala Desa Naruwolo Dionisius Yohanes Roa menegaskan, kematian YBS bukan semata-mata karena YBS tidak mampu membeli buku, melainkan kemungkinan ada faktor lain yang harus didalami lebih jauh. ”Buktinya neneknya berjuang untuk membeli buku untuk dia (YBS),” ujar Dion.

Baca JugaAnak SD di NTT Bunuh Diri, Tinggalkan Sepucuk Surat buat Ibunya . . .

Tak hanya mengunjungi sekolah, bertemu dengan siswa dan guru YBS, Menteri PPPA dan Bupati Ngada juga berdialog dengan anak-anak dan masyarakat dan pemerintah di Desa Naruwolo, yang berjarak 1-1,5 jam perjalanan dari ibu kota Kabupaten Ngada, Bajawa.

Bagi Menteri PPPA, kematian tragis anak berusia 10 tahun ini bukanlah peristiwa spontan yang dipicu oleh masalah sepele, seperti urusan uang Rp 10.000 untuk membeli alat tulis. Namun, tindakan YBS merupakan akumulasi dari kondisi tekanan mental yang dirasakan sang anak, yang tidak bisa dilihat secara kasatmata.

Hal ini karena, secara psikologis, ada anak yang mengalami depresi tetapi mampu menyembunyikannya di balik senyuman dan aktivitas normal harian. ”Ini adalah puncak dari apa yang dia rasakan,” ujar Arifah seraya menegaskan, kepekaan keluarga dan semua pihak jadi penting.

Karena itu, semua pihak hendaklah memperhatikan pentingnya pola asuh dan kualitas komunikasi dalam keluarga. Ia menyoroti fenomena yang dialami generasi Z, yang membutuhkan dukungan kuat keluarga dan masyarakat, sehingga anak tidak merasa sendiri menghadapi masalah.

”Sebagai orang terdekat dalam keluarga, kita punya tugas besar. Memberikan pengasuhan yang benar serta peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak,” tegas Arifah. Ia mendorong adanya model perlindungan anak di Ngada yang juga melibatkan pihak gereja, dalam hal ini seperti di Ngada, perlindungan anak berbasis paroki.

Pembelajaran berharga

Bupati Ngada mengakui, tragedi YBS menjadi pembelajaran berharga bagi pemerintah daerah. Selain memberikan dukungan dan perhatian kepada keluarga YBS, Bupati juga berkomitmen untuk melakukan upaya pencegahan agar anak-anak di Ngada tidak merasa sendiri.

”Kami berkomitmen untuk mengantisipasinya ke depan dan lewat tindakan-tindakan atau bimbingan-bimbingan konseling ke tingkat bawah kepada masyarakat yang ada melalui para kepala desa dan di sekolah- sekolah,” ujar Raymundus.

Kunjungan diakhiri dengan pesan agar solidaritas antarwarga dikuatkan kembali. Pesawat kertas merah menjadi pengingat pahit bahwa di balik diamnya seorang anak mungkin tersimpan beban yang sangat berat. Pesan Menteri Arifah jelas, sebelum terlambat, mari bicara dan dengarkan anak-anak agar mereka tidak merasa sendirian saat memikul beban mental yang berat.

Pesawat kertas karya YBS mungkin tidak sempat terbang jauh, tetapi pesan yang dibawanya telah sampai ke telinga para pengambil kebijakan di negeri ini bahwa perlindungan anak bermula dari rumah, melalui komunikasi yang hangat, dan kepedulian yang tulus dari orangtua, dan lingkungannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Punya Nama Jawa tapi Belum Juga Bela Timnas Indonesia, Bek Feyenoord Ini Tak Masuk Radar PSSI?
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Hujan Deras, 3 Kecamatan di Pasuruan Terendam Banjir
• 21 menit lalurctiplus.com
thumb
Dibintangi Kim Hye Yoon, Film Horor Korea Salmokji Rilis Tanggal Tayang
• 19 jam lalubeautynesia.id
thumb
Doa Megawati di Tanah Suci: Prananda dan Puan Rukun, Jauh dari Fitnah
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Tak Hanya Imlek, Ini Daftar Peringatan pada 17 Februari 2026
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.