Bos Microsoft Ramal AI Gantikan Karyawan Kantoran dalam 18 Bulan

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Gelombang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali memicu kekhawatiran di pasar tenaga kerja global. CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, memprediksi sebagian besar pekerjaan kantoran (white collar) akan terotomatisasi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Mengutip Futurism, Senin (16/2/2026), Suleyman menyebut model AI kini berada di ambang kemampuan "setara manusia" untuk hampir seluruh tugas profesional.

"Pekerjaan white collar seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga marketing, sebagian besar tugasnya akan sepenuhnya diautomatisasi oleh AI dalam 12-18 bulan," ujarnya.


Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kecemasan investor dan pekerja terhadap dampak AI pada dunia kerja. Kekhawatiran tersebut sempat memicu aksi jual di pasar saham teknologi setelah peluncuran agen AI terbaru dari Anthropic yang dinilai mampu mengerjakan tugas profesional kompleks.

Tak hanya Suleyman, sejumlah petinggi industri teknologi juga menyuarakan peringatan serupa. CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyebut AI berpotensi menghapus hingga 50% pekerjaan entry-level white collar. Sementara CEO OpenAI Sam Altman menyatakan AI bisa menghancurkan kategori pekerjaan tertentu.

Pilihan Redaksi
  • AI Jadi Mega Proyek Abad Ini: Lebih Mahal dari Misi ke Bulan-Bom Atom
  • Film Indonesia Jadi Sorotan Asing, Disebut Bakal Setara Hollywood

Adapun menurut Suleyman, otomatisasi sudah terlihat di sektor rekayasa perangkat lunak. Banyak programmer kini menggunakan AI-assisted coding untuk menghasilkan sebagian besar kode mereka.

Microsoft sendiri mengklaim lebih dari seperempat kode perusahaan kini ditulis dengan bantuan AI. Peran engineer pun bergeser menjadi lebih strategis-fokus pada debugging, arsitektur sistem, dan implementasi produksi.

Namun demikian, sejumlah studi menunjukkan kualitas output AI masih belum sepenuhnya andal. Dalam banyak kasus, manusia tetap harus melakukan verifikasi berulang untuk memastikan akurasi dan keamanan.

Kendati demikian, meski AI dipromosikan sebagai mesin efisiensi, riset terbaru justru menunjukkan hasil yang beragam. Di beberapa bidang, penggunaan AI tidak secara signifikan meningkatkan produktivitas, bahkan berpotensi memperlambat alur kerja karena proses pengecekan ulang.

Selain itu, muncul fenomena yang disebut "AI washing", yakni praktik perusahaan yang menggunakan narasi transformasi AI sebagai justifikasi pemutusan hubungan kerja (PHK) demi efisiensi biaya.

Dengan adopsi AI yang masih relatif baru, keberlanjutan model otomatisasi penuh masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal yang pasti: transformasi pasar kerja akibat AI bukan lagi sekadar wacana, melainkan proses yang sedang berlangsung.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia kerja, melainkan seberapa cepat dan seberapa besar dampaknya terhadap jutaan pekerja profesional di seluruh dunia.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Digitalisasi Bikin Bisnis F&B RI Lebih Canggih Dari Malaysia Cs

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keshad Johnson, Sang Underdog dari Miami Heat yang Merajai Slam Dunk NBA 2026
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Berhasil Patahkan Kutukan di Pulau Dewata, Ricky Nelson Ungkap Kunci Sukses Persija Bungkam Bali United
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Bisa Menjamin Karier, Meutya Hafid Wanti-wanti Perempuan Muda Jangan Sampai Gaptek!
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Polri Tegas Proses Hukum Eks Kapolres Bima Kota: Tak Ada Impunitas!
• 22 jam laludetik.com
thumb
Khofifah Ajak Umat Siapkan Batin Sambut Ramadan
• 31 menit lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.