Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Warisan Betawi-Tionghoa yang hidup setiap menjelang Imlek.
Tradisi pasar ikan bandeng di kawasan Rawa Belong menjadi salah satu penanda datangnya Tahun Baru Imlek di ibu kota termasuk pada tahun 2026. Tradisi yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu ini bukan sekadar aktivitas jual beli musiman, melainkan juga sarat nilai sejarah, filosofi, dan makna budaya.
Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, lapak-lapak pedagang bandeng memenuhi ruas jalan di Rawa Belong. Ikan bandeng berukuran besar menjadi buruan warga, terutama dari kalangan masyarakat Betawi dan Tionghoa yang mempertahankan tradisi tersebut secara turun-temurun.
Jejak Sejarah dan Akulturasi
Tradisi pasar bandeng di Batavia sudah ada sejak abad ke-19. Saat itu, masyarakat Betawi memelihara bandeng di tambak-tambak pesisir, sementara komunitas Tionghoa memiliki tradisi menyajikan ikan utuh saat perayaan Imlek.
Interaksi dua komunitas ini kemudian melahirkan tradisi khas Betawi-Tionghoa: pasar bandeng menjelang Imlek. Rawa Belong yang dikenal sebagai kawasan permukiman Betawi berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan bandeng musiman di Jakarta.
Filosofi Ikan Bandeng saat Imlek
Dalam budaya Tionghoa, ikan melambangkan kelimpahan dan rezeki. Kata “ikan” dalam bahasa Mandarin, yu, memiliki bunyi yang sama dengan kata “lebih” atau “berlimpah”. Karena itu, menyajikan ikan saat makan malam Imlek dipercaya membawa harapan akan rezeki yang berlebih di tahun mendatang.
Bandeng dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat di wilayah pesisir Jakarta tempo dulu, bandeng dikenal sebagai ikan yang tahan hidup di berbagai kondisi air. Hal ini dimaknai sebagai simbol ketahanan, keberuntungan, dan kemampuan beradaptasi.
Masyarakat Betawi pun memaknai bandeng sebagai lambang kemakmuran. Ukuran ikan yang besar kerap menjadi simbol kebesaran rezeki dan doa agar kehidupan keluarga semakin mapan di tahun baru.
Lebih dari Sekadar Pasar Musiman
Tradisi pasar bandeng di Rawa Belong juga memiliki dimensi sosial. Warga memanfaatkan momen tersebut untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan antarkomunitas.
Secara ekonomi, pasar bandeng memberi dampak signifikan bagi pedagang lokal. Permintaan yang melonjak menjelang Imlek meningkatkan perputaran uang di kawasan tersebut.
Kini, meski Jakarta telah berkembang menjadi kota metropolitan, tradisi pasar ikan bandeng di Rawa Belong tetap bertahan. Ia menjadi pengingat bahwa perayaan Imlek di Jakarta tidak hanya tentang lampion dan barongsai, tetapi juga tentang sejarah panjang perjumpaan budaya yang membentuk identitas kota.
Tradisi ini membuktikan bahwa keberagaman di Jakarta bukan sekadar slogan, melainkan warisan nyata yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Editor: Redaktur TVRINews





