CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Denyut persiapan Ramadan mulai terasa di Pasar Terong, Senin (16/2) siang. Di antara deretan bahan pokok dan kebutuhan dapur, cincau menjadi komoditas yang paling diburu.
Penjualannya melonjak drastis dibanding hari biasa, seiring meningkatnya permintaan pedagang takjil dan minuman berbuka puasa.
Haeruddin, pedagang yang sudah 10 tahun menjajakan cincau dan aneka bahan es, merasakan langsung lonjakan tersebut. Ia tak hanya menjual eceran, tetapi memasok dalam jumlah besar untuk para langganannya.
“Menjelang Ramadan ada kemajuan penjualan karena rata-rata orang beralih semua ke jualan seperti ini kalau bulan puasa,” ujarnya saat dikonfirmasi CELEBESMEDIA.ID di lokasi.
Cincau dijual Rp5 ribu per kilogram. Jika hari biasa penjualannya relatif stabil, menjelang Ramadan ia mampu menghabiskan 50 kaleng per hari, dengan satu kaleng berisi 20 kilogram. Artinya, sekitar 1 ton cincau terjual dalam sehari.
Tak hanya cincau. Cendol yang dibanderol Rp10 ribu per kilogram juga ludes hingga 50 ember per hari, masing-masing 20 kilogram.
Kolang-kaling bahkan mencatat lonjakan paling mencolok, dari dua karung sekitar 100 kilogram di hari biasa, menjadi 50 karung atau setara 2,5 ton menjelang puasa. Harga kolang-kaling Rp30 ribu per kilogram.
Sementara itu, jelly dan sagu mutiara yang dijual Rp5 ribu per kilogram juga mengalami kenaikan signifikan.
Jelly terjual 70 wadah per harinya yang masing-masing wadah 5 kilogram, naik dari 30 tempat di hari biasa. Semnttara sagu mutiara meningkat dari satu dos isi 25 kilogram menjadi dua dos per hari.
Secara keseluruhan, modal yang diputar Haeruddin menjelang Ramadan mencapai sekitar Rp30 juta. Omzet kotor hariannya kini menyentuh Rp2 juta, melonjak hampir empat kali lipat dari hari biasa yang berkisar Rp500 ribuan.
Menurutnya, momentum Ramadan memang menggerakkan permintaan bahan baku minuman berbuka puasa. Cincau menjadi yang paling dominan.
“Momen puasa, semuanya diburu. Tapi yang paling dominan ya cincau,” katanya.
Ia menilai, selain karena tradisi es buah dan es teler yang identik dengan Ramadan, cincau juga dipercaya membantu meredakan panas dalam setelah seharian berpuasa.
Dari sisi produksi, cincau dibuat dari bahan dasar rumput ubi jalar dan sagu. Prosesnya memakan waktu sekitar satu jam, mulai dari perebusan hingga penyaringan sebelum dicetak.
Untuk pasokan, Haeruddin bekerja sama dengan produsen khusus di Benteng Somba Opu, Gowa.
Adapun cendol diproduksi dari beras dan dipasok dari Maros. Sementara jelly dan sagu mutiara diproduksi sendiri, dengan waktu pengerjaan sekitar empat jam.
Distribusi penjualannya menjangkau sejumlah titik, seperti Sungguminasa di Kabupaten Gowa, kawasan Benteng Rotterdam, hingga Toddopuli. Selain pembelian langsung di pasar, pesanan juga mengalir melalui WhatsApp dari para pelanggan tetap, termasuk ke hotel dan rumah makan.
Laporan: Rifki




