FPIR: Waspada Penunggang Gelap dalam Agenda Reformasi Budaya Polri

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR), Fauzan Ohorella, menegaskan bahwa agenda Reformasi Budaya Polri tak boleh dibajak oleh kepentingan politik tertentu yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Menurut Fauzan, reformasi Polri harus diarahkan pada pembenahan fundamental yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :
Habiburokhman: AKBP Didik Putra Kuncoro Harus Dihukum Berat
Rupiah Menguat seiring Proyeksi Berlanjutnya Pelonggaran Kebijakan Moneter

“Reformasi Budaya Polri harus mengarah pada pembenahan sistem pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kesejahteraan anggota Polri, terkhusus Bhabinkamtibmas di pelosok. Mereka adalah ujung tombak pelayanan keamanan negara,” jelas Fauzan dalam acara SpeakUp Kamtibmas, dikutip Senin, 16 Februari 2026.

FPIR di Acara SpeakUp Kamtibmas
Photo :
  • Dok. Istimewa

Ia menilai, penguatan kapasitas dan kesejahteraan anggota di lapangan jauh lebih penting dibanding narasi politis yang menyerang personal pimpinan institusi.

Fauzan juga melontarkan kritik terhadap sejumlah purnawirawan TNI yang dinilai kerap membangun narasi tendensius terhadap Polri.

“Bahwa purnawirawan seperti Gatot Nurmantyo dan Soenarko, serta lainnya, sangat naif. Kita bisa bayangkan, kalau mereka kehilangan kendaraan atau sesuatu, pasti lapor ke Polsek, bukan ke Said Didu atau Abraham Samad,” kata Fauzan.

Menurutnya, seluruh pernyataan yang menyerang Polri secara umum justru kontraproduktif dan berpotensi melemahkan stabilitas keamanan nasional.

FPIR menegaskan bahwa kritik terhadap institusi negara tetap merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara objektif dan konstruktif, bukan dengan narasi yang mengarah pada delegitimasi institusi.

Fauzan pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga stabilitas nasional dan mendukung Reformasi Budaya Polri yang berorientasi pada pelayanan publik, profesionalisme, dan penguatan integritas internal.

"Kami percaya, jika publik tidak mudah lagi terprovokasi, tetapi narasi seperti menyerang individu secara verbal seperti Gatot Nurmantyo dan Soenarko, bisa dikatakan sebagai krisis moral dan etika," pungkas Fauzan.

Sementara itu, narasumber lainnya, Habib Syakur Ali Mahdi, menilai adanya pola serangan yang terstruktur terhadap Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Ia menyebut pola tersebut memiliki kemiripan dengan serangan yang sebelumnya diarahkan kepada Presiden RI ke-7, Joko Widodo.

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo memimpin apel keberangkatan anggota Polri untuk penanganan bencana di Sumatera
Photo :
  • Istimewa

Habib Syakur menduga, isu reformasi Polri ditunggangi oleh kelompok eks simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menurutnya masih menyimpan kekecewaan dan dendam politik terhadap pemerintah dan institusi Polri.

Baca Juga :
Sosok E Bandar Narkoba dalam Kasus Eks Kapolres Bima AKBP Didik Putra Kuncoro Diburu
Sidang Etik Eks Kapolres Bima AKBP Didik Putra Kuncoro Terkait Kasus Narkoba Digelar 19 Februari
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Ngerjain Lawan Politik!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aparat Perkuat Pengamanan dan Kejar Pelaku Penembakan Pilot
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Utang Setinggi Gunung Uhud Insyaallah Lunas, Kata Ustaz Adi Hidayat Coba Baca Doa ini Dibarengi Usaha
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Pramono Siap Bangun RS Internasional Kanker dan Jantung di Lahan Sumber Waras
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Berhasil Patahkan Kutukan di Pulau Dewata, Ricky Nelson Ungkap Kunci Sukses Persija Bungkam Bali United
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Gelombang Penghentian Proyek Melanda Grup Konstruksi. BUMN Raksasa Beijing Bernilai Ratusan Miliar Dikabarkan “Seluruh Karyawan Dirumahkan”
• 5 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.